Mufasir Abdullah Yusuf Ali: Alquran Pelipur Lara

 Mufasir Abdullah Yusuf Ali: Alquran Pelipur Lara

Abdullah Yusuf Ali (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Dari mahirnya para mufasir dalam menafsirkan Alquran dan menerjemahkannya, tidaklah terlepas dari ujian-ujian yang berat dalam hidupnya. Salah satunya yang kita tahu ialah Hamka, yang pernah merasakan hidup di penjara.

Berkat ujian inilah, Hamka melanjutkan penulisan kitab tafsirnya (Tafsir al-Azhar) yang sekarang menjadi rujukan bagi para ilmuwan dan akademisi.

Dalam pembahasan ini, penulis akan mengenalkan sosok yang sangat sabar dalam menghadapi ujian hidupnya. Mungkin namanya jarang didengar oleh masyarakat karena ia berasal dari India dan mengabdi hidupnya pada masyarakat Barat.

Lalu siapakah yang dimaksud? Seorang mufasir Barat yang kitab tafsirnya menjadi salah satu rujukan di Barat yaitu Abdullah Yusuf Ali.

Mengapa menjadi penting untuk dibahas? Sebab, selain karya-karyanya yang menjadi rujukan dan banyak mewarnai dunia keislaman, Yusuf Ali juga seorang mufasir yang telah move up dan fight dalam menghadapi semua ujian dalam hidupnya.

Perjalanan Hidup Yusuf Ali

Yusuf Ali seorang politikus, tokoh publik yang hebat dan sastrawan terkemuka. Namun siapa sangka dibalik kehebatannya, ia ditinggalkan keluarganya dan karirnya.

Abdullah Yusuf Ali dilahirkan di Surat, sebuah kota tekstil di Gujarat, India Barat, 4 April 1920. Yusuf Ali cukup dikenal sebagai panutan seorang Bohra Dawudi, seorang anak dari Yusuf Ali Allabuksh.

Ia menikah pada usia cukup muda dengan wanita Inggris yang berbeda agama, suku dan negara yang bernama Teresa. Dari sinilah Yusuf Ali banyak menghadapi masalah dalam hidupnya.

Ia telah memiliki putera dari pernikahannya dengan Teresa. Namun sangat menyakitkan ketika ia melihat istrinya mengkhianatinya dengan lelaki lain yang saat itu sedang mengandung anak dari Yusuf Ali.

Disaat bersamaan anak-anaknya meninggalkan Yusuf Ali hidup sendiri karena mereka merasa bahwa Yusuf Ali sangatlah sibuk dan mementingkan karirnya. Mereka pun merasa tidak mendapatkan kasih sayang dan cinta seorang bapak, bahkan waktu untuk keluarga sangatlah sedikit dan bisa dibilang tidak ada.

Atas kejadian ini, Yusuf Ali merasa hancur, namun pengalaman itu tidak berarti apa-apa baginya. Yusuf Ali kembali menikah dengan wanita Inggris untuk kedua kalinya dan berakhir dengan pengalaman yang sama.

Yusuf Ali ditinggalkan sendiri, hingga akhirnya Yusuf Ali memutuskan untuk keluar dan berhenti dari karir yang telah membesarkannya. Hari demi hari kondisinya yang memburuk sehingga Ia jatuh sakit dan meninggal di St stephen’s, rumah sakit di Fulham pada 10 Desember 1953. Ia dimakamkan di kompleks Pemakaman Brookwood di Surrey.

Alquran sebagai Pelipur Lara

Setelah berbagai ujian yang menimpanya, Yusuf Ali akhirnya lebih memperdalam ilmu agama dan bahasa arab, dan saat itu ia menemukan Alquran sebagai pelipur laranya. Alquran dapat mengobati hatinya dan menjadi tuntunan dalam hidupnya.

Inilah awal mula Yusuf Ali jatuh cinta pada Alquran dan menafsirkan, serta menerjemahkannya dengan judul “The Holy Qur’an” Pada kitab tafsirnya, Yusuf Ali menuangkan seluruh kesedihannya dan alasan mengapa ia menafsirkan Alquran yang terdapat pada pendahuluan di kitab ini.

Jika dilihat pada corak tafsirnya, Yusuf Ali dalam menafsirkan ayat-ayat kosmologi. Ia lebih menekankan pada makna batinnya, bisa dibilang tafsir sufi karena ia ingin mengungkap makna batin dari ayat tersebut dengan menekankan gaya bahasa.

Menariknya, tafsir ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris guna mengungkapkan makna dalam Alquran menurutnya. Kitab tafsir ini pun mashur dan menjadi rujukan masyarakat Barat karena salah satu visi dan misinya ialah ingin memperkenalkan Islam pada masyarakat Barat dan menarik mereka untuk cinta pada Islam.

Yusuf Ali seorang mufasir yang sangat toleran pada agama. Ia sangat menghormati agama lain karena menurutnya agama adalah hak milik pribadi. Hal ini terlihat ketika ia menikah dengan wanita Inggris yang berbeda agama.

Dari pengalaman Yusuf Ali, dapat kita pahami bahwa pemikiran seorang mufasir dapat dipengaruhi dengan historisnya. Bagaimana kisah hidupnya dan kondisi sekitarnya saat itu.

Dapat digaris bawahi Yusuf Ali kembali pada Alquran dan mengikhlaskan semua yang telah terjadi pada hidupnya. Oleh karenanya ia dapat bangkit dan menciptakan karya yang sangat luar biasa. Wallahu a’lam.

Ulfa Nur Azizah

Mahasiswa Tafsir

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twenty − 11 =