Percaya Dirinya Muslim yang Berlebihan, Bolehkah dalam Islam?

 Percaya Dirinya Muslim yang Berlebihan, Bolehkah dalam Islam?

Keajaiban Intelektual Imam Ibnu Hajar: Sebuah Eksplorasi Kecerdasan dan Dedikasi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Dr. Labib menulis, “Tidak masalah kalau Anda Asy’ariy. Sementara orang lain Atsariy atau Maturidiy karena kita semua adalah muslim, dan masing-masing ada benar dan salahnya.”

Apa yang Anda tangkap dari kalimat tersebut? Saya pribadi menangkap kelapangan dada, keluasan pikiran, penerimaan terhadap perbedaan dan pengakuan bahwa dalam setiap kelompok ada benar dan salahnya.

Menariknya, ia juga menyebut ‘Atsariy’, yang biasa di-aku oleh kalangan salafi. Padahal ia sendiri sering diserang oleh mereka tapi hal itu tidak membuatnya ‘menyingkirkan’ mereka dari kategori ‘nahnu muslimun’.

Saya menduga, banyak yang memiliki pemahaman yang sama dengan saya, tapi tidak demikian dengan Ustaz A. Ia menilai tulisan ini sebagai bala`, dan sebagai bentuk ketidaktegasan terhadap penyimpangan dalam masalah akidah.

Sebenarnya tidak terlalu mengherankan pandangan itu muncul dari beliau dan orang-orang yang mengamininya. Sebab mereka mungkin tidak mengakui –atau tidak mengetahui- bahwa perbedaan dalam manhaj akidah tidak berarti harus saling menyalahkan.

Masalah akidah itu tidak semuanya bersifat ushul, melainkan ada yang bersifat furu’. Munculnya Asya’irah, Maturidiyyah, Atsariyyah dan sebagainya bukan karena mempertentangkan hal-hal pokok (ushul) dalam akidah di rukun iman yang enam.

Akan tetapi dalam furu’-furu yang memang terbuka ruang untuk perbedaan pendapat, maka sesungguhnya mengakui bahwa dalam berbagai kelompok dan firqah. Itu ada sisi benar dan salahnya merupakan pandangan yang adil dan objektif, bukan sebuah ketidaktegasan seperti yang ditulis Ustaz A.

Kebenaran Bukan Hanya Milik Kelompok Sendiri

Memang tidak mudah menerima fakta bahwa setiap kelompok ada benar dan salahnya kalau seseorang hanya membaca buku-buku karya ulama dalam kelompoknya saja. Memang tidak mudah menerima fakta bahwa dalam kelompok lain pun ada kebenaran kalau seseorang sudah diwanti-wanti untuk tidak membaca buku ini dan itu.

Bahkan ada buku khusus yang ditulis untuk itu : كتب حذر منها العلماء. Memang tidak mudah menerima fakta bahwa dalam kelompok lain pun ada kebenaran kalau seseorang terlalu pede –bahkan sampai ke tingkat ghurur- dengan apa yang diketahuinya selama ini.

Apa yang ditulis Dr. Labib tersebut sesungguhnya adalah ruh Islam yang menyatukan, tidak memisahkan. Merekatkan, tidak mencerai-beraikan; merangkul, tidak memukul; menyejukkan, tidak mengeruhkan.

Ketika ilmu seseorang semakin dalam, pengetahuannya semakin luas, bacaannya semakin beragam, maka cakrawala berpikirnya juga akan semakin luas dan lapang. Ia akan lebih menghargai perbedaan.

Ia siap dan bisa memahami setiap pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya. Ia lebih terbuka dengan pendapat yang berbeda dengan pendapatnya.

Kenapa? karena ia punya prinsip apa yang menurutnya kebenaran boleh jadi bukan kebenaran. Ia mungkin saja tertipu oleh kemasan, cara penyajian dan retorika. Ketika ilmunya bertambah dan bacaannya beragam, apa yang dulu dilihatnya sebagai sebuah kebenaran bisa jadi tidak lagi demikian, atau setidaknya ada bagian-bagian yang perlu ia kaji ulang.

Kalau begitu apakah ia menjadi orang yang tidak berprinsip? Tidak karena ia bisa membedakan mana yang bersifat qath’iy (aksiomatik) yang tidak bisa ditawar-tawar, dan mana yang bersifat zhanniy di mana terbuka ruang untuk salah dan benar.

Imam al-Ghazali dan Maulana Jalaluddin ar-Rumi

Kalau kalimat Dr. Labib itu saja sudah sangat ‘mengganggu’ bagi Ustaz A, apalagi kalau ia membaca kalimat Imam al-Ghazali. Dalam kalimatnya, Imam al-Ghazali menyatakan bahwa mayoritas kaum Nasrani Romawi dan Turki tidak sampai dakwah Islam kepada mereka.

Bisa juga, atau sampai namun dalam bentuk yang tidak memotivasi untuk dikaji (لا يحرك داعية النظر فى الطلب), mereka itu :

تشملهم الرحمة إن شاء الله

“Mereka insya Allah mendapat rahmat.”

Atau, bagaimana pula kalau ia membaca ungkapan Maulana Jalaluddin ar-Rumi :

إن قلبي مثل الفرجار ، رجل ثابتة فى أرض الشريعة والأخرى تدور على اثنين وسبعين ملة

“Hatiku ibarat jangka ; satu kaki berdiri kokoh di bumi syariat, sementara kaki yang lain berputar di tujuh puluh dua agama.”

Diceritakan bahwa kalimat tersebut sampai ke telinga seorang ulama. Ia lalu datang menemui ar-Rumi untuk memastikan betulkah ia yang mengatakannya. Ar-Rumi mengakuinya.

Tidak pakai lama, langsung saja ia melayangkan cacian, makian dan sumpah-serapah pada ar-Rumi. Ia bahkan mengkafirkan ar-Rumi.

Mendengar cacian dan pengkafiran itu, ar-Rumi hanya tersenyum lalu berkata :

وقلبي يتسع لك أنت أيضا

“Hatiku pun juga lapang untukmu.”

Mukmin Berhati Lapang

Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak berhati lapang, sementara ia selalu membaca :

الحمد لله رب العالمين

“Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.”

Allah bukan hanya Rabb saya, kelompok atau komunitas saya. Dia adalah Rabb untuk seluruh alam, baik yang mengakui Dzat-Nya maupun yang tidak, baik yang menyembah-Nya maupun mengingkari-Nya, baik yang patuh maupun yang durhaka.

Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak berhati lapang. Sementara ia berusaha meneladani sosok mulia yang diutus bukan hanya sebagai rahmat bagi diri dan kelompoknya, melainkan bagi semesta alam :

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

“Tidaklah Kami utus engkau melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Untuk mengukur sejauh mana kita atau kelompok yang kita ikuti sejalan dengan ruh Islam, cukup lihat apakah ia luas seperti luasnya Islam ataukah sempit, terbatas dan tertutup. Semakin ia membatasi diri semakin ia merasa paling benar dan tidak mampu melihat kebenaran kecuali yang ada dalam kelompoknya atau datang dari tokoh-tokohnya.

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *