KH Ahmad Sanusi, Ulama Top Nusantara dari Tatar Sunda

 KH Ahmad Sanusi, Ulama Top Nusantara dari Tatar Sunda

KH Ahmad Sanusi (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dari sekian banyak daftar ulama-ulama top Tatar Sunda, sosok KH. Ahmad Sanusi Sukabumi tampaknya tak bisa dipandang sebelah mata. Ia merupakan ulama Tatar Sunda yang memiliki kontribusi besar dalam perkembangan intelektual Islam di Nusantara.

Salah satu sumbangan intelektual ulama ini adalah ia melahirkan karya menarik yakni “Hidâyah al-Bârî fî Bayân Tafsîr al-Bukhârî”. Di mana Kitab “Hidâyah al-Bârî” merupakan syarah dan terjemah dari kitab hadits “Shahih Bukhari” berbahasa Sunda aksara Arab (Sunda Pegon).

Selain sebagai dikenal sebagai seorang ulama hebat, sosok KH. Ahmad Sanusi Sukabumi adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan RI. Kiprahnya dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Ia wafat pada tanggal 31 Juli 1950 di Gunungpuyuh, Sukabumi.

Pakar filologi Islam, A. Ginanjar Sya’ban menjelaskan bahwa dalam bentangan narasi besar sejarah peradaban Islam di Tatar Sunda, sosok KH. Ahmad Sanusi tercatat memiliki peran penting dalam mengembangkan tradisi intelektual Islam di wilayah tersebut. Khususnya pada paruh pertama abad ke-20 M.

“Di antara sejumlah ulama Tatar Sunda yang hidup di kurun masa tersebut, KH. Ahmad Sanusi adalah yang paling produktif menulis sejumlah karya,” ungkap Ginanjar dalam catatannya di akun Facebooknya dilansir, Kamis (12/8/2021).

Karya-karya KH Ahmad Sanusi

Tercatat lebih dari 120 buah karya yang ditulis oleh KH. Ahmad Sanusi. Mayoritas karya-karyanya berbahasa Sunda aksara Arab (Sunda Pegon).

“Martin van Bruinessen dalam “Kitab kuning: Books in Arabic Script Used in the Pesantren Milieu; Comments on a New Collection in the KITLV Library” (1990: 237) menyebut karya-karya yang ditulis oleh KH. Ahmad Sanusi sebagai “satu dari tiga karya orisinal ulama Sunda”,” jelasnya.

Bidang kajian yang digarap oleh beliau dalam karya-karyanya meliputi pelbagai disiplin keilmuan Islam, seperti tafsir al-Qur’an, hadits, fikih, tauhid, tasawuf dan lain-lain. Dalam bidang tafsir al-Qur’an, misalnya, KH. Ahmad Sanusi menulis sembilan buah karya, tiga di antaranya yaitu “Raudhah al-‘Irfân”, “Tamsyiyyah al-Muslimîn”, dan “Malja al-Thâlibîn.

“Karya-karya yang ditulis oleh beliau juga mencerminkan ideologi keislamannya yang berhaluan tradisionalis, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja),” kata Ginanjar.

Ideologi KH. Ahmad Sanusi

Ideologi KH. Ahmad Sanusi ini disebutnya terafiliasi dengan konsep pemikiran Imam al-Asy’arî atau Imam al-Mâturîdî dalam teologi (akidah), Imam al-Syâfi’î atau imam madzhab empat lainnya dalam yurisprudensi (fikih), serta Imam al-Ghazzâlî dan ulama besar tasawuf lainnya dalam esoterisme (akhlak).

“Melalui karya-karyanya pula, KH. Ahmad Sanusi mengungkapkan penolakannya terhadap ideologi Islam puritan yang berhaluan modernis dan tidak memiliki afiliasi konsep pemikiran dalam pemahaman teologis, yurisprudensi dan esotetisme Islam,” sambungnya.

Ginanjar menambahkan, meski dalam kapasitasnya sebagai seorang ulama besar, namun sikap kerendah hatian KH. Ahmad Sanusi dan keluhuran budinya dapat dirasakan dalam sebagian besar karya-karyanya.

“Dalam kitab “Hidâyah al-Bârî” yang telah kita diskusikan di muka, misalnya, KH. Ahmad Sanusi tak segan-segan untuk meminta do’a dari para pembacanya agar karya tersebut dapat bermanfaat bagi umat Muslim dan dapat diterima di sisi Allah Ta’ala,” tandasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × 5 =