Gus Nadir: Al-Fatihah Bukan Saja Dibaca Berulang, Tapi Pemahamannya Juga Harus Diulang Agar Menyelami Rahasianya

 Gus Nadir: Al-Fatihah Bukan Saja Dibaca Berulang, Tapi Pemahamannya Juga Harus Diulang Agar Menyelami Rahasianya

Gus Nadir

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Cendekiawan muslim Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) menjelaskan bahwa pemahaman berulang terhadap surat al-Fatihah penting dilakukan agar bisa menyelami rahasia yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, selain dibaca berulang-ulang dalam shalat, pemahaman terhadap surat ini pun juga perlu dilakukan secara berulang-ulang.

“Tujuh ayat dalam surat Al-Fatihah bukan saja kita ulang minimal 17x sehari semalam saat shalat fardhu, tetapi pemahaman kita juga harus selalu diulang-ulang agar bisa terus menyelami rahasianya,” tulis Gus Nadir dalam postingan di akun Instagram pribadinya @nadirsyahhosen_official dikutip Kamis (9/5/2024).

Dalam postingannya tersebut Gus Nadir mengunggah penjelasan terkait bagaimana pemahaman terhadap surat al-Fatihah.

Ar-Rahmanir Rahim. Maliki Yaum al-Din. Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in.

Sesungguhnya ilmu Tasawuf menurut Gus Nadir, merupakan perwujudan dari ayat “ar-Rahman al-Rahim” dalam ayat ketiga surat al-Fatihah. Sedangkan ilmu Syari’at itu perwujudan dari ayat “Maliki Yaum al-Din” dalam ayat keempat surat al-Fatihah.

“Itu sebabnya kajian ilmu Syari’ah berujung pada dosa dan pahala serta surga dan neraka, sementara Tasawuf lebih bicara aspek kasih sayang ilahi,” jelasnya.

Dalam sejarah pergolakan umat, lanjut dia, kedua kajian ini sering dipertentangkan. Banyak sufi yang mendapat vonis sesat oleh para ahli hukum Islam. Banyak pula yang begitu alergi mendegar kata Tasawuf. Oleh sejumlah ulama, Tasawuf bukan saja dianggal keluar dari pakem ilmu Syari’ah, tetapi juga dianggap telah menjadi biang keladi kemunduran umat Islam.

“Saya tentu tidak akan mempertentangkan ilmu Syari’ah dan Tasawuf. Bagi saya, itu seperti membenturkan ayat “al-Rahman al-Rahim” dengan “Maliki Yaum al-Din”. Lha, dua-duanya kan ayat Allah,” ujarnya.

“Bagaimana kalau kita lanjutkan saja ke ayat berikutnya? “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”,” sambungnya.

Menurut Gus Nadir, seorang faqih dan sufi itu harus melewati ayat ini. Kalau Allah itu hanyalah yang diibadahkan (iyyaka na’budu) maka kita membutuhkan Syari’at saja. Segala macam aturan dan tata cara ritual peribadatan dikupas tuntas oleh Syari’ah.

“Namun potongan ini ada kelanjutannya: wa iyyaka nasta’in. Ini potongan ayat untuk para sufi: Allah-lah tempat kami memohon pertolongan. Dimensi mistis Islam muncul di sini,” jelasnya.

Nah, karena ayat ke-5 surat al-Fatihah ini menggabungkan keduanya: aspek ritual dan mistis sekaligus, maka sebenarnya ilmu Syari’ah dan Tasawuf harus berjalan bersama melewati ayat kelima ini.

Para ulama Fiqh yang semata-mata mengandalkan ritual, akan mentok pada iyyaka na’budu. Sedangkan para ulama Tasawuf yang seolah melompati Syari’ah dan langsung masuk ke dalam ma’rifatullah dengan membaca iyyaka nasta’in, seolah melompati potongan ayat ini.

Ada jarak tak terkira antara iyyaka na’budu dan iyyaka nasta’in. Yang gagal melewatinya akan dipaksa kembali pada titik Bismillah. Tak bisa melanjutkan ayat berikutnya.

Maka sulit sekali melanjutkan untuk menyelesaikan pembacaan surat al-Fatihah, bagi yang tak memahami rahasia ini.

“Berulangkali kita dikembalikan pada titik Bismillah. Berulangkali kita diminta mengulangi pemahaman kita. Itu sebabnya al-Fatihah disebut sebagai sab’ul matsani (tujuh ayat yang berulang) dalam QS. al-Hijr ayat 87. Bukan sekedar ayatnya diulang bacaannya tapi pemahaman kita pun harus diulang agar bisa menyelami rahasianya,” tandasnya. []

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *