Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Menyoal Tuhan Buatan Manusia (?)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Bagi para ateis, Tuhan tidak lebih dari sekedar gagasan buatan manusia. Sebab itu mereka berkata bahwa Tuhan adalah buatan manusia, bukan manusia buatan Tuhan. Nalar ini tidak hanya menggelikan tetapi juga menunjukkan bahwa pengucapnya sama sekali tidak menggunakan nalar. Meskipun Tuhan tidak berkenan dilihat di dunia, namun argumen teologis para ahli kalam […]Read More

Nisbat Wahabiyah kepada Abdul Wahhab bin Rustam

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Ada hiburan menarik yang disuguhkan sebuah website wahabi besar sebagaimana di tangkapan layar. Saya rasa perlu lah ini dimunculkan supaya anda juga terhibur. Sebagaimana maklum bahwa nama “Wahabiyah” adalah gerakan yang dinisbatkan pada Muhammad bin Abdil Wahhab. Buktinya banyak, termasuk dari sumber otentik milik wahabi sendiri. Namun dalam rangka menyembunyikan sejarah, kawan-kawan wahabi […]Read More

Inilah Perbedaan antara Silaturrahmi dan Ziarah

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Kata “rahmi” dalam frasa Silaturrahmi sebenarnya merujuk pada makna mahram alias keluarga inti yang dilarang saling menikah. Jadi, silaturahmi berarti menyambung kontak dengan mahram, seperti kedua orang tua, kakek-nenek, paman dan bibi kandung serta saudara kandung dan keponakan kandung. Hukum silaturahmi adalah wajib kecuali ada uzur. Termasuk uzur menurut ulama Malikiyah adalah ketika […]Read More

Sebuah Mimpi Masuk Surga

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Sebelum tidur, saya melihat video orang yang sudah berhari raya kemarin sebab katanya sudah menelpon Allah Ta’ala langsung. Setelah menertawakannya, saya pun tidur dan bermimpi masuk surga. Ceritanya, setelah banyak drama kesulitan macam-macam yang membuat tubuh capek, akhirnya saya diantar masuk ke surga yang tertinggi yang ceritanya kami berada di sebuah ruang yang […]Read More

Pemaknaan Sabilillah dan Nalar Kapitalisme

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Saya berulang kali menulis bahwa pemaknaan sabilillah sebagai sabilul khair adalah pemaknaan yang sangat lemah sehingga tidak dipakai sebagai acuan resmi dalam empat mazhab. Kelemahan utamanya adalah pemaknaan sabilillah ini dapat menggugurkan kriteria delapan kelompok penerima zakat. Ketika ayat at-Taubah ayat 60 yang menyatakan dengan jelas bahwa yang berhak menerima zakat HANYA […]Read More

Pajak Penghasilan yang Diberi Judul Zakat

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Perhitungan zakat profesi ala Baznas, dan sayangnya juga diamini oleh MUI, sebagaimana diterangkan oleh detik ini sama sekali tidak punya dasar secara fikih. Harta yang dianggap wajib zakat dihitung brutonya yang berarti: – Uang untuk makan-minum sekeluarga kena zakat – Uang untuk beli baju menutup aurat kena zakat – Uang untuk bayar […]Read More

Memaafkan Itu Tidaklah Wajib

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, tradisi umum di Indonesia terdapat tradisi untuk saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Tetapi, apakah memaafkan itu suatu kewajiban? “Aku kan sudah minta maaf, ya udah urusanku sudah selesai. Tinggal urusanmu sama Tuhan kalau nggak mau memaafkan” “Yang penting aku sudah minta maaf, terserah dia mau memaafkan atau tidak”. […]Read More

Perbedaan antara Waktu Shalat dan Waktu Puasa

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Jika Anda kerap bertanya mengenai sebenarnya apa perbedaan antara waktu shalat dengan waktu puasa? Maka silakan simak tulisan berikut ini. Tentang shalat, Allah berfirman: أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّیۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودࣰا Artinya: “Laksanakanlah salat karena matahari tergelincirnya matahari sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. […]Read More

Inilah Perbedaan antara Membaca dan Melihat

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Dalam bahasa Indonesia, membaca dan melihat mempunyai irisan kesamaan makna di mana membaca sering juga dimaknai sebagai “melihat tulisan.” Apabila ada ungkapan “membaca buku”, maka dalam tradisi Indonesia biasanya maknanya adalah melihat tulisan di buku tanpa mengucap kan satu katapun. Namun tidak demikian dalam tradisi bahasa Arab. Kata qara’a – yaqra’u – […]Read More