Tipe-tipe Pencari Ilmu Menurut Kitab Bidayatul Hidayah

 Tipe-tipe Pencari Ilmu Menurut Kitab Bidayatul Hidayah

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Ilmu merupakan suatu hal yang harus dimiliki bagi setiap manusia karena dengan ilmu kita akan bisa membedakan antara hak dan yang batil. Mencari ilmu tidaklah sulit , yang sulit ialah dalam menjalankan atau mengamalkan ilmu yang sudah kita dapat.

Misalnya dalam kasus salat berjemaah. Kita semua tahu bahwa keutamaan salat berjemaah lebih besar daripada salat munfarid (sendirian). Tetapi apakah kita sudah melaksanakannya.

Adapun ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa mengajak orang lain, khususnya kepada diri kita sendiri, untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, agar ilmu yang kita dapatkan bermanfaat, tidak berat mengamalkannya, kita harus memilih guru yang tepat supaya tidak tersesat di kemudian hari.

Selain hal-hal yang telah disebutkan, dalam mencari ilmu, menurut Kitab Bidayatul Hidayah manusia dikelompokkan menjadi 3 tipe. Tipe yang manakah Anda? Inilah tipe-tipe manusia dalam mencari ilmu yang penulis rangkum untuk Anda.

Orang yang Ikhlas Mencari Ilmu

Manusia jenis ini dalam mencari ilmu bukan sebab apa pun kecuali murni mengharapkan ridha Illahi. Orang Ini termasuk tipe yang beruntung, tapi dalam mengaplikasikannya sangatlah sulit. Sebab banyak halangan dan rintangan dalam mencari ilmu murni untuk mendapat ridha Allah.

Di zaman sekarang ini banyak manusia yang hafal Alquran dan hadis-hadis, namun masih banyak pula yang menggunakannya untuk mencari ketenaran semata. Bahkan digunakan khusus sebagai mata pencaharian untuk kehidupan sehari-hari. Padahal dalam islam itu termasuk dalam katagori menjual agama.

Bukan hanya digunakan untuk mencari kekayaan semata, banyak juga yang salah niat di awal. Seperti halnya menghafalkan Alquran untuk bisa masuk ke Universitas ataupun perguruan yang terkenal dan supaya mendapatkan beasiswa tahfidz. Hal itu ditujukan agar dalam kuliah mendapat dispensasi dalam pembayaran SPP dan lainnya.

Lain halnya dengan mereka yang memang secara ekonomi kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi, namun berbekal kemampuannya dalam menghafal Alquran maupun hadis semakin besar peluangnya untuk mendapatkan beasiswa berprestasi. Atau, setidaknya ada perantara Allah, yaitu seseorang yang kemudian memfasilitasi biaya kuliahnya.

Biasanya, jarang sekali orang yang seperti itu, dan itulah golongan orang yang ikhlas dalam mencari ilmu, dalam hal ini ilmu agama yakni Alquran dan hadis. Mereka pun dalam kesehariannya lebih pandai mengaplikasikan apa yang dihafalnya tersebut.

Mencari Ilmu untuk Kemuliaan dan Harta

Ada pula seseorang yang menuntut ilmu guna dimanfaatkan dalam kehidupannya di dunia sehingga bisa memperoleh kemuliaan, kedudukan dan harta. Orang dalam tipe ini, berarti ia tahu dan sadar bahwa keadaannya lemah dan hina sehingga ia harus berusaha dengan ilmu.

Orang tipe ini termasuk ke dalam kelompok yang beresiko. Jika ajalnya tiba sebelum sempat bertaubat, yang dikhawatirkan adalah pada saat meninggal dalam keadaan tidak baik (su’ul khatimah). Naudzubillahhi mindzalik.

Pencari Ilmu yang Terpedaya Setan

Orang jenis ini akan mempergunakan ilmunya sebagai sarana untuk memperbanyak harta, serta untuk berbangga dengan kedudukannya. Ia akan menyombongankan diri dengan besarnya jumlah pengikutnya.

Ilmunya menjadi tumpuan untuk meraih sasaran duniawi. Biasanya tipe kelompok ini seolah-olah dakwah menjadi semuber keuangan bagi kehidupannya. Berbeda dengan tipe pertama, yang murni ikhlas sebab mencari ridha Allah.

Orang dengan tipe ketiga ini termasuk golongan yang binasa, dungu, dan tertipu dalam mencari ilmu. Ia sangat sulit untuk diharapkan bertobat karena tetap beranggapan bahwa dirinya adalah orang baik.

Dalam kitab-Nya, Allah SWT berfrman, “Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan” (Q.S. ash-Shaff: 2)

Ibnu Abbas berkata: Dahulu sebelum diwajibkan jihad, sebagian orang-orang beriman berkata: “Kami berharap Allah memberitahu kami amal yang paling Dia cintai agar kami dapat menjalankannya.”

Namun setelah Allah memberitahu mereka bahwa amal yang paling Dia cintai adalah jihad, ternyata mereka enggan melakukannya dan merasa berat untuk menjalankan perintah-Nya itu. Maka turunlah ayat ini.

Rasulullah bersabda, “Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian kitimbang Dajjal. Para Sahabat kemudian bertanya. Apa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab ‘Ulama su’ (buruk). Sebab, Dajjal bertujuan menyesatkan, sedangkan ulama’ ini, walaupun lidah dan ucapannya memalingkan manusia dari dunia, tapi amal perbuatan dan keadaanya mengajak kesana.”

Padahal, realitanya lebih berbekas dibandingkan ucapan karena banyak di zaman sekarang siapa pun bisa menjadi seorang pendakwah. Benar seperti yang di ucapkan oleh Gus Dur.

“Nanti bakal ada masa, dimana bukan jebolan atau lulusan pesantren dipanggil ustaz. Kerusakan yang ditumbulkannya lebih banyak daripada kebaikan yang disebabkan oleh ucapannya karena secara tidak langsung orang-oarang akan terdoktrin oleh ucapan-ucapanya,” begitu kata Gus Dur dikutip dari Tribunnews.com.

 

Kholil Chusyairi

https://hidayatuna.com

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta dan Reporter di Intis Pers

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × five =