Futuh: Hal yang Lebih Penting dari Sekedar Ilmu

 Futuh: Hal yang Lebih Penting dari Sekedar Ilmu

Kisah Kebaikan Seorang Sufi kepada Seekor Kucing (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Dalam kitab Mughni al-Labib, Ibnu Hisyam berkata:

إِن النكرَة إِذا اعيدت نكرَة كَانَت غير الأولى وَإِذا أُعِيدَت معرفَة أَو أُعِيدَت الْمعرفَة معرفَة أَو نكرَة كَانَ الثَّانِي عين الأول

Artinya:

“Nakirah jika diulang dalam bentuk nakirah berarti ia berbeda dengan yang pertama, tapi jika diulang dalam bentuk ma’rifah, atau ma’rifah diulang dalam bentuk ma’rifah atau nakirah berarti yang disebutkan kedua itu adalah yang pertama juga.”

Intinya, kalau nakirah diulang kembali berarti ia dua hal yang berbeda. Contoh yang paling populer adalah ayat dalam Surah Al-Insyirah:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

Karena kata يُسْرًا berbentuk nakirah dan diulang kembali pada ayat berikutnya maka يُسْرًا yang kedua bukanlah يُسْرًا yang pertama. Artinya ada dua يُسْرًا  ‘kemudahan’ dalam hal ini.

Karena itulah Rasulullah saw bersabda:

ولن يغلب العسر يسرين

Artinya: “Satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan dua kemudahan.”

Demikian kaidahnya.

Tapi kaidah ini menjadi musykil ketika diterapkan pada ayat:

وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ … (الزخرف 84)

Artinya: “Dan Dia yang di langit Tuhan dan di bumi Tuhan…”

Kata إِلَهٌ dalam ayat ini disebutkan dalam bentuk nakirah dan disebutkan dua kali. Jika melihat kaidah di atas berarti إِلَهٌ yang kedua berbeda dengan إِلَهٌ yang pertama.

Lalu apakah berarti ada dua Tuhan?

Ketika menafsirkan ayat 84 Surah Az-Zukhruf ini Syekh Sya’rawi menceritakan sebuah pengalaman yang luar biasa.

Saat itu ia berada di Masjid al-Ahmadi (masjid Sayyid Ahmad Badawi) di Thantha – Mesir.

Di saat yang sama, Syekh Mahmud Syaltut yang saat itu menjabat Syaikhul Azhar juga berkujung ke masjid tersebut.

Tiba-tiba seorang dosen tafsir bernama Abu al-‘Ainain datang ke masjid. Ia segera menemui Syekh Mahmud Syaltut.

Ia berkata, “Untung Tuan datang. Saya ditanya tentang tafsir satu ayat dalam surat az-Zukhruf, “Dan Dia yang di langit Tuhan dan di bumi Tuhan…”

Bukankah kaidahnya, kalau nakirah diulang kembali berarti yang kedua berbeda dengan yang pertama.

Kalau begitu berarti ada dua tuhan, satu di langit dan satu di Bumi?”

Syekh Syaltut menjawab, “Engkau kan tahu bahwa kaidah itu bersifat aghlabiyyah (ada pengecualian-pengecualiannya).”

Syekh Sya’rawi menyangggah, “Mereka mengatakan aghalabiyyah karena ada ayat ini (sebagai sebuah pelarian).”

Saat mereka sedang berdiskusi itu, tiba-tiba saja muncul seseorang yang tampak asing. Tak satupun dari ketiga ulama ini mengenalnya.

Secara spontan orang itu berkata, “Wahai para ulama, kenapa kalian melupakan isim maushul?” Setelah itu orang tersebut pergi dan menghilang begitu saja.

Ketiga ulama ini terdiam. Lebih setengah jam mereka tak bisa berkata-kata.

Siapakah orang yang datang itu? Darimana ia tahu apa yang sedang mereka diskusikan?

Dan bagaimana ia bisa memberikan jawaban yang singkat dan tepat seperti itu?

Mereka telah diingatkan bahwa kata إِلَهٌ dalam surat az-Zukhruf meskipun disebutkan dalam bentuk nakirah dan diulang dua kali, tidak berarti ada dua Tuhan; satu di langit dan satu di Bumi.

Kenapa demikian?

Karena diawal ayat ada isim maushul (الَّذِي). Berarti kalimat setelah itu merupakan shilah maushul.

Kedua shilah maushul itu merujuk pada isim maushul yang sama yaitu الَّذِي, dan itu adalah Zat Yang Tunggal.

فتح الله علينا فتوح العارفين

[]

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *