Teladan KH Nawawi Abdul Aziz dalam Menuntut Ilmu

 Teladan KH Nawawi Abdul Aziz dalam Menuntut Ilmu

KH Nawawi Abdul Aziz (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – KH Nawawi Abdul Aziz adalah pendiri Pondok Pesantren An Nur, Bantul, Yogyakarta yang dikenal sebagai kiai kharismatik lengkap dengan berbagai teladan semasa hidupnya. Ada beberapa teladan yang pantas diingat dan dilakukan secara istiqamah dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi santri-santri beliau, mungkin tidak asing lagi. Sejak kecil, beliau semangat sekali dalam menuntut ilmu. Ketika kecil, beliau menggali ilmu milik ayahandanya.

Tidak cukup pada keilmuan ayahnya, beliau mencari tambahan guru di kampung tempatnya tinggal. Lalu, beliau belajar dasar-dasar ilmu alat (Nahwu-Saraf) kepada Kiai Anshori, yang rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat Kiai Nawawi tinggal.  

Semangatnya tercermin dalam sikap sehari-hari saat menuntut ilmu: rajin, ulet, dan sungguh-sungguh dalam belajar. Selain itu, beliau juga mengikuti Sekolah Rakyat di daerahnya sehingga sejak kecil, beliau telah mahir membaca Alquran dan menguasai berbagai cabang keilmuan. Di antaranya seperti ilmu tauhid, fikih, dan ilmu alat.  

Memasuki usia remaja, Kiai Nawawi memulai perjalanan menuntut ilmu ke pesantren. Kali pertama menuju Pondok Pesantren Lirap, di Kebumen Jawa Tengah. Di sana, beliau memperbanyak wawasan ilmu alatnya.

Semangat Mencari Ilmu: Dari Pesantren ke Pesantren

Rasa haus pengetahuannya yang terus bergejolak membuat beliau melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke pesantren lain. Di Pondok Pesantren Lirap, beliau hanya bertahan sekitar dua tahun saja. 

Pesantren kedua yang beliau tuju adalah Pondok Pesantren Tugung, Banyuwangi Jawa Timur. Di sana beliau mengaji kitab-kitab salaf oleh asuhan Kiai Abbas. Beliau mendalami ilmu Tasawuf, Tauhid, Tafsir, Fikih, dan lain sebagainya. Pengetahuan kitab kuning sangatlah luas.  

Sayangnya, beliau tidak bisa lama-lama untuk menuntut ilmu di sana. Beliau harus kembali ke kampung karena ada suatu keperluan dan ketika urusan di kampung telah selesai, beliau tidak bisa kembali ke Pondok Pesantren Tugung karena agresi militer Belanda tiba di Surabaya.

Pertempuran terjadi. Perang menjadi-jadi, meluas, tak henti-henti. Oleh karena masih haus akan ilmu pengetahuan, beliau mencari solusi, mencari alternatif pesantren yang aman. Lalu, beliau merantau menuju Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak DI Yogyakarta.

Di situlah beliau fokus mengaji Alquran secara hafalan kepada KHR Abdul Qodir Munawwir. Bahkan, beliau khatam dengan predikat yang memuaskan. Beliau berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Alquran cukup 18 bulan saja.

Menikah Tak Menghentikan Semangat Mencari Ilmu

Prestasi dan kepribadian Kiai Nawawi membuat KHR Abdul Qodir Munawwir mempercayakan adiknya, Ny. Hj Walidah Munawwir. Kemudian, Kiai Nawawi menikah dengan Ny. Hj Walidah.

Meski sudah berkeluarga, rasa haus untuk belajar masih menggebu-gebu. Lalu, beliau pergi menuju Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an di Kudus.  

Di sana, beliau mendalami Qiraah Sab’ah langsung dari KH. Arwani Amin, murid Kiai Munawwir. Beliau berhasil menyelesaikan hafalan Qiraah Sab’ah selama 17 bulan dengan prestasi sangat memuaskan. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat rajin dan istiqamah.  

Berbagai cobaan, halangan, dan rintangan tidak sedikitpun membuat Kiai Nawawi mengeluh, apalagi putus asa. Beliau tetap semangat dalam menuntut ilmu, ini yang harus ditiru!

Ilmu sebagai Kebutuhan Primer

Kiai Nawawi juga, tidak pernah puas dengan hasil belajar, menggali ilmu dari satu guru ke guru lain, dari satu pesantren ke pesantren lain. Selain itu, waktu yang lama dalam menuntut ilmu bahkan setelah menikah beliau masih mau belajar.  

Dalam Kitab Alala, waktu yang lama adalah salah satu syarat untuk sukses menimba ilmu. Namun dewasa ini, kita terlalu fokus satu cabang keilmuan. Setelah selesai, bergegas agar bisa kerja.

Usai kerja, sangat jarang sekarang ini kita mau mencari ilmu lagi. Malah kadang, belum punya pekerjaan mapan tetapi telah resmi menikah. 

Kita bisa mencontoh Kiai Nawawi setelah menikah tetap mondok di Kudus. Selain itu, beliau bekerja di penerbit Menara Kudus untuk mengirimkan nafkah ke keluarga di Jogja.

Dari beliau, kita bisa belajar bahwa menuntut ilmu tetaplah kebutuhan primer. Bahkan dalam wasiat terakhirnya, beliau mengatakan, “Kabeh santri kudu ngaji, nak ora ngaji mulang (Seluruh santri harus mengaji, jika tidak mengaji harus mengajar).”

Ahmad Sangidu

IDU AHM, santri di Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Pendowoharjo Sewon Bantul. Aktif di berbagai komunitas literasi, salah satunya Rumah Membaca Indonesia. Beberapa tulisannya bisa dibaca online di beberapa media. Kontak dengannya bisa melalui email : [email protected]

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

15 + ten =