Rufaydah, Dokter Wanita Muslim di Masa Nabi

 Rufaydah, Dokter Wanita Muslim di Masa Nabi

Perawat Muslim di Singapura Diizinkan Berkerudung (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Di masa Nabi Muhammad masih hidup, terdapat sejumlah dokter yang berperan penting dalam melakukan pengobatan. Tidak hanya dokter dari kalangan pria, namun juga terdapat dokter dari kalangan wanita.

Sama perannya seperti halnya dokter pria, dokter wanita di masa Nabi Muhammad juga memiliki peran besar dalam ikut menyembuhkan orang sakit. Salah satu dokter muslim wanita di masa Nabi Muhammad adalah Rufaydah Al Aslamiyyah.

Rufaydah merupakan seorang dokter wanita muslim yang memiliki kontribusi besar dalam mambantu mengobati para pasukan yang terluka akibat perang. Dalam catatan sejarah, Rufaydah masuk dalam daftar wanita muslim yang berprofesi sebagai dokter yang sangat diperhitungkan pada masanya.

Di dunia Islam, profesi dokter dan tenaga kesehatan wanita berkembang seiring dengan perkembangan Islam itu sendiri. Dikatakan sejarawan, perkembangan yang dilalui para dokter wanita itu, semakin muncul ketika Islam dilanda banyak pertempuran.

Tentang Rufaydah, awalnya ia bukanlah seorang muslim, ia kemudian memeluk Islam di masjid Nabi di Madinah setelah Hijrah. Ia bergabung dengan Nabi (SAW) dalam beberapa pertempuran.

Dokter Militer Pertama dalam Sejarah Islam

Dilansir dari Republika, Rufaydah bergabung dengan tentara dalam pertempuran Badar dan mendukung para pejuang serta mengobati luka-luka mereka. Ia mempelajari sebagian besar pengetahuan medisnya dengan membantu ayahnya, Saad Al-Aslamy.

Di mana ayah Rufaydah sendiri adalah seorang dokter. Dari profesi sang ayah sebagai dokter, Rufaydah kemudian mempelajari ilmu kedokteran tersebut.

Dalam sejarahnya, Rufaydah menjadi orang pertama dalam sejarah Islam yang bertanggung jawab atas pusat medis lapangan bergerak militer. Itu adalah kontribusi besar dari sosok Rufaydah, seorang dokter wanita muslim yang visioner.

Selama masa hidupnya, Rufaydah merawat sahabat yang terluka, seperti yang dia lakukan untuk Saad Ibn Muaaz atas permintaan Nabi SAW, menurut Hadits dalam Sahih Bukhari. Saat itu, dia melepaskan panah dari lengannya di tenda medis.

Rufaydah juga melatih beberapa sahabat wanita tentang pertolongan pertama dan pedoman menyusui sebelum pertempuran Khaibar. Para perawat wanita ini biasa membantunya menjalankan tenda militer medis keliling dan memiliki shift siang dan malam untuk merawat orang-orang yang terluka.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seven − six =