Kisah Hikmah: Ujian bagi Syekh Junaid Al-Baghdadi

 Kisah Hikmah: Ujian bagi Syekh Junaid Al-Baghdadi

Kesalehan Berfikir dalam Perspektif Imam Ghazali (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Setiap orang yang ingin mencapai ridha Allah subhanahu wa ta’ala tentu saja sering mendapatkan ujian dan cobaan, termasuk Syekh Junaid Al-Baghdadi.

Cobaan seperti yang engkau pahami selalu diberikan Allah subhanahu wa taala sebagaimana kemampuan kita. Allah subhanahu wa taala tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan kita.

Kata orang, semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin kencang angin menerpanya. Demikian juga yang dialami oleh Syeikh Junaid Al- Bagdadi.

Beliau adalah ulama sufi yang memiliki pengaruh yang sangat luas. Karena pengaruhnya yang kuat itu pula banyak pembenci yang ingin menjatuhkannya. 

Berkali-kali orang-orang yang memusuhinya melancarkan serangan agar Syeikh Junaid Al-Bagdadi terjatuh ke limbah dosa.

Mereka membuat serangkaian fitnah untuk menjatuhkan kharisma Syeikh Junaid Al-Bagdadi.

Musuh-musuhnya juga bekerja keras menghasut khalifah pada masa itu agar membenci Syeikh Junaid Al-Bagdadi. 

Namun, usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Syekh Junaid Al-Bagdadi gagal total.

Pada suatu hari, salah satu Khalifah yang memusuhi Syekh Junaid Al-Bagdadi menyuruh seorang wanita cantik untuk merayu Syeikh Junaid.

Wanita itu pun mendekati Syeikh Junaid yang sedang tekun beribadah dan mengajak beliau untuk berzina.

“Sudikah engkau menikmati tubuhku?” kata wanita itu tanpa basa- basi.

“Aku masih muda dan cantik. Banyak laki-laki yang menginginkanku. Tapi aku tidak mau. Aku banya mau denganmu, wahai Syeikh Junaid.”

Begitu panjang dan lebar rayuannya, namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Syeikh Junaid karena beliau tidak sedikitpun mengangkat kepalanya untuk merespons rayuan wanita itu.

Syeikh Junaid terus meminta pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala agar terhindar dari godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh siapapun.

Syeikh Junaid kemudian melepaskan satu hembusan napas ke wajah wanita itu sambil membaca kalimat Lailahailallah.

Dengan takdir Allah Subhanahu wa taala, wanita cantik itu jatuh ke lantai dan meninggal.

Ramaihlah berita kematian wanita yang merayu Syeikh Junaid Al-Bagdadi itu hingga sampai ke telinga sang khalifah yang menyuruh wanita itu.

Sang Khalifah kemudian mendatangi Syekh Junaid dan menuduh beliau telah membunuh wanita itu.

Orang-orang pun turut menuduh Syeikh Junaid Al-Bagdadi telah berbuat keji.

“Wahai Syeikh Junaid Al-Bagdadi,” kata Khalifah. “Mengapa engkau membunuh wanita ini?”

“Saya tidak membunuhnya,” kata Syeikh Junaid.

“Justru saya ingin bertanya, Tuan sebagai pemimpin yang seharusnya melindungi kami, mengapa berusaha untuk meruntubkan amalan yang telah saya lakukan selama 40 tabun dengan mengirim wanita ini untuk merayu saya?”

“Saya?” Khalifah tidak berkutik dengan pertanyaan Syeikh Junaid.

“Bukankah Engkau yang telah menyuruh wanita itu untuk merayuku?” Khalifah kelihatan limbung.

Mau mengingkari, tetapi ia sudah kalah bukti. Orang-orang kemudian menyalahkan Khalifah.

Maka selamatlah Syeikh Junaid dari jeratan musuh-musuh yang ingin menjatuhkannya sampai hari wafatnya pada 297 Hijrah.

Ketika salah satu sahabat menalqin jenazah Syeikh Junaid dengan mengajarkan kalimat tauhid, tiba-tiba Syeikh Junaid membuka matanya dan berkata,

“Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata!” []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *