Islam Wasathiyah Adalah Solusi bagi Afghanistan

 Islam Wasathiyah Adalah Solusi bagi Afghanistan

Islam Wasathiyah Solusi bagi Afghanistan (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan bersama M Ghozali Moenawar menulis tentang ‘Islam Wasathiyah: Solusi Indonesia untuk Perdamaian Afghanistan’. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa dalam kasus Afghanistan, ulama-ulama Indonesia memiliki peran aktif dan konstruktif.

Kenapa Indonesia? Sebab Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang berwibawa, netral dan tidak memiliki kepentingan langsung politik dan ekonomi di negara tersebut.

Terkait kasus di Afghanistan, dua penulis tersebut menyebutkan bahwa publik negara tersebut dirasa perlu belajar banyak tentang agama Islam di Indonesia. Sebab pendidikan dinilai memiliki peran strategis bagi para pemuda Afghanistan untuk mempelajari Islam wasathiyah yang moderat, toleran dan inklusif.

“Dengan mempelajari Islam Wasathiyah diharapkan mampu menciptakan rasa toleran. Baik antar umat Islam sendiri maupun dengan yang lainnya,” ungkapnya dilansir dari Republika, Jumat (20/8/2021.

Amirsyah dan Ghozali melihat bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang indigenous di Indonesia. Terbukti selama berabad-abad, keberadaan pesantrenn telah berkontribusi dalam pengembangan dakwah dan pendidikan di Indonesia.

Dengan mengutip pandangan Ahmad Nurcholish, ia menyampaikan bahwa kurikulum pendidikan untuk perdamaian meliputi subjek seperti toleransi. Tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi.

“Ini merupakan bahan belajar bagi pelajar Afghanistan selama empat bulan di Pesantren Daarul Ulum di Lido, Bogor. Pesantren Tazakka di Batang, dan Darul Amanah Kendal, Jawa Tengah,” kata dia.

Materi yang diberikan fokus pada pendalaman praktik ajaran Islam di Indonesia yang masyarakatnya beragam dalam agama, suku, budaya dan ras.

Melalui program tersebut, para pelajar dari Afghanistan ditekankan agar bisa mengikuti pelajaran dari nilai-nilai perdamaian dalam kearifan lokal di Indonesia. “Para peserta dapat melihat dari dekat secara langsung bagaimana pemahamanan keagamanan yang diajarkan di Indonesia,” jelasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 × 3 =