Gus Baha: Nabi Selalu Punya Sikap dan Gak Pernah Netral

 Gus Baha: Nabi Selalu Punya Sikap dan Gak Pernah Netral

Gus Baha: Nabi Selalu Punya Sikap dan Gak Pernah Netral


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ulama muda ‘alim dari Rembang, Jawa Tengah, Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya selalu memiliki sikap jelas dan gak pernah netral dalam menanggapi sebuah kasus.

Hal ini disampaikan Gus Baha dalam sebuah kegiatan ngaji bersama santri-santrinya. Dimana Gus Baha mengaku pernah suatu ketika ditanya seseorang mengenai sikap netral. Seseorang tersebut bertanya, apakah orang yang netral itu masuk kategori baik atau tidak?

Gus Baha pun menjelaskan bahwa, dalam sejarahnya Nabi Muhammad tidak pernah menjadi orang netral. Nabi Muhammad selalu memiliki sikap yang jelas. Sebab sikap netral itu bisa menimbulkan sikap yang bersifat membiarkan kesalahan dengan kebenaran itu setara.

“Saya pernah di tanya. Ini kasus nyata. ‘Gus, orang netral itu baik ndak?’ Misalnya ada orang bertikai, gak ikut-ikutan,” ungkap Gus Baha dalam sebuah potongan video ngajinya yang tersebar di media sosial, sebagaimana dikutip Hidayatuna.com, Kamis (2/7/2020).

Gus Baha menjawab, “Rasulullah gak pernah jadi orang netral. Misal Mustofa dengan Rukhin (bertengkar), Nabi pasti membela salah satu. Karena kalau gak ikut artinya begini; ‘kalau gajah berkelahi dengan kucing, bilang tidak ikut-ikutan,’ berarti ikhlas kalau kucing diinjak gajah,” jelasnya.

“Nah, (dalam kasus) Rukhin bertengkar dengan Mustofa, kalau Rukhin yang salah, lalu kamu bilang tidak ikut-ikutan berarti membiarkan kesalahan dengan kebenaran setara. Padahal tugasnya Nabi itu furqon, memisahkan perkara haq dan bathil. Makanya Nabi pasti mengambil sikap,” sambungnya.

Oleh karena itu, lanjut Gus Baha, “Saya setuju, misalnya para habaib yang memilih, misalnya harus jelas, A (adalah) A dan B (adalah) B. Harus menjelaskan. Jadi misalnya harus menolak ini, tidak apa-apa, harus jelas. Meskipun orang lain bisa beda, (tapi) harus jelas,” ujar Gus Baha.

“Misalnya kalau orang Islam menolak A seperti yang di Jakarta, ya harus bilang nolak A. Ciri utama kebenaran itu (yang) haq (ya) haq, (yang) bathil (ya) bathil. Gak boleh kamu netral (kemudian bilang); ‘sama saja’. Ndak bisa! Nanti perkara (yang) haq setara dengan perkara (yang) bathil. Paham ya?” tegasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen − thirteen =