Hafsah binti Umar bin Khattab, Perempuan Penjaga Mushaf

 Hafsah binti Umar bin Khattab, Perempuan Penjaga Mushaf

Benarkan Surat Yusuf Membuat Anak Lahir dengan Good Looking? (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di dalam sejarah umat Islam, posisi perempuan tidaklah terbelakang, tidak juga dikungkung hanya untuk urusan dapur semata. Sejarah mencatat ada banyak sekali wanita yang memerankan posisi penting dalam kehidupan umat Islam.

Salah satunya adalah Hafsah binti Umar bin Khattab, Istri dari Nabi Muhammad. Beliau memiliki tulisan mushaf yang juga menjadi rujukan dari Zaid bin Tsabit ketika pengumpulan Alquran pada masa Abu Bakar Assidiq.

Beberapa hadis juga pernah diriwayatkan oleh Hafsah binti Umar bin Khattab. Perannya yang paling besar adalah ketika pengumpulan mushaf sudah selesai (pada masa Abu Bakar Assidiq), maka Hafsah binti Umar bin Khattab yang diminta menjaga mushaf tersebut.

Maka tidak heran jika kemudian banyak orang mengenal Hafsah binti Umar bin Khattab sebagai perempuan penjaga mushaf Alquran yang pertama kali. Setelahnya, mushaf inilah yang kemudian menjadi acuan dari penyusunan musfah Usmani pada zaman khalifah Usman bin Affan.

Menjadi Istri Rasulullah

Hafsah binti Umar bin Khattab dilahirkan pada tahun ke lima sebalum kenabian. Tepatnya adalah ketika peristiwa pemasangan kembali hajar aswad. Saat itu ada banjir besar yang melanda kota Mekkah.

Hajar asad yang menempel disisi Ka’bah ikut terbawa arus banjir tersebut. Pada masa pemindahan ini terjadi sengketa karena seluruh bani di suku Quraisy merasa  paling berhak untuk memindahkannya.

Akhirnya mereka memasrahkan semua hal tersebut pada nabi Muhammad, yang kalah itu dikenal sebagai pemudah yang jujur dengan gelar al amin. Nabi akhirnya meletakkan batu hajar aswad pada sebuah sorban, dengan sorban itulah nabi menyuruh seluruh pemuka kaum quraisy untuk memegang sisi-sisinya.

Penyelesain masalah ini menjadi solusi paling tepat, sehingga menghindarkan suku Quraisy berperang antara satu dengan yang lainya. Hafsah juga lahir hampir bersamaan dengan Fatimah binti Muhammad.

Hafsah dikenal sebagai perempuan yang memiliki sifat sama persis dengan ayahnya, Umar bin Khattab. Beliau juga memiliki kelebihan lainnya, yakni dalam bidang membaca dan menulis. Pada masa itu perempuan yang bisa membaca dan menulis sangatlah jarang, bahkan belum lazim kegiatan itu dilakukan oleh perempuan.

Sebelum menikah dengan Nabi, Hafsah menikah dengan salah satu pemuda Islam yang ikut hijrah ke Habsyah yakni Khunais bin Hudzafah as-Sahami. Tetapi pernikahan tersebut tidak berlangsung lama, karena suaminya syahid dalam pertempuran di perang Badar.

Setelah suaminya wafat, nabi kemudian melamar Hafsah pada Umar bin Khattab. Umar merasa sangat senang atas lamaran tersebut. Dan Akhirnya Hafsah menjadi salah satu istri nabi Muhammad.

Memiliki Mushaf Sendiri dan Menjaga Mushaf Pada Masa Abu Bakar

Salah satu kelebihan dari Hafsah binti Umar adalah dalam hal membaca dan menulis. Semasa Nabi Muhammad masih hidup Hafsah selalu menanyakan pada nabi perihal yang tidak diketahui olehnya.

Dan atas kepandaiannya dalam hal menulis, nabi juga mengizinkan Hafsah untuk menuliskan mushafnya sendiri sebagaimana sahabat lainnya. Hafsah binti Umar meuliskan Alquran pada beberapa media, seperti pelepah kurma dan lainnya.

Ada juga yang meriwayatkan jika mushaf dari Hafsah binti Umar adalah mushaf pertama yang ditulis dan langsung dibawah pengawasan dari Nabi Muhammad. Maka dari itulah ketika pengkondisifikasian al quran pada masa khalifah Abu Bakar, naskah dari Hafsah binti Umar diminta oleh Zaid bin Tsabit.

Zaid bin Tsabit adalah ketua panita pengkondifikasian Alquran, dia memandang walau Hafsah adalah perempuan, tetapi mushafnya tidak boleh dihiraukan. Karena pada masa itu Hafsah menulis Alquran dengan pengawasan dari Nabi Muhammad langsung.

Setelah pengkondifikasian Alquran selesai, Zaid bin Tsabit juga mengirimkan musfah Alquran pasca kondisifikasi pada Hafsah binti Umar. Maka di sini tentu menjadi simbol bahwa perempuan pada masa awal Islam berkembang sangatlah dihargai.

Dan kita, pada masa modern ini ketika perkembangan informasi dan pengetahuan sangatlah pesat. Maka jangan sampai mengesampingkan peran dari perempuan. Dua tokoh utama perempuan Islam telah mengajarkan pada kita bahwa perempuan bisa sejajar dengan laki-laki dalam hal ilmu pengetahuan.

Dua tokoh tersebut adalah Aisyah binti Abu Bakar yang banyak meriwayatkan hadis-hadis nabi, dan Hafsah binti Umar sebagai penjaga mushaf Alquran.

Lohanna Wibbi Assiddi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *