Definisi Ekstremisme yang Sederhana ala Gus Baha

 Definisi Ekstremisme yang Sederhana ala Gus Baha

Muslim Australia Cemaskan RUU Pelarangan Simbol (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Ekstremisme beragama menjadi salah satu topik yang menarik untuk dibahas. Ekstremisme beragama sendiri kerap diidentikkan dengan praktik terorisme.

Namun sebenarnya orang yang terpapar paham ekstrem belum tentu berujung menjadi teroris. Kendati demikian, faktanya praktik terorisme bisa dipastikan hampir semuanya berakar dari ekstremisme.

Orang-orang yang kerap dikategorikan sebagai esktremis biasanya adalah mereka yang menganggap salah ekspresi keberagamaan kelompok lain yang berbeda.

Misalnya, mereka menilai bahwa orang-orang yang tak berjenggot merupakan golongan yang tidak mengikuti sunnah Nabi saw.

Pandangan semacam ini disebut ekstrem karena mereka mengklaim diri mereka sendiri sebagai golongan yang paling benar.

Tampaknya, hari ini ekstremisme beragama mengalami penyempitan makna. Pasalnya, ia selalu disematkan pada perempuan yang bercadar dan/atau laki-laki dengan jenggot lebat.

Ini seolah tak dapat dihindarkan, sebab para ekstremis (juga teroris) memang selalu memakai atribut agama berupa cadar (bagi perempuan) dan gamis disertai jenggot lebat (bagi laki-laki).

Situasi yang sangat dilematis. Ketika kita menjaga jarak dengan mereka, seolah kita tak memberi ruang pada mereka untuk mengekspresikan keberagamaan versi mereka.

Namun jika terlalu akrab dengan mereka, ditakutkan ternyata mereka adalah ekstremis-teroris yang sangat mungkin memengaruhi kita untuk merapat ke barisan mereka.

Kaum ekstremis yang bercadar dengan para pemakai cadar yang tidak ekstrem rasanya memiliki titik perbedaan yang sangat kabur.

Lantas, apakah ekstremisme hanya terjadi pada mereka yang bercadar dan/atau berjenggot? Faktanya tidak demikian.

Ekstremisme bisa terjadi pada kelompok mana pun, termasuk juga kita sendiri. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah diterangkan oleh Gus Baha.

Beliau menjelaskan bahwa orang yang terlampau tinggi tingkat kesalehannya, ia berpotensi mengundang tragedi yang tak diinginkan.

Lantaran hal tersebut, perkara yang sebenarnya makruh dapat berubah menjadi haram dan perkara yang sebenarnya sunnah bisa saja diubah menjadi wajib.

Gus Baha lantas memberikan contoh dalam konteks realitas sosial. Saat kita berhasil melaksanakan iktikaf selama 7 hari berturut-turut, kemudian kita keluar masjid dan bertemu dengan orang lain yang tidak melakukan hal yang sama dengan kita (i’tikaf), maka kita sangat mungkin menilai buruk pada orang tersebut.

Contoh yang dipaparkan Gus Baha’ di atas rasanya kerap kita alami, tetapi dalam kasus yang tak sama.

Ketika kita merasa kuantitas ibadah kita lebih unggul dari orang lain, hal tersebut dapat berpotensi mengarah pada mengklaim secara sepihak bahwa diri kita lebih saleh daripada orang lain.

Ini juga termasuk kategori ekstremisme. Sayangnya, kita kerap tak mengakuinya. Disebut ekstremisme lantaran dalam kasus tersebut kita beranggapan bahwa apa yang kita lakukan adalah yang paling benar.

Kita sungguh tak mengakui bahwa perbuatan orang lain juga berpotensi mengandung nilai kebenaran.

Lebih lanjut, Gus Baha’ menjelaskan kronologi tentang bagaimana suatu kesalehan yang berlebihan dapat melahirkan tragedi.

Setiap kesalehan atas nama agama (Islam) selalu dikaitkan dengan hukum Allah. Ketika seseorang telah meyakini hal tersebut, ia akan mudah mengafirkan siapa saja yang tak sejalan dengannya.

Musababnya adalah orang lain dianggap telah menyelisihi hukum Allah. Puncaknya, orang yang dituduh kafir tadi lantaran tidak sepemahaman akan dihalalkan darahnya (boleh dibunuh).

Jelas ini sangat mengerikan, di sisi lain kita harus menyadari bahwa apa yang kita pandang baik pun, bila ia berlebihan, ia justru berubah menjadi sesuatu yang tidak baik.

Pemaparan Gus Baha’ termaktub mestinya mendorong kita untuk banyak-banyak introspeksi terhadap kesalehan kita. Apakah benar kesalehan kita membuat diri kita kian dekat dengan Allah Swt?

Atau ia justru membuat kita merasa lebih baik dari orang lain?

Beberapa orang mungkin tak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang penting. Pasalnya, bagi mereka kesalehan versi mereka tidak memiliki potensi mengandung kesalahan.

Namun, kaitannya dengan kesalahan ekstrem ini, Gus Baha mengutip sebuah riwayat. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa orang-orang dengan kesalehan ekstrem itu tidak diperkenankan di surga.

Saat Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa mereka adalah umatnya, Allah Swt membenarkannya. Akan tetapi Allah lantas meminta Nabi Muhammad saw untuk menjauhkan mereka dari surga.

Riwayat di atas membuat kita harus lebih berhati-hati terhadap kesalehan kita masing-masing. Salah satu perkara yang dapat kita lakukan sebagai implementasi hal tersebut adalah dengan tidak terburu-buru memandang pekerjaan duniawi orang lain sama sekali tak bernilai ibadah.

Faktanya, justru ada banyak pekerjaan duniawi yang dapat bernilai ibadah. Misalnya, mencari nafkah yang halal untuk keluarga, mengurus dengan baik dan mendidik anak di rumah atau memperbaiki tempat tinggal supaya lebih layak huni.

Semua itu sangat mungkin dinilai ibadah oleh Allah, meski di mata manusia ia tampak sebagai aktivitas duniawi.

Justru, saat kita terlampau banyak beribadah dalam segi ritual dan melupakan perkara-perkara di atas, kita bisa saja diganjar dosa.

Tidak mencari nafkah untuk keluarga, tidak memberikan pendidikan pada anak, membiarkan rumah dalam keadaan rapuh, semua itu malah menjadi bentuk egoisme kita.

Apabila kita cermati, Rasulullah saw tidak pernah mencontohkan yang demikian. Beliau tak hanya menaruh perhatian pada ibadah ritual.

Nabi saw juga memberi contoh dalam mengurus keluarga, juga hidup bermasyarakat. Sebagai umatnya, kita harusnya tidak menutup mata terhadap realita ini.

Perlu dicatat pula bahwa kita juga tak boleh berlebih-lebihan dalam perkara duniawi yang kita lakukan. Sehingga, kita tidak akan sampai pada prasangka negatif terhadap orang yang tampak tak pernah bekerja di mata kita.

Ingat! Di era ini telah ada banyak pekerjaan yang dapat dilakoni tanpa harus keluar rumah. Bisa jadi orang yang terlihat tak pernah bekerja di mata kita, ternyata tingkat kerja kerasnya di rumah lebih tinggi daripada kita.

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk tidak memiliki kesalehan yang ekstrem, di sisi lain tak semestinya juga kita berlebih-lebihan dalam perkara duniawi.

Semua itu bertujuan, salah satunya supaya kita tidak memandang sebelah mata terhadap orang lain yang tampak ‘lebih rendah’ dari kita. Wallahu A’lam. []

Mohammad Azharudin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *