Kedahsyatan Doa Seorang Ibu kepada Anaknya

 Kedahsyatan Doa Seorang Ibu kepada Anaknya

Kedahsyatan Doa Seorang Ibu kepada Anaknya (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ .

Artinya:

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’

Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’

Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’

Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.”

Hadits tersebut menjelaskan betapa spesialnya kedudukan seorang ibu dihadapan anaknya.

Besanya jasa seorang ibu yang telah mengandung kemudian melahirkan hingga membesarkan dengan taruhan nyawa menjadi bukti mengapa Allah tempatkan kedudukan ibu sebagai seseorang yang harus di hormati dan dicintai setelah Rasulullah.

Pengorbanan dan jasa seorang ibu kepada anaknya sampai kapanpun tidak akan pernah terbalaskan dengan apapun.

Doa seorang ibu membersamai anaknya dan menjadi bekal paling kuat menaklukkan dunia ini.

Untuk itu marilah kita menyimak sebuah kisah yang menggambarkan dahsyatnya kekuatan doa seorang ibu untuk kesuksesan anaknya.

Imam Dzahabi dalam kitab Siyar A’lamin Nubala menceritakan dalam biografi Imam Sulaim bin Ayyub Ar-Razi, bahwa ketika masih kecil sekitar umur sepuluh tahun, beliau belajar mengaji kepada seorang guru di kampungnya.

Gurunya mengatakan, “Maju dan cobalah membaca Al-Qur’an.”

Dia (Sulaim bin Ayyub) pun berusaha semaksimal mungkin untuk membaca al-Fatihah, tetapi tidak bisa karena ada sesuatu pada lidahnya.

Gurunya lalu bertanya, “Apakah engkau punya seorang ibu?”

“Ya,” jawab Sulaim.

“Kalau begitu, mintalah kepada ibumu agar dia berdoa supaya Allah memudahkan engkau untuk bisa membaca Al-Qur’an dan meraih ilmu agama,” tutur gurunya selanjutnya.

Sulaim menjawab, “Ya, akan saya sampaikan pada ibuku.”

Maka setelah pulang ke rumah, Imam Sulaim menyampaikannya kepada ibunya, dan sang ibu lalu bermunajat dan berdoa kepada Allah.

Setelah beliau memasuki masa dewasa, Imam Sulaim bin Ayyub Ar-Razi berkelana ke Baghdad untuk menuntut ilmu bahasa Arab, fiqih, dan lain-lain.

Ketika dia pulang kembali ke kampungnya di Ray sedang menyalin kitab Mukhtashar al-Muzani karya Imam Abu Ibrahim di sebuah masjid.

Tanpa disengaja, ternyata gurunya yang dahulu datang seraya mengucapkan salam kepadanya. Namun, sang guru sudah tidak mengenal Sulaim lagi.

Tatkala gurunyan mendengar salinan kitab tersebut dan dia tidak paham apa yang sedang dibaca.

“Kapankah ilmu seperti ini bisa dipelajari?” kata Sulaim.

“Ingin sekali rasanya saya mengatakan padanya: ‘Jika Anda punya seorang ibu maka mintalah kepada ibu Anda agar mendoakan untuk Anda’, tetapi saya malu mengatakan hal itu.”

Doa orang tua terutama seorang ibu adalah mustajab (pasti terkabul).

Sebab itu, Tetaplah memohon pertolongan kepada Allah dan mintalah kepada orang tua terutama ibu agar mendoakan untukmu.

Karena jasa seorang ibu telah Allah spesialkan beserta dengan keutamaan-keutamaannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an;

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهُ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهُ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Artinya:

“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.

(Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” (Q.S. Lukman ayat 14).

Begitulah contoh kisah inspiratif betapa berharganya nilai doa seorang ibu kepada anaknya.

Semoga kita semua senantiasa menjadi sosok pribadi yang taat pada Allah dan Rasulnya, serta terus berbakti kepada orang tua khususnya ibu kita.

Semoga keridhoan Allah senantiasa membersamai ibu kita semua, baik yang masih ada ataupun yang telah tiada, aaamiin. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *