Tradisi Rasulan di Gunungkidul: Ungakapan Rasa Syukur dan Upaya Pengingat Hubungan Erat Manusia dan Alam

 Tradisi Rasulan di Gunungkidul: Ungakapan Rasa Syukur dan Upaya Pengingat Hubungan Erat Manusia dan Alam

Tradisi Rasulan di Gunungkidul: Ungakapan Rasa Syukur dan Upaya Pengingat Hubungan Erat Manusia dan Alam (Foto/Firda Aiun Ula)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Beberapa bulan belakangan saya menjadi salah satu pendamping di Gunungkidul untuk salah satu program dari kantor saya.

Dari proses pendampingan belajar banyak dari masyarakat Gunungkidul.

Saya belajar bersama degan ibu-ibu dari beberapa kalurahan, dalam proses pendampingan seringkali kami melakukan pertemuan di jam 10 pagi atau siang hari karena beberapa ibu-ibu harus bertani.

Saya sangat menikmati cerita mereka mulai dari gagasan perempuan dan ketahanan pangan, membentuk pertanian kolektif hingga berhasil berangkat ke Korea.

Potret Perempuan Gunungkidul dalam Tradisi Rasulan
Potret Perempuan Gunungkidul dalam Tradisi Rasulan (Foto/Firda Ainun Ula)

Kebun-kebun didesa beberapa ada yang dikelola secara individu dan ada yang dikelola secara kolektif atau kelompok-kelompok di desa.

Gunungkidul bagi saya adalah kabupaten yang unik karena selain terdiri atas hamparan pantai yang indah, pegunungan purba, juga terdapat hamparan sawah.

Sebagian wilayah Gunungkidul merupakan kawasan pedesaan, mayoritas masyarakatnya masih sangat bergantung pada sektor pertanian.

Menurut data BPS Kabupaten Gunungkidul sektor pertanian  ini tercermin dalam PDRB Kabupaten Gunungkidul.

Hingga tahun 2021, sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang paling besar dibandingkan sektor-sektor lainnya.

Oleh karena itu masyarakat Gunungkidul memiliki hubungan yang erat dengan alam.

Sehingga tradisi-tradisi yang hadir di sekitar masyarakat gunungkidul tak lepas dari wujud Syukur atas melimpahnya sumber daya alam yang melimpah.

Potret Tradisi Rasulan di Gunungkidul
Potret Tradisi Rasulan di Gunungkidul (Foto/Firda Ainun Ula)

Setelah dua tahun pandemi berlangsung Gunungkidul akhirnya kembali mengadakan tradisi untuk menghormati alam semesta melalui tradisi yang dinamakan “Rasulan.”

Rasulan adalah tradisi yang dilestarikan dan diselengarakan dari jaman dahulu oleh masyarakat Gunungkidul berwujud dalam suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh para petani setelah masa panen tiba sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Juga sebagai bentuk rasa syukur terhadap panen hasil bumi yang melimpah sekaligus untuk merti atau bersih desa mengharap keselamatan dan menolak mara-bahaya terhadap seluruh warga desa.

Waktu pelaksanaannya pun berbeda-beda, tergantung pada weton padukuhan tersebut, ada yang hari Senin Pahing, ada yang hari Rabu Kliwon.

Tradisi ini dapat ditemui di hampir seluruh desa di Gunungkidul bahkan beberapa desa juga menyelenggarakannya dalam level pedukuhan.

Waktu pelaksanaannya tak selalu sama antar wilayah karena Rasulan diselenggarakan atas kesepakatan warga desa setelah mendapat penentuan atau persetujuan waktu pelaksanaan dari panitia-panitia desa setempat, biasanya diselenggarakan setelah panen raya atau menjelang musim kemarau.

Puncak dari tradisi rasulan biasanya disemarakkan dengan berbagai rangkaian kegiatan olahraga dan pertunjukan seni budaya.

Rasulan telah dikemas menjadi salah satu event budaya khas lokal. Hal ini tidak terlepas dari relasi kondisi ekonomi, tradisi dan alam.

Pada tradisi rasulan, puncak keramaian biasanya terjadi pada saat diselenggarakannya kirab atau pawai dan Pagelaran Wayang Kulit.

Kirab adalah semacam karnaval atau arakarakan mengelilingi desa dengan membawa tumpengan atau sajian berupa hasil panen seperti pisang, jagung, padi, dan sebagainya.

Tradisi Rasulan di Gunungkidul
Tradisi Rasulan di Gunungkidul (Foto/Firda Ainun Ula)

Setelah upacara persembahan tumpengan atau kirab, rasulan dilanjutkan dengan melakukan doa bersama di balai padukuhan untuk ketentraman dan keselamatan seluruh warga.

Tradisi rasulan merupakan budaya lokal yang berangkat dari semangat merawat hubungan manusia dengan alam, bahwa manusia tidak boleh rakus atau sombong terhadap alam, karena “ibu Bumi wes maringi” yang artinya bumi sudah memberikan kelimpahan terhadap manusia, sudah sepatutnya manusia menjaga dan merawat Bumi agar tetap Lestari.

Tradisi ini juga dirawat dengan dengan jiwa kebersamaan dan semangat gotong-royong, maka keharmonisan masyarakat dapat terwujud.

Selain sebagai sarana untuk memupuk semangat kekeluargaan, tradisi ini juga menjadi salah satu wadah untuk melestarikan kesenian daerah.

Rasulan juga seringkali menjadi alasan utama untuk kerabat/sanak keluarga yang merantau atau berdomisili di luar daerah untuk berbondong-bondong kembali ke kampung halamannya.

Hal tersebut dinilai sebagai usaha mempererat hubungan kekeluargaan dan mengingatkan kembali akar budaya tanah kelahiran mereka yang biasanya disebut dengan tradisi mujud.

Ketika saudara dari daerah lain datang berkunjung ke rumah dengan membawa beras dan ubarampe lainnya atau memberikan selipan amplop berisi uang tunai kepada tuan rumah, kemudian tuan rumah akan memberi nasi dan lauk pauk atau yang biasa disebut berkat.

Tradisi ini akan bergantian dilakukan ketika wilayah kerabat yang mujud melaksanakan Rasulan.

Selama kegiatan Rasulan, semua rumah warga akan memasak beragam hidangan istimewa untuk menjamu tamu atau kerabat yang datang, sehingga acara ini juga memiliki nilai sedekah.

Hingga kini, masyarakat gunung kidul setiap tahun melaksanakan tradisi Rasulan dalam rangka menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur yang termuat didalam perayaaan maupun diluar perayaan.

Bahkan, oleh pemerintah daerah setempat, tradisi ini telah dikemas menjadi salah satu event budaya dan media pengembangan wisata di kawasan gunung kidul.

Dengan berbagai rangkaian kegiatan yang mengiringinya, event Rasulan ini tidak saja menarik perhatian masyarakat lokal tetapi juga mendapat apresiasi dari masyarakat internasional.

Budaya Rasulan selain bentuk syukur sekaligus pengingat keterhubungan antara manusia dan alam juga di sisi lain membawa berkah bagi masyarakat.

Hal itu dikarenakan warga sekitar dapat berjualan di tempat diadakanya tradisi Rasulan ini dan dapat menyewakan lahannya untuk parkir kendaraan wisatawan yang akan menonton prosesi tradisi rasulan ini karena sebagian besar menggunakan mobil, bus ataupun kendaraan besar lainya bahkan tidak jarang pula turis mancanegara. []

Firda Ainun Ula

Firda Ainun, seorang pegiat isu gender di Yogyakarta dan sosok yang senang belajar.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *