Penjelasan Prof Simuh Soal Sejarah Kelompok Khawarij

 Penjelasan Prof Simuh Soal Sejarah Kelompok Khawarij

Prof Simuh (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Pakar Sufisme Jawa, Prof. Dr. Simuh atau yang lebih dikenal dengan panggilan Prof Simuh menjelaskan tentang bagaimana sejarah lahirnya kelompok Khawarij. Menurut Prof Simuh, firqah Khawarij merupakan sekte tertua yang mula pertama muncul dalam kalangan umat Islam.

“Khawarij berasal dari kata kharaja, yang berarti keluar. Maka kaum Khawarij adalah segolongan umat Islam yang kemudian memisahkan diri atau keluar dari kelompok pendudukung kekhalifahan Ali bin Abi Talib,” tulis Prof Simuh dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Dalam Islam dilansir Kamis (7/10/2021).

Mereka lanjut Prof Simuh, keluar dari kelompok pendukung Ali karena kecewa terhadap sikap Khalifah Ali yang mereka pandang menyimpang dari ajaran atau hukum al-Qur’an, yakni mau menerima tawaran perundingan damai dari pemberontak Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 667 M.

“Menurut hukum Al-Qur’an sepanjang pemahaman kaum Khawarij, setiap pemberontak harus dibinasakan dan tidak boleh berdamai dengan para pemberontak,” ungkap Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 1992-1996 tersebut.

Oleh karena itu, ketika Khalifah Ali mau menerima tawaran damai dengan pemberontak Mu’awiyah, mereka segera memisahkan diri. Bahkan mereka kemudian berbalik memusuhi Khalifah Ali beserta para pendukungnya dengan semboyan yang terkenal: La hukma illa lillah.

“Mereka kemudian berkumpul untuk menyusun kekuatan di Desa Harura’, dekat kufah, yang disebut kaum Hurariyah,” sambungnya.

Menurut Prof Simuh, saat itu jumlah mereka sekitar 12.000 orang dan mengangkat Abdullah Ibn Wahab al-Rasyidi sebagai pemimpin mereka. Namun kelompok ini segera dapat diceraiberaikan oleh pasukan Ali dan sisanya kemudian terpecah belah menjadi beberapa subsekte.

Diantaranya yang terkenal adalah subsekte Azaiqah yang dipimpin oleh Nafi’ bin al-Azraq, subsekte Najdat yang dipimpin oleh Najdat Ibn ‘Amir al-Hanafi. Subsekte ‘Ajaridah di bawah pimpinan Abd al-Karim Ibn ‘Ajrad. Kemudian subsekte Shufriyah di bawah pimpinan Ziyad Ibn al-Ashfar, dan subsekte Ibadliyah di bawah pimpinan Abdullah Bin Ibadi.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 × 4 =