Pangkal Segala Kemaksiaatan dan Ketaatan: Matn al-Hikam, Hikmah ke-35

 Pangkal Segala Kemaksiaatan dan Ketaatan: Matn al-Hikam, Hikmah ke-35

Matn al-Hikam (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Melihat satu demi satu rujukan yang ditemukan, terdapat beberapa perbedaan dalam urutan penulisan hikmah per-hikmah antara matn al-Hikam dengan syarah (penjelasan)-nya, karya magnum opus dari Syaikh Ibn ‘Ataillah as-Sakandary. Karya yang terus dikaji di banyak pesantren. Namun saya tidak menjelaskan panjang lebar mengenai kitab ini, hanya saja ada beberapa untaian menarik untuk kita keruk hikmahnya dan dikontekstualisasikan masa sekarang.

Jika kita melihat dalam Matn al-Hikam tentang hikmah ke-35 akan ditemukan seperti berikut;

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ – الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقْظَةٍ وَعِفَّةٍ، عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا. وَلِأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لاَ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالمًا يَرضَى عَنْ نَفسِهِ فَأَىُّ عِلْمٍ لِعَالمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ وَأَىُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ

Kira-kira begini artinya: “Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah menuruti hawa nafsu. Sedangkan pangkal segala ketaatan, kewaspadaan, dan kesucian diri adalah ketidakinginan Anda memperturutkan hawa nafsu. Jikalau Anda berteman dengan orang bodoh yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, lebih baik bagi Anda daripada berteman dengan orang pintar tapi memperturutkan hawa nafsunya. Ilmu apakah yang layak disandang oleh seorang alim yang memperturutkan hawa nafsunya? Dan, kejahilan apakah yang masih disandang oleh seseorang yang tidak memperturutkan hawa nafsunya?”

Dalam penjelasan dan terjemahan Dato’ Hj. Tuan Ibrahim bin Tuan Man dan H. Salim Bahreisy, terletak pada urutan 43 & 44, sementara dalam terjemahan D.A Pakih Sati terletak pada urutan 36 & 37. Entahlah ini karena apa, yang jelas lantaran perbedaan penulisan antar hikmah yang kadang satu dalam matan tapi menjadi dua dalam syarah dan terjemahannya. Sebenarnya untuk perkara peletakan urutan bukan hal yang terlalu vital karena tidak mengubah esensi maksud teksnya.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Mengalahkan Nafsunya dalam Perang Melawan Kafir

Sebelum pada pokok persoalan, mari sejenak flashback pada sebuah kisah menarik yang dialami oleh Sayyidina Ali Karramallahu wajhah. Pada suatu ketika beliau berperang melawan orang kafir, sejak awal motif yang mendorongnya untuk perang hanyalah demi Allah dan Rasul-Nya.

Lalu beberapa saat kemudian seseorang musuh meludahinya hingga membuatnya jengkel dan marah. Beliau kemudian mengangkat tangan dan pergi tidak mau melanjutkan perang kembali.

Dari kisah masyhur di atas, menegaskan bahwa Ali ibn Abi Thalib menolak perang karena bukan lagi terdorong demi Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi karena perasaan marah dan jengkelnya yang diselimuti ego dan hawa nafsu akibat ludah yang dicipratkan.

Semula yang hanya bermotif karena Allah kini berubah karena nafsu marahnya. Hal inilah yang terkadang samar dan sulit dibedakan. Sangat runyam, ya, ternyata untuk membedakan mana yang berdasar nafsu dan mana yang tidak.

Rambu-rambu Hawa Nafsu dalam Alquran

Kembali pada hikmah tadi, mengapa pangkal dari segala maksiat adalah tunduk pada hawa nafsu? Alquran juga telah memberikan rambu-rambu bahwa hawa nafsu itu selalu mengajak (menyuruh) berbuat kejahatan. (Lihat. QS. Yusuf: 53)

Coba lihat malaikat yang diciptakan tanpa nafsu, seumur mereka diciptakan tidak pernah sedikitpun menentang dan durhaka atas segala perintah Allah dan semua laranganNya. Mereka hanya mengetahui untuk patuh, bertasbih, memuja-muji Rabbnya.

Sementara manusia yang diciptakan ditemani nafsunya, yang terjadi, manusia berpotensi menjadi lebih baik nan mulia dari malaikat dengan catatan mampu mengendalikan hawa nafsunya. Manusia pun bahkan berpotensi menjadi lebih buruk dan hina dari hewan lantaran terlena hawa nafsunya.

Dalam penjelasan (Syarh) Dato’ Tuan Ibrahim misalnya, ia memberikan penjelasan bahwa hawa nafsu ini berkawan baik dengan setan, hanya saja memiliki perbedaan sifat. Jika setan dapat mendatangkan hal-hal yang haram, sementara hawa nafsu mengkonfirmasi rayuan gombal dari si setan hingga akhirnya tercipta suatu tindakan yang diharamkan.

Hal ini tampak pada kasus Sayyidina Ali tadi, yang semula perang karena Allah tapi akhirnya diselimuti rasa marah karena ego nafsunya. Mungkin ini karena Ali Ibn Abi Thalib yang merasakan gejala hawa nafsunya hingga akhirnya berhenti berperang. Coba saja kalau kita yang hanya manusia akhir zaman, boleh jadi sudah menebas dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Memerangi Hawa Nafsu Lebih Dahsyat dari Perang Badar

Lalu, pangkal dari ketaatan, kewaspadaan, dan iffah (menjaga diri sendiri dari syahwat) adalah sebaliknya. Tak heran jika Rasul pernah mengingatkan sahabat bahwa “memerangi hawa nafsu melebihi bahkan lebih dahsyat dari Perang Badar”.

Saya akan kembali mengutip sebuah hadis yang tak kalah menariknya;

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu akan mengikuti pendirian sahabat karibnyaa, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapa yang harus dikawaninya”

Baru kali ini saya menemukan suatu kalimat menarik yang menjadikan orang bodoh lebih baik daripada yang pandai kecuali kalimat dari sosok Bob Sadino, “Orang Bodoh pasti sukses karena tidak banyak mikir”. Tapi bodoh-pandai ternyata bukan ukuran mencapai kesuksesan. Duduk perkaranya satu, “antara tunduk dan tidak pada hawa nafsu”. Sebegitu berbahayanya problem hawa nafsu ini.

Berilmu Saja Bisa Tersesat

Jika ditilik secara jeli, bukan persoalan ilmu yang dimiliki, tapi motif nafsu yang menyelimuti. Betapa pun luas ilmu yang dimiliki tapi tidak dapat mengantarkan pemiliknya pada Sang Maha Pemilik Ilmu juga buat apa.

Toh sangat banyak karena keluasan ilmunya yang berujung hina-dina karena menuruti hawa nafsunya. Setan pun berilmu tapi karena kepongahan dan kesombongan yang dilakukan mengantarkannya pada kehinaan hingga dikeluarkan dari surga-Nya.

Apabila kita melihat orang bodoh dalam konteks ini, jika mendapat suatu kebenaran atau pun ilmu ia akan berterus terang atau menyampaikan seadanya atas apa yang diketahuinya. Kalau pun salah dalam bersikap atau lainnya akan tampak begitu jelas jikalau dia salah.

Jika misal mau berkelit sekalipun dengan berupaya mencari dalil sebagai upaya pembenaran yang mungkin baginya dapat membela justru akan menyingkap tabir kebodohannya semakin jelas. Tapi lain soal bagi orang yang alim, hal yang sudah jelas salah pun bisa saja berkelit mencari dalil pembenaran untuk menutupi kesalahan yang diperbuat.

Dengan demikian seolah-olah dalil yang nampak akan sangat bernada religius dan menggunakan argumen yang bernash (berdasar teks-teks Alquran hadis) membenarkan kesalahan yang dilakukan.

Definisi Alim dalam Alquran

Hal ini pun senada dengan ungkapan Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin (lihat; Jilid 3/367). Orang cerdik-pandai lebih berpotensi mengidap sombong, congkak (al-kibr) daripada orang awam. Paling tidak ada dua sebab yang melatarbelakanginya.

Pertama, para kaum cerdik-pandai dengan ilmu dan kepandaian yang dimiliki, sangat sukar untuk tidak membanggakan diri; kedua, mereka sering merasa pakar dalam bidang tertentu; dan karena kepakarannya, mereka merasa superior, perasaan superioritas inilah yang sering membuat mereka bersikap sombong dan arogan.

Secara tegas Alquran memberikan definisi orang alim adalah mereka yang benar-benar takut kepada Allah (QS. Fathir: 35/28). Apa guna ilmu jika mengantarkan pada kehina-dinaan yang menuruti hawa nafsunya dan menjauhkan diri pada Sang Pencipta?

Dengan demikian, segala kemaksiatan yang terbingkai halus adalah awal dari menuruti hawa nafsu, yang semula makruh hingga jatuh pada perbuatan haram. Dari dosa-dosa kecil hingga menjadi dosa besar. Sementara pangkal ketaatan adalah sebaliknya.

Maka betapapun banyak suatu ilmu yang diperoleh tapi bukan mendekatkan diri pada sang Pemilik semesta lantaran tunduk pada hawa nafsu, apa guna ilmu? Awam yang memiliki sedikit ilmu tapi mendekatkan diri padaNya adalah lebih utama. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twenty − seventeen =