Menolak Perjodohan Orangtua Sama dengan Anak Durhaka?

 Menolak Perjodohan Orangtua Sama dengan Anak Durhaka?

Menjemput jodoh (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Dewasa ini tidak lagi banyak kita jumpai perihal perjodohan sehingga seorang anak, lelaki maupun perempuan diberi kebebasan memilih calon pasangannya sendiri. Meski begitu, di zaman ini masih ada orangtua yang ingin menjodohkan anaknya dengan lelaki atau perempuan pilihan ibu bapaknya.

Mujur bila ternyata kedua anak tadi menerima perjodohan yang dilakukan orangtua mereka tersebut. Tidak dipungkiri pula salah satu atau bahkan keduanya tidak cocok sehingga menolak perjodohan itu.

Bagi orangtua yang berpemikiran terbuka tentu hal itu adalah suatu kewajaran. Sebab sejatinya cinta atau apa pun itu yang berkaitan dengan pernikahan tidak bisa dipaksakan, harus ada keikhlasan dari pasangan untuk menerima satu dan lainnya.

Jika sudah demikian, barulah pernikahan itu terlaksana. Lalu bagaimana jika orangtua menganggap anak yang menolak perjodohan sebagai anak durhaka?

Dr. Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir menjelaskan dalam kutipan ceramahnya di Youtube Ghazali Media. Beliau mengatakan, Nabi Muhammad Saw menyerahkan semua urusan pernikahan di tangan perempuan.

Perintah Patuh pada Orangtua dan Larangannya

Dr. Ali Jum’ah mengisahkan, suatu hari datang seorang perempuan kepada nabi, lalu ia berkata: “Ayahku ingin menjodohkanku dengan orang yang tidak aku sukai.” Maka Nabi Saw menyerahkan semuanya kepada perempuan tadi.

Beliau Saw melarang untuk menjodohkan perempuan secara paksa. Maka, Dr Ali menegaskan, yang seperti itu bukan termasuk durhaka.

Allah SWT. berfirman dalam QS. Luqman ayat 15 yang berbunyi:

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Wa in jāhadāka ‘alā an tusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun fa lā tuṭi’humā wa ṣāḥib-humā fid-dun-yā ma’rụfaw wattabi’ sabīla man anāba ilayy, ṡumma ilayya marji’ukum fa unabbi`ukum bimā kuntum ta’malụn.

Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Tidak Patuh Bukan Berarti Durhaka

Dr. Ali menafsirkan QS. Luqman ayat 15, “Jika mereka memaksamu untuk menyekutukanku dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui maka janganlah kamu taat.” Di sini, kata beliau, ada perintah untuk tidak patuh.

“Dan berbaktilah kepada mereka di dunia,” Dr. Ali melanjutkan, tetapi setelah itu tetap ada perintah untuk berbakti kepada mereka. Maka, Dr. Ali menambahkan bahwa dari ayat tersebut, tidak semua yang diperintahkan orangtua harus kita patuhi.

“Namun kita tetap harus berbakti kepada orangtua karena berbakti kepada mereka adalah kewajiban dan sebab masuk surga. Berbakti kepada orangtua merupakan budi pekerti yang terpuji, meski demikian berbakti tidak harus dengan mematuhi semua hal. Mau besar atau kecil, salah maupun benar, atau secara terpaksa. Tidak ada hubungannya dengan itu,” terangnya dikutip dari Channel Youtube Gazali Media.

Namun karena tadi yang disebutkan adalah hukum agama, biasanya pilihan orangtua adalah yang terbaik dan memiliki kebaikan di dunia. Menolak perjodohan dari orangtua dikatakan Dr. Ali memang tidak durhaka tapi itu tidak bijaksana.

Oleh sebab itu, kita lebih dulu harus teliti dengan apa yang mereka pilihkan, kecuali di antara perempuan dan lelaki itu ada permusuhan. Atau permusuhan antara bapaknya atau ibunya, dan sebagainya. Tapi bagaimanapun juga, tidak patuh bukan berarti tidak berbakti.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × four =