Mengenal Baayun Maulid: Tradisi Perayaan Maulid Nabi dari Kalimantan Selatan

 Mengenal Baayun Maulid: Tradisi Perayaan Maulid Nabi dari Kalimantan Selatan

Mengenal Baayun Maulid: Tradisi Perayaan Maulid Nabi dari Kalimantan Selatan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Bulan Rabi’ul Awal adalah salah satu bulan dalam kalender Hijriyah yang paling di nanti oleh segenap umat muslim di seluruh dunia khususnya di Indonesia, karena bertepatan dengan bulan kelahiran baginda Nabi Muhammad Saw.

Tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. dilaksanakan secara bervariasi sesuai konteks budaya masyarakat tertentu, salah satunya tradisi Baayun Maulid dari masyarakat Banjar Kalimantan Selatan.

Baayun Maulid adalah kegiatan mengayun anak bayi atau balita dengan diiringi pembacaan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad Saw. dengan tujuan kelak anak-anak tersebut meneladani kepribadian Nabi dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.

Tradisi ini biasanya dilakukan di Masjid atau Langgar dengan peralatan baayun Maulid adalah ayunan yang dibuat dari tapih bahalai (kain sarung wanita) serta pada ujung kain diikat dengan tali.

Terdiri dari tiga lapis Kain ayunan, lapisan pertama pada posisi palingh atas adalah kain sasirangan khas Banjar.

Ayunan yang digunakan dihias dengan janur, pohon nipah, pohon nyiur (kelapa), buah pisang, beserta hidangan khas Banjar dan hiasan-hiasan lain.

Beberapa syarat pelaksanaan Baayun Maulid disebut piduduk. Piduduk terdiri dari 3,5 liter beras, gula merah, dan garam untuk anak laki-laki, serta beberapa garam yang ditambah minyak goreng untuk anak perempuan.

Sejarah Singkat Tradisi Baayun Maulid

Menurut sumber sejarah yang ada, awalnya Baayun Maulid merupakan tradisi Baayun anak peninggalan orang-orang Hindu Kaharingan dari Kampung Banua Halat, Kabupaten Tapin.

Tradisi ini kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah di Kalimantan Selatan.

Setelah Islam masuk dan Kesultanan Banjar berkuasa, tradisi tersebut diislamisasi dengan menghilangkan unsur kesyirikan dan diakulturasikan dengan ajaran Islam agar metode penyapaian dakwah Islam lebih mudah diterima masyarakat.

Pembacaan matra-mantra diubah dengan pembacaan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad Saw. dan proses pelaksanaannya dilakukan pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal bertepatan dengan Maulid Nabi.

Proses Islamisasi tersebut mirip seperti apa yang dilakukan oleh para Wali Songo di tanah Jawa mendialogkan makna fundamental ajaran Islam dengan budaya Masyarakat setempat. Hingga saat ini agama Islam menjadi agama mayoritas di Kalimantan Selatan.

Tradisi Baayun Maulid sampai sekarang terus dipertahankan sebagai warisan budaya Masyarakat Banjar serta sebagai metode dakwah agar refleksi terhadap semangat dakwah dan suri tauladan Nabi Muhammad Saw. tetap terjaga hingga saat ini. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *