Kisah Bakhtiar Baba Terpaksa Mencari Nabi Khidir

 Kisah Bakhtiar Baba Terpaksa Mencari Nabi Khidir

Tips bagi Umat Isla agar Tidak Salah Doktrin (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Suatu ketika ada seorang penguasa kejam dari Turkistan sedang mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang Darwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Nabi Khidir.

“Khidir,” kata Darwis itu, datang kalau diperlukan.

“Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan menjadi milik Paduka.”

“Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?”

“Siapa pun bisa,” kata Darwis itu.

“Siapa pula lebih ‘bisa dariku?” pikir Sang Raja dan ia pun mengedarkan pengumuman: “Siapa yang bisa menghadirkan Khidir Yang Gaib di hadapanku, akan kujadikan orang kaya.”

Seorang lelaki miskin dan tua yang bernama Bakhtiar Baba, setelah mendengar pengumuman itu, menyusun akal.

Katanya kepada istrinya, “Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa lama kemudian aku harus mati.

Namun, itu tidak mengapa, sebab kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya.”

Kemudian Bakhtiar menghadap Raja dan mengalakan bahwa ia akan mencari Khidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja bersedia memberinya seribu keping uang emas. “Kalau kau bisa menemukan Khidir,” kata Raja.

“Kau akan mendapat sepuluh kali seribu keping uang emas ini. Kalau gagal, kau akan dihukum mati dengan dipancung ditempat ini sebagai peringatan kepada siapapun yang akan mencoba mempermainkan rajanya.”

Bakhtiar menerima syarat itu. la pun pulang dan memberikan uang itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya.

Sisa hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.

Pada hari keempat puluh ia menghadap raja. “Yang Mulia,” Bakhtiar, “kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwa uang akan bisa mendatangkan Khidir.

Tetapi Khidir, kata orang, tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan kerakusan.”

Sang Raja sangat marah. “Orang celaka, kalau telah mengorbankan nyawamu: siapa pula kau ini berani mencampuri keinginan seorang raja?”

Bakhtiar berkata, “Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu Khidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya apabila maksud orang itu ben ar. Mereka bilang, Khidir akan menemui orang selama ia bisa memanfaatkan saat kunjungan itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya.

“Cukup sudah perkataanmu itu,” kata Sang Raja, “sebab tak akan memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri yang berkumpul di sini agar memberikan nasehatnya tentang cara yang terbaik untuk menghukummu.”

la menoleh ke Menteri Pertama dan berkata, “Bagaimana cara orang itu mati?”

Menteri Pertama menjawab, “Panggang dia hidup hidup, sebagai peringatan.”

Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata, “Potong-potong tubuhnya, pisah- pisahkan anggota badannya.”

Menteri Ketiga berkata, “Sediakan kebutuhan hidup orang itu, agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup ke luarganya.”

Sementara pembicaraan itu berlangsung, seorang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan.

“Segera orang mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi dalam dirinya,” kata orang bijaksana tersebut.

“Hah, apa maksudmu?” tanya Raja.

“Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi ia berbicara tentang panggang memanggang.

Menteri Kedua dulu tukang daging, jadi la bicara tentang potong-memotong daging.

Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.” jawab si orang bijaksana.

“Catatlah dua hal ini. Pertama, Nabi Khidir muncul melayani setiap orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya.

Kedua, Bakhtiar, orang ini yang kuberi nama Baba karena pengorbanannya telah didesak oleh keputus asaan untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga akupun muncul didepanmu.”

Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yang bijaksana itupun lenyap begitu saja. Sesuai dengan yang diperintahkan Nabi Khidir.

Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar. Menteri Pertama dan kedua dipecat, dan seribu keping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh Bakhtiar dan istrinya.

Menurut sebagian riwayat, orang tua bijaksana tersebut adalah sosok Nabi Khidir yang datang menyelamatkan Bakhtiar Baba dan Istrinya.

Bakhtiar Baba sendiri dikenal sebagai seorang sufi yang hidup sederhana dan senantiasa mengabdikan diri hanya beribadah kepada Allah. Wallahu a’lam bisshawab. []

Muhammad Ahsan Rasyid

Muhammad Ahsan Rasyid, magister BSA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan sukarelawan. Tinggal di Yogyakarta, dapat disapa melalui Email: rasyid.ahsan.ra@gmail.com.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *