Kiprah Kiai Hasyim Asy’ari Bersama Ormas-Ormas Islam

 Kiprah Kiai Hasyim Asy’ari Bersama Ormas-Ormas Islam

Kiai Hasyim Asy’ari (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dosen pasca sarjana Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta (UNUSIA Jakarta) M Ishom El-Saha mengkisahkan bagaimana kiprah sosok Kiai Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama dengan ormas-ormas Islam di Indonesia. Ishhom menjelaskan di jaman pra kemerdekaan sekitar tahun 1932 sd 1937, NU sering diajak rembug oleh ormas-ormas Islam lainnya.

“Tapi, yang dihadirkan NU dalam rapat-rapat itu bukan tokoh utamanya melainkan badal-badal atau kiai lapis kedua,” tulis Ishom yang diunggah diakun Facebooknya Muhammad Ishom dilansir Rabu (2/6/2021).

Menurut Ishom, Kiai Hasyim sengaja melakukan itu karena ada dua hal. Pertama, tidak ingin larut dengan cita-cita ideologis Pan-Islamiame yang diusung umumnya ormas-ormas Islam waktu itu.

Kedua, tidak simpatik dengan ormas-ormas Islam yang sering membidahkan tradisi maayarakat. Sebab waktu itu ada pula Ormas Islam yang tak mengusung ideologi Pan-Islamisme tapi kencang menyuarakan islamisasi.

“Bukannya tidak setuju dengan gagasan Ormas Islam lainnya, pendiri NU tidak sepaham pergerakan Islam yang meremehkan tradisi masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Ia menjelaskan tradisi merupakan entitas kebangsaan. Dalam pidato Muktamar NU di Banjarmasin, Kiai Hasyim berkata lantang; “Lihatlah perkumpulan kami (NU), wahai saudara-saudara!.. Usaha kalian menjadi percuma dengan menyalahkan dan membidahkan adat-istiadat. Alangkah sia-sianya kalian ingin membangun istana tapi dengan cara terlebih dulu membakar seluruh isi kota.”

Pentingnya Kekompakan Antar Elemen Islam

Di sisi lain, Kiai Hasyim lanjut Ishom, pada dasarnya juga memandang perlu kekompokan antar elemen Islam tapi dengan catatan bahwa semua harus menjunjung tinggi langit di mana bumi dipijak: yaitu bumi Indonesia. Pada tahun 1937, NU mulai serius menghadiri rapat di Surabaya dengan mewakilkan Kiai Wahab Hasbullah.

“Sebelum rapat diadakan, beliau mengusulkan supaya pertemuan itu diagendakan di waktu malam dengan nama “lalatul ijtima'”. Alasannya dengan sebutan “lalilah” maka pemerintah Belanda maupun kaum nasionalis yang mencurigai gelagat ormas-ormas Islam akan terkecoh. Harapannya mereka tidak menganggap sebagai pertemuan politik tapi pertemuan peribadatan dengan sebutan “lailah” selayaknya lailatul Jumat atai Lailatul Qadar,” jelasnya.

Selain itu dengan sebutan ijtima’ bukan “ijma'” Kiai Wahab punya maksud tersendiri bahwa keputusan yang diambil tak mengikat, tapi sekedar konsensus biasa. NU tak ingin dikendalikan ormas-ormas Islam terlebih dulu berdiri seperti Syarikat Islam.

“Oleh sebab itu pada pertemuan Surabaya 1937, katika dibahas apa nama organisasi perkempulan ormas-ormas pra kemerdekaan, beliau mengusulkan nama “al-majlis al-a’la al-Islami al-Indoneaiy” (MAII),” jelasnya.

Kata “al-majlis” bukan al-diwan” atau “ittihad” dan sebagainya, sebab yang diinginkan NU adalah organisasi federasi tanpa ketua umum. Lain halnya jika menggunakan istilah ittihad berarti ada ketua umum. Rupanya rencana rahasia NU itu disetujui oleh ormas-ormas Islam lain yang berasumsi bahwa yang terpenting organisasi tertinggi antarormas Islam di Indonesia ini berbahasa Arab.

“MAII di awal terbentuknya tidak memiliki ketua umum, sebagaimana diinginkan NU. Di awal kepengurusan MAII hanya ada sekretaris jenderal yang dijabat Wondosinowo (SI). Selebihnya sebagai anggota MAII. Dengan demikian keinginan NU agar MAII tidak menjadi alat politik para aktifis Pan-Islamisme cabang Indonesia dianggap berhasil,” ungkapnya.

Pertanyaannya kenapa Kiai Hasyim mau didudukkan sebagai Ketua Umum (pertama) MAII? Ishom menjelaskan, jawabannya karena NU bukan bagian dari pan-Islamisme.

“Di samping itu dengan turun tangannya beliau menjadi Ketua MAII maka garis perjuangan Islam di Indonesia akan selalu berada di atas rel kebangsaan,” tandasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

ten − six =