Kiai Kampung: Peletak Fondasi Moderasi Beragama Bagi Masyarakat Abangan

 Kiai Kampung: Peletak Fondasi Moderasi Beragama Bagi Masyarakat Abangan

Kiai kampung peletak pondasi moderasi beragama masyarakat abangan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di kampung, bila ada pihak yang hendak memprovokasi, warga akan bersatu untuk melawannya. Biasanya, pihak yang berada di garda terdepan melawan para provokator adalah masyarakat abangan.

Istilah masyarakat abangan biasanya disematkan pada orang-orang yang dalam belajar maupun praktik agama tidak terlalu mendalam. Mereka biasanya tidak mengenyam pendidikan pesantren, umumnya mereka juga tidak terlalu tertarik dengan pengajaran agama yang terlalu kaku dan tekstual.

Solusi dari hal tersebut adalah menggunakan pendekatan yang tidak frontal dalam menuntun pada kebenaran, pengajaran yang fleksibel, serta memperhatikan konteks keadaan masyarakat. Lantas, siapa yang bisa melakukan hal itu? Jawabannya adalah kiai kampung.

Beberapa orang yang mengaku dirinya sebagai akademisi seringkali meremehkan peran kiai kampung. Padahal seandainya masyarakat abangan diberi pilihan untuk belajar agama pada siapa, mereka pasti akan lebih memilih kiai kampung sebagai gurunya.

Kiai kampung mungkin tak memiliki karya tulis ilmiah seperti halnya orang-orang yang mengaku dirinya akademisi. Namun, kiai kampung memiliki metode tersendiri untuk mengajarkan Islam pada masyarakat abangan.

Metode ini tidak dimiliki (atau bahkan tidak diketahui) oleh orang-orang yang mengaku akademisi. Sebab mereka tidak pernah sedikit pun bersinggungan dengan masyarakat abangan.

Tak bisa disangkal, nyatanya peran kiai kampung bagi masyarakat abangan begitu penting. Peran kiai kampung tersebut semakin tampak pada pembangun pondasi moderasi beragama bagi masyarakat abangan.

Saat fenomena kafir-mengafirkan begitu gencar, kiai kampung tak pernah sekali pun ikut-ikutan. Melalui teladan yang diberikan tersebut, masyarakat abangan pun juga enggan untuk terjun dalam pusaran kafir-mengafirkan.

Ini merupakan salah satu bentuk hukum kausalitas alam semesta, di mana ada akibat, di situ ada sebab. Seandainya para kiai kampung mengafirkan masyarakat abangan, tentu saja para kiai kampung itu akan diusir bahkan tidak akan diterima lagi oleh masyarakat abangan.

Bukan hanya kafir-mengafirkan, virus radikalisme juga tak henti-hentinya menjangkiti umat Islam. Namun, bila dicermati dengan saksama, radikalisme yang mewujud dalam praktik terorisme umumnya terjadi di kota.

Jarang ditemukan kasus bom bunuh diri atau aksi terorisme lainnya di desa, bila pun ada jumlahnya sangat sedikit. Hal ini menjadi indikasi bahwa masyarakat desa, khususnya masyarakat abangan memiliki kesadaran terhadap moderasi beragama dan konsep kemanusiaan yang tinggi.

Lagi-lagi, peran kiai kampung tak bisa terlepas di sini. Sebab ia-lah yang menjadi muara ajaran agama bagi masyarakat abangan.

Upaya para kiai kampung dalam membentengi masyarakat abangan dari virus radikalisme perlu diapresiasi. Metode dan pendekatan yang digunakan oleh para kiai dalam mengajarkan Islam pada masyarakat abangan nampaknya perlu dipertahankan.

Bila tidak demikian, masyarakat abangan akan kehilangan sosok penuntun dan tempat bertanya segala hal yang menyangkut Islam. Akibatnya apa? Mereka akan mencari sendiri sosok penuntun di dunia maya yang mana di sana berlaku pasar bebas ustaz.

Berangkat dari hal tersebut, tak menutup kemungkinan mereka akan terpapar radikalisme yang akibatnya bisa membuat masyarakat terpecah belah. Oleh sebab itu, guna menjernihkan narasi-nanrasi radikalisme di dunia maya, para kiai kampung sangat dibutuhkan untuk menebar narasi Islam damai dan santun kepada masyarakat abangan.

Sebab umumnya desa identik dengan kultur agraris dan tingkat pendidikan masyarakatnya yang rendah sehingga dibutuhkan kedudukan kiai kampung. Meski demikian, menariknya masyarakat desa memiliki corak kehidupan yang khas dan cukup kompleks.

Mereka selalu mengedepankan gotong royong hampir di setiap sisi kehidupan, seperti halnya disebutkan di atas dalam melawan provokator. Pun halnya dengan hajatan, membangun rumah, hingga membangun kanal. Kebiasaan gotong royong tersebut membuat masyarakat desa semakin rekat dan solid.

Mohammad Azharudin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 − six =