Ibrahim Sakran, Sosok Alim dan Pemikir yang Pemberani

 Ibrahim Sakran, Sosok Alim dan Pemikir yang Pemberani

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi: Intelektual Muslim Sang Penggema Suara Moderat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Adakah yang kenal dengan nama di atas? Saya kira, jangankan masyarakat umum, dari kalangan ulama dan ustadz saja banyak yang tidak mengenal nama ini.

Itu karena ia memang bukan alim ‘mimbar’ yang sering tampil, atau ustadz medsos yang banyak follower.

Ia adalah alim muda yang tulisan, ucapan dan perbuatannya ‘ditakuti’ terutama oleh mereka yang tengah berkuasa dan terusik dengan suara lantangnya.

Ia berasal dari Arab Saudi. Kelahiran 1976. Gelas masternya diperoleh dari dua Universitas, Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Riyadh dalam ilmu-ilmu syar’i dan Universitas Essex Inggris dalam undang-undang internasional. Karena itulah, disamping alim ia juga seorang pengacara.

Ia mengalami banyak perubahan dalam pemikiran. Banyak yang menilai, mulanya Ibrahim Sakran adalah seorang liberal.

Ini ditandai dengan tulisannya yang mengkritisi pembelajaran Islam di Arab Saudi yang terlalu kaku dan jauh dari ruh toleransi.

Menurut saya, menilai seseorang sebagai liberal, tekstual, salafi, haraki dan sebagainya, tidaklah semudah itu.

Pertama, apakah setiap orang yang mengkritik metode pembelajaran Islam dianggap berseberangan dengan Islam dan disebut liberal?

Bukankah yang ia kritisi adalah pembelajaran Islam bukan Islamnya itu sendiri?

Kedua, menilai seseorang hanya dari beberapa pendapatnya dalam satu atau dua buku tidaklah objektif.

Boleh jadi pendapatnya dalam buku dan kesempatan yang lain berbeda dengan itu.

Tapi begitulah yang ditulis sebagian sumber bahwa Ibrahim Sakran pada awalnya seorang liberal.

Lalu ia ‘berubah’ menjadi salafi. Perubahan ini ditandai dengan bukunya Ma`alat Khithab ad-Diniy yang banyak mengkritik pemikiran-pemikiran liberal.

Buku-buku yang ditulisnya setelah itu memang lebih tampak islamis dari buku-buku sebelumnya yang lebih bernuansa liberal.

Terutama bukunya yang berjudul at-Takwil al-Hadatsiy li at-Turats yang secara terbuka mengkritisi pemikiran tokoh-tokoh liberal Arab.

Dalam usinya yang relatif muda, 46 tahun, sudah puluhan buku yang ditulisnya, disamping berbagai makalah dan tulisan yang tersebar di berbagai forum dan media yang jumlahnya mungkin ratusan.

Tak salah kalau Dr. Muhammad Mukhtar Shinqiti dalam Asmar dan Afkar mengatakan,

“Saya kira saya termasuk orang yang sangat haus ilmu dan kutu buku. Tapi ketika melihat karya dan tulisan Ibrahim Sakran saya merasa kecil di depannya, sebagaimana Imam Bukhari merasa kecil di depan Imam Ali al-Madini.”

Lalu di mana Ibrahim Sakran sekarang? Di penjara. Ia dipenjara sejak tahun 2016. Tahukah kita apa ‘dosanya’?

Menurut banyak sumber, sejak 2010, Ibrahim Sakran banyak mengkritisi kebijakan penguasa di sana.

Pada tahun itu, ada larangan mengadakan halaqah tahfizh Quran oleh beberapa penguasa di Mekah.

Ibrahim Sakran mengkritik hal itu melalui bukunya yang berjudul al-Quran la yughayyibu al-basmah.

Pada tahun 2011, Ibrahim melayangkan sebuah pesan ‘keras’ melalui video yang diberinya judul: Kecuali para wanita wahai pelayan dua kota suci!

Video itu sebagai kritik atas respon penguasa yang memenjara para wanita yang melakukan unjuk rasa karena suami mereka dipenjara dan mereka tidak diizinkan untuk menjenguk.

Maka sejak 2015, Ibrahim Sakran dipandang sebagai sosok yang melawan dan menentang arus liberalisasi di Arab Saudi saat ini.

Sebagian sumber mengatakan bahwa Ibrahim Sakran sudah dibebaskan sejak Mei 2022 yang lalu. Semoga saja berita ini benar.

Adalah kezaliman memenjara seorang alim, pemikir dan pejuang seperti Ibrahim Sakran.

Terlepas dari apakah ia seorang salafi, haraki, liberal atau label-label yang lain, namun keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran patut menjadi contoh dan teladan.

Di saat yang sama, ini juga bisa menjawab pertanyaan sebagian orang, kenapa ada perayaan Hallowen di Arab Saudi.

Singkatnya, Arab Saudi sudah berubah…

والله أعلم وأحكم []

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *