Cancel Preloader

HOS Tjokroaminoto dan Pemikirannya Mengenai Pendidikan

 HOS Tjokroaminoto dan Pemikirannya Mengenai Pendidikan

HOS Tjokroaminoto (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Haji Omar Said Tjokroaminoto merupakan seorang keturunan bangsawan bergelar Raden, dikenal sebagai seorang ulama atau mufassir, politisi dan ekonom Islam yang sangat berpengaruh di abad 20.

HOS Tjokroaminoto, begitu ia lebih suka memperkenalkan namanya dijuluki sebagai ‘Raja Jawa Tanpa Mahkota’. Julukan yang memang pantas disematkan berkat kiprah dan sumbangsihnya dalam menggugah kesadaran kaum muda pergerakan.

Beliau juga disebut sebagai guru bangsa dan pendidik para tokoh pergerakan yang kemudian diantaranya menjadi faunding father bangsa.

Tokoh Didikan Tjokroaminoto

Tokoh-tokoh yang sempat memperoleh gemblengan langsung darinya adalah anak-anak kos dirumahnya yaitu Alimin, Moeso, Sukarno, dan Kartosoewirjo. Mereka ini adalah tokoh pergerakan bangsa yang berhasil membawa Indonesia kepada gerbang kemerdekaan.

Uniknya, tiap muridnya tidak semerta-merta mencontoh atau mewarisi ajaran ideologi HOS Tjokroaminoto, namun justru besar dengan ideologinya masing-masing. Bahkan diantara kemudian berani berseberangan dengan pandangan Tjokroaminoto atau bahkan berbalik mengkritiknya.

Hanya saja dalam kemampuan pidato, orasi dan menggerakkan massa hampir semuanya mewarisi kepiawaian dari Tjokroaminoto.

Ideologi Tokoh Bangsa

Sukarno secara ideologi menjadi seorang kampiun nasionalis, meskipun begitu dalam nasionalismenya ada nafas Islam yang diperoleh dari Tjokroaminoto. Jauh berbeda lagi muridnya Moeso yang lebih memilih sosialisme komunis sebagai pijakan dasar perjuangan yang dilakukan.

Hanya Kartosoewirjo yang dinilai cukup mendekati dan mewarisi pemahaman ideologi Tjokroaminoto, namun lebih condong  pada fundamentalis Islam. Kecondongan Kartosoewirjo tersebut membuat hidupnya harus berakhir dengan hukuman mati yang dijatuhkan oleh sahabatnya sendiri yaitu Sukarno yang ketika itu sudah menjadi Presiden Indonesia.

Murid lainnya adalah Hamka, Tjokroaminoto mengajarinya tentang sosialisme Islam. Meskipun tidak pernah kos di rumah Tjokroaminoto, Hamka mengatakan bahwa Tjokroaminotolah yang membukakan matanya untuk menjadi manusia dan muslim sejati. Terutama ketika berkecimpung dalam dunia pergerakan serta politik.

Berdasarkan gambaran di atas Tjokroaminoto begitu luwes dalam mendidik, bukan dengan maksud mencetak generasi yang seragam. Namun justru memberi kebebasan dan mendorong tiap muridnya berkembang sesuai potensi dan kemampuannya.

Pendidikan ala Tjokroaminoto

Kiprah dan jejaknya dalam pendidikan memang tidak terlalu mecolok dan banyak dibicarakan. Namun bukan berarti kontribusi beliau tidak ada justru sebaliknya, ini dibuktikan dengan banyaknya nama sekolah bahkan universitas menggunakan nama Tjokroaminoto.

Tentu penggunaan nama beliau tersebut bukan tanpa alasan, beliau dianggap sebagai tokoh yang memiliki sumbangsih dalam dunia pendidikan. Baiklah, mari kita telusuri bagaimana Tjokroaminoto memberikan sumbangsih dalam dunia pendidikan.

Berangkat dari dokumen Moeslim National Onderwijs yang didalamnya banyak sekali memuat bagaimana konsep pendidikan yang dicita-citakan Tjokroaminoto.

Dokumen yang ditinggalkan untuk Syarekat Islam ini seolah menangkap berbagai katifitasnya dalam mendorong perubahan, termasuk kiparhanya mendidikan kursus untuk anggota pergerakannya, baik ketika masih menjadi Serikat Dagang Islam maupun setelah menjadi Syarekat Islam.

Sekolah Berasaskan Islam

Sekolah-sekolah menurut Tjokroaminoto harus didirikan berdasarkan asas-asas Islam. Alasannya adalah karena dalam Islam mengandung ajaran demokrasi, sosialisme untuk mencapai cita-cita kemerdekaan.

Ini menunjuk bagaimana Tjokroaminoto berpegang teguh kepada Islam. Tentu saja wajar karena darah ulama memang ada pada beliau yaitu buyutnya Kiai Kasan Besari merupakan guru dari para ulama di Nusantara.

Pandangan dan cita-citanya pada pendidikan Islam juga dapat dimaklumi, karena beliau hidup di zaman di mana terjadi diskriminasi ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam. Hal demikian menggugah kesadarannya untuk memajukan pendidikan dan Islam.

Pada zaman itu, Tjokroaminoto juga melihat diskriminasi pendidikan antara pribumi dan orang-orang Belanda dalam kases pendidikan. Sebagaimana digambarkan Scherer (1985:44) bahwa biaya sekolah anak-anak pribumi dua kali lipat dari anak-anak eropa sebesar 15 gulden perbulan.

Dengan begitu, wajar jika hanya nak-anak pribumi yang ningrat dan kaya raya sajalah yang mampu sekolah di lembaga pendidikan pemerintah.

Memberantas Buta Huruf

Masalah utama masyarakat saat itu adalah buta huruf dan buta angka sehingga membuat Tjokroaminoto nantinya tergerak untuk menyinari dunia pendidikan. Perhatiannya dalam pendidikan terlihat sebagaimana tertuang buku “Menelusuri Jejak Ayahku”,

“Kalau ada orang Islam mendirikan Sekolah (Madrasah) tinggi, pertengahan atau rendah, dengan cuma memberikan ajaran kepandaian akal saja. Tetapi di dalam hatinya anak-anak tidak di tanamkan benih kemerdekaan dan benih demokrasi, yang menjadi tanda kebesaran dan tanda perbedaan umat Islam besar pada zaman dulu itu.

Dan didalam hatinya anak-anak tidak pula di tanamkan benihya keberanian yang luhur, keihlasan hati. Kesetiaan dan kecintaan pada barang yang benar yang telah menjadi tabi’at pergaulan hidup Islam pada zaman dulu dan murid-murid juga tidak di beri pengajaran yang mendidik kebatinan yang halus.

Keutamaan budi dan perangai yang benar yang dulu telah menjadikan orang Arab penduduk lautan pasir menjadi bangsa tuan yang halus ‘adat lembaganya’ dan menjadi tukang menamam keadaban dan kesopanan.

Juga di dalam hatinya murid-murid tidak di tanamkan bijinya penghidupan yang shaleh yang sederhana sebagaimana yang dulu menjadikan mahsur ummat Islam. Sekolah-sekolah yang hanya memberikan kepandaian yang “dingin” tidak hidup dan akhirnya hanya akan menuntun pada matrealisme saja. Sekolah-sekolah yang dimikian itu lebih baik tidak ada saja”.

Nilai Dasar dalam Kehidupan

Menurut Tjokroaminoto setidaknya ada empat nilai-nilai dasar yang seharusnya ditanamkan dalam pendidikan.

Pertama, menanamkan benih kemerdekaan dan benih demokrasi. Kedua, menanamkan benih keberanian yang luhur, benih keikhlasan hati, kesetiaan dan kecintaan kepada yang benar (haq). Ketiga,menanamkan benih peri kebatinan yang halus, keutamaan budi pekerti dan kebaikan perangai, dan yang terakhir kehidupan yang salih dan sederhana.

Apa yang dikatakan oleh Tjokroaminoto ini merupakan sesuatu yang sangat berharga. Perkataan yang lahir dari pembacaan panjang sehingga masih dan sangat relevan untuk diterapkan sampai sekarang. Kemajuan dunia yang bertumpu pada matrealisme membuat banyak orang lupa dan kehilangan arah.

Semoga dengan pemaparan tentang Tjokroaminoto ini mampu menjadi pengingat dan penggugah kita bersama dalam mebangun tatatan pendikan yang lebih baik. Sehingga dikemudian hari dapat melahirkan tokoh-tokoh selaiber para faunding father bangsa atau setidaknya menghasilkan generasi yang mampu mendorong kemajuan bangsa Indonesia tercinta.

Dawamun Niam Alfatawi

Dawamun Niam Alfatawi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × 4 =