Cancel Preloader

Tjokroaminoto dalam Politik dan Pergerakan

 Tjokroaminoto dalam Politik dan Pergerakan

HOS Tjokroaminoto (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Tjokroaminoto lahir di Ponorogo pada tanggal 16 Agustus 1883. Lebih dikenal dengan nama H.O.S Tjokroaminoto yang merupakan salah satu pemimpin organisasi pertama di Indonesia, yaitu Sarekat Islam (SI).

Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah yang bernama R.M. Tjokroamiseno dan kakeknya bernama R.M. Adipati Tjokronegoro. Setelah lulus dari sekolah rendah, Tjokroaminoto lanjut sekolah di sekolah pamong praja, Magelang (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren atau OSVIA).

Setelah lulus, ia bekerja sebagai juru tulis patih di Ngawi. Tiga tahun kemudian ia berhenti lalu pindah dan menetap di Surabaya pada 1906. Rumahnya sempat dijadikan sebagai kost para calon pemimpin besar kelak yang berguru dengannya.

Sarekat Dagang Islam adalah organisasi dagang yang didirikan oleh K.H Samanhoedi pada 16 Oktober 1905. Tujuan Samanhoedi mendirikan SDI ialah untuk menggalang kerja sama antara pedagang Islam demi memajukan kesejahteraan pedagang Islam pribumi.

Salah satu penyebab Sarekat Dagang Islam muncul ialah karena pergolakan sosial politik yang meningkat sampai masuk di kehidupan sehari-hari masyarakat seperti melalui pajak yang berat, pengerahan tenaga buruh yang berlebihan, dan peraturan yang menindas.

Sarekat Dagang Islam juga berdiri karena berusaha menentang segala kesewenang-wenangan. Meski dibantu juga dengan suatu perhimpunan yang bernama “Kong Sing” yang terdiri dari suku bangsa Tionghoa pada tahun 1911.

Langkah pertama dari organisasi SDI ditekankan pada usaha untuk memperbaiki system perdagangan kaum Bumi Putera. Organisasi ini juga menggalang persatuan untuk melawan pedagang-pedagan lain yang mulai melakukan monopoli terhadap produk yang diperdagangkan.

SDI berkembang dengan pesat, akan tetapi perkembangan ini juga menimbulkan permasalahan yang justru dari kalangan pengurus itu sendiri. Seperti persaingan dagang dengan himpunan Kong Sing. Persaingan itu mengakibatkan pertikaian fisik sampai aksi boikot massal terkait produk yang diperjual belikan.

Tjokroaminoto dan Sarekat Dagang Islam

Pada tahun 1912, Tjokroaminoto memberi saran kepada Haji Samanhoedi nama Sarekat Dagang Islam (SDI) diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Tjokroaminoto adalah anggota SI Surabaya yang kemudian menjadi ketua.

Perubahan nama ini diambil karena bertujuan agar keanggotaan organisasi tidak hanya terbatas pada golongan pedagang saja tapi juga terbuka untuk seluruh umat Islam di Indonesia. Perubahan nama ini juga bertujuan agar Sarekat Islam tidak hanya berkutat di bidang perdagangan saja.

Pada tahun 1913 diadakan Kongres SI pertama, tepatnya pada tanggal 25 Maret 1913 di Surakarta. Tjokroaminoto ditunjuk menjadi wakil ketua CSI (Centraal Sarekat Islam) mendampingi Samanhoedi sebagai Ketua CSI yang berpusat di Solo.

Setahun setelahnya, Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua CSI dalam Kongres kedua pada 19-20 April 1914 di Yogyakarta. Di masa kepemimpinan Tjokroaminoto, arah organisasi ini merambah di bidang sosial, politik, dan pemerintahan. Anggota resmi SI tercatat mencapai 400.000 orang (sumber lain mengatakan sudah 440.000 orang).

Ketika Tjokroaminoto memimpin SI, setiap kunjungan ke berbagai daerah, ia justru mempromosikan dirinya sendiri dan secara pelan tapi pasti menggerus karakter Samanhoedi. Pamor Samanhoedi kian merosot dan di kalangan muda ia dianggap kuno dan tidak layak memimpin organisasi. Pada akhirnya, banyak yang menganggapnya sudah tidak berguna.

Tjokroaminoto sukses merangkul cabang-cabang SI daerah, bahkan berhasil menjalin relasi dengan penguasa kolonial sampai pemerintah pusat di Batavia melalui D.A. Rinkes. Rinkes juga ikut berperan dalam kongres kedua itu dengan turut “menghabisi” Samanhoedi dan memuji Tjokroaminoto.

Sejak terpilih di kongres kedua itu, Tjokroaminoto sebagai orang nomor satu di SI tidak tersentuh sekalipun. Dengan komandonya, SI menjadi ormas terbesar di Indonesia kala itu dengan anggota 2,5 juta orang.

Pada akhirnya SI berubah menjadi partai politik dengan nama Partai Sarekat Islam selama dua dekade. Hingga Tjokroaminoto meninggal dunia pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta.

Akhmad Luthfi Iqbalul Khaq

Akhmad Luthfi Iqbalul Khaq

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eleven + 5 =