Belajar Menjadi Independent Woman dari Sayyidah Khadijah

 Belajar Menjadi Independent Woman dari Sayyidah Khadijah

Independent Women ala Sayyidah Khadijah (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Manusia tidak bisa memilih untuk terlahir menjadi perempuan ataupun laki-laki. Tapi manusia bisa menentukan masa depan dan jalan hidup yang hendak ditempuhnya.

Terlahir sebagai perempuan bukanlah hal buruk, bahkan Rasulullah Saw telah mengangkat derajat perempuan dengan kedatangan agama Islam. Sebelumnya, perempuan diperlakukan layaknya binatang. Bahkan setiap bayi perempuan yang lahir di zaman jahiliyah Arab, akan dikubur hidup-hidup.

Sejak kedatangan Rasulullah Saw dengan membawa ajaran Islam, perempuan semakin mampu menempatkan dirinya sebagai manusia yang merdeka. Kini perempuan semakin menunjukkan eksistensinya di segala bidang.

Banyak kelompok-kelompok dan organisasi yang memberdayakan perempuan. Edukasi kaum perempuan terus meningkat seiring kemajuan zaman. Pemikiran perempuan pun kini tak lagi sebatas bersolek, mengurus rumah, dan takdir biologis lainnya.

Semangat Independent Woman

Sekarang perempuan tak lagi hanya mengurus persoalan domestik. Tetapi kini mereka mampu menjadi publik figur yang pengaruhnya luar biasa bagi masyarakat.

Maka, kini banyak bermunculan aktivis-aktivis yang menyuarakan hak-hak perempuan. Hingga muncullah istilah independent woman yang sudah lekas membumi di Indonesia.

Banyak perempuan di sekitar kita yang menjadi single mom ataupun single fighter yang berjuang untuk menghidupi dirinya, keluarganya, hingga anak-anaknya. Rupanya, semangat independent woman ini sudah terlihat dari sosok istri Rasulullah Saw, Sayyidah Khadijah yang dikenal cerdas, mandiri dan kaya raya.

Rasulullah Saw, pun mendukung karir yang dilakukan istrinya tersebut, tanpa memberikan kekangan seperti halnya yang jamak dialami wanita karir sekarang.

Memahami Makna Independent Woman

Banyak sekali ditemukan perempuan yang suka menggantungkan hidupnya dengan orang lain, baik kepada pasangannya maupun keluarganya. Hal ini bukanlah masalah karena sejatinya manusia memang selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Akan tetapi, jika setiap hal dalam hidup harus bergantung dengan orang lain, maka bisa membuat orang lain itu merasa tidak nyaman alias terbebani. Dengan begitu, kini seorang perempuan perlu menjadi pribadi yang mandiri, atau dalam istilah kerennya disebut independent woman.

Independent woman merupakan istilah untuk menyebut perempuan yang mandiri, tidak bergantung terhadap orang lain baik dalam hal finansial maupun lainnya. Perempuan yang independen mampu memenuhi kebutuhan dan keinginannya sendiri tanpa menunggu pemberian dari pria atau orang lain.

Terlihat jelas bahwa independent woman mampu menangani dirinya sendiri tanpa harus mengemis mengharap belas kasih orang lain. Ia juga dikenal sebagai sosok yang pekerja keras dan sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup. You want it, you got it, but you work hard.

Mandiri Bukan Berarti Egois

Meskipun menjadi pribadi yang mandiri dan pekerja keras, seorang perempuan yang independent bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Menjadi mandiri bukan berarti egois karena merasa bisa melakukan segala sesuatu sendiri.

Kita tetap membutuhkan orang lain karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan sendiri. Independent woman memiliki konsep ‘saya berusaha membuat diri saya bahagia dengan usaha sendiri’. Bukan konsep yang menyatakan bahwa ‘saya tidak membutuhkan siapa pun’.

Sebab, tak jarang karena terlalu mandiri, perempuan jadi merasa bisa melakukan semuanya dengan usaha sendiri. Hal ini mungkin terdengar baik karena ia tidak merepotkan rekan-rekannya dan mampu mengatasi masalah hidupnya sendiri. Tapi juga tidak baik karena perempuan yang terlalu mandiri secara tidak sadar membatasi orang lain untuk membantunya.

Kondisi ini tentu akan bermasalah dalam hal hubungan, baik saat berhubungan dengan pasangan maupun hubungan pertemanan biasa. Oleh karena ‘merasa bisa mengatasi segala sesuatunya sendiri’ sehingga, membuatnya tidak menghargai dan menhormati hasil kerja orang lain.

Kita semua memang perempuan yang tangguh, bisa melakukan semua hal tanpa bantuan orang lain. Namun dengan memberikan kesempatan orang lain untuk membantu kita, secara sadar kita membuka peluang untuk membangun sebuah hubungan yang baik. Dengan demikian, relasi kita juga semakin banyak yang mana bisa menguntungkan hidup kita.

Meniru Sayyidah Khadijah

Sebagai muslim, kita bisa meniru sikap independent woman dari Sayyidah Khadijah, istri Rasulullah Saw. Sudah bukan rahasia lagi, Sayyidah Khadijah merupakan perempuan yang mandiri secara finansial serta sosok yang bijaksana.

Ia merupakan seorang saudagar sukses dan kaya raya. Sebab tidak banyak wanita yang mandiri pada saat itu, terlebih menjadi seorang pengusaha kaya pada zaman jahiliyah.

Hal ini menjadi bukti bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah apalagi bodoh. Sebab dengan kekayaannya, Sayyidah Khadijah mampu bersedekah kepada fakir miskin. Bahkan saat sudah menikah dengan Rasulullah Saw, hartanya pun digunakan untuk membiayai dakwah agama Islam.

Di zaman yang mana perempuan masih dipandang sebelah mata saja, Sayyidah Khadijah sudah mampu sukses. Apalagi sekarang dengan segala kemajuan intelektual dan teknologi, tentu bukan hal yang asing lagi bagi para perempuan untuk mandiri secara finansial. Sebab Siti Khadijah pun telah mencontohkan bagaimana perempuan memang bisa menjadi sosok yang independent.

Belajar Bertanggung Jawab dengan Hidup

Meskipun memiliki harta berlimpah, Siti Khadijah pun jatuh hati dengan Nabi Muhammad yang miskin. Namun berkat kecerdasan dan kejujuran Nabi Muhammad serta akhlaknya yang mulia, Siti Khadijah pun yakin untuk menikah dengannya.

Usai menikah, Nabi pun justru semakin memberikan dukungan terhadap karier Siti Khadijah. Usaha perdagangannya pun semakin lancar dan sukses. Bahkan bisa buat membiayai dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Menjadi perempuan yang mandiri adalah hal yang sudah semestinya dilakukan. Adaptasi hidup perlu diasah dan dibiasakan untuk menjadi pribadi tangguh serta tahan banting.

Sebab terlalu bergantung kepada orang lain tidaklah baik, meskipun terhadap keluarga maupun pasangan. Sebab, kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi terburuk yang terjadi mendatang, atau sampai kapan orang tua atau pun pasangan kita selalu ada buat kita. Oleh sebab itu, dengan menjadi perempuan yang mandiri, kita bisa lebih bertanggungjawab dengan hidup ini.

Arini Sa’adah

Freelance Writer

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen − fifteen =