Santri Tak Cuma Ahli Agama Tapi Juga Ahli Bisnis

 Santri Tak Cuma Ahli Agama Tapi Juga Ahli Bisnis

Santri Berwirausaha (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Dulu, para orangtua memasukkan anaknya ke pesantren dan menjadi santri agar ahli dalam bidang agama. Sebab, semua orangtua menginginkan agar anaknya menjadi anak salih, yang bisa menyelamatkan kehidupan mereka di akhirat.

Pesantren adalah satu-satunya cara agar anak memperoleh banyak bekal hidup di akhirat. Di pesantren pula santri bisa mendapatkan ilmu lainnya yang tak kalah penting untuk kehidupannya di masa depan.

Oleh sebab itu, memilih pesantren yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran santri dan menyeimbangkan dunia dan akhirat menjadi penting. Sebab, dalam praktiknya, kegiatan santri sejatinya bukan hanya mengaji tetapi juga belajar mengenai ilmu lainnya.

Lazimnya di kampus-kampus unggulan, untuk tingkatan perguruan tinggi, santri sudah saatnya mendapatkan bekal enterpreneurshipBarangkali santri pada awal pembelajaran akan merasa sangat lelah karena kegiatan begitu padat. Sampai-sampai seperti pengalaman penulis, yang saat itu ingin berhenti.

Berbicara mengenai pengalaman di pesantren dan ilmu enterpreneurship, penulis sendiri memiliki pengalaman tak terduga. Sebab dosen pengajar mata kuliah enterpreneurship yang saya temui ialah seorang kiai.

Di mana, dosen yang mengampu mata kuliah tersebut juga seorang kiai dan wirausahawan. Beliau memiliki pesantren yang sudah terkenal hingga luar negeri, bahkan beberapa kali bule melakukan kunjungan ke sana.

Pesantrennya Para Enterpreneur

Pesantren itu adalah Islamic Studi Center (ISC) Aswaja Lintang Songo. Terletak di Piyungan Bantul Yogyakarta, salah satu pesantren di bawah naungan NU yang telah berdiri sejak 15 tahun yang lalu.

Pesantren tersebut didirikan oleh KH Heri Kuswanto. Salah satu tujuan berdirinya adalah agar santri bisa menjadi insan yang mandiri.

Di sana, para santri tidak hanya belajar agama saja, tetapi ilmu umum juga. Pesantren tersebut masyhur sebagai pesantren enterpreneur.

Program belajar lain yang ditawarkan meliputi kehutanan, pertanian, perikanan, peternakan, dan masih banyak lagi. Para santri mengaji kitab kuning sebagaimana pesantren-pesantren lain ajarkan, disamping itu, para santri belajar mengelola sebuah usaha.

Ketika mata kuliah saya yang beliau ampu selesai, para mahasiswa ditugaskan melihat langsung usaha di sana. Waktu itu, saya dan teman-teman belajar sekaligus praktik pembuatan sabun cuci piring.

Sebelumnya, kami praktik menanam terong dan memetik beberapa buah. Setelah selesai belajar tentang pertanian, kami melihat lahan perikanan yang berada di dekat sawah.

Semua unit usaha tersebut dikelola secara mandiri oleh para santrinya. Para santri dibekali pengetahuan wirausaha agar sewaktu pulang ke kampung mereka siap hidup mandiri bukan hanya bisa mengaji.

Kini, pesantren tersebut telah mengembangkan usaha resto di dekat sawah. Konsep little garden bikin pengunjung betah nongkrong di resto itu.

Santripreneur Mengikuti Jejak Nabi Muhammad

Menurut KH Heri Kuswanto, beliau mendirikan pesantren enterpreneur untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. Dulu, Nabi Muhammad pun berbisnis yakni berjualan di pasar, menggembala kambing, dan masih banyak lagi.

Nabi Muhammad Saw termasuk pebisnis yang sukses. Dagangan Nabi Muhammad SAW selalu laris, pasti pulang dengan keuntungan.

Inilah motivasi bisnis bagi para santri, yakni mencontoh Nabi Muhammad Saw yang bukan hanya ahli dalam bidang agama saja tetapi juga pebisnis. Kemudian, yang oleh KH Heri Kuswanto, ajarkan bisnis bagi santri.

Membuat proposal bisnis, misalnya, mulai dari latar belakang bisnis, marketing plan, hingga finansial management plan, dan management plan.

Dengan terjun langsung ke medan bisnis, para santri belajar mandiri dan optimis. Dalam dunia bisnis, dua hal ini termasuk modal awal yang sangat penting.

Kombinasi Ilmu Agama dan Wirausaha

Membuka bisnis tetapi tidak punya sikap optimis, sama saja sudah menyerah sebelum bertanding. Belum lagi ketika bertemu dengan rugi karena tidak punya pelanggan. Tanpa belajar optimis, usaha yang dirintis bisa cepat gulung tikar.

Pendidikan kewirausahaan selanjutnya adalah kreatif dan inovatif. Para santri mengelola bisnis pesantren dapat mengembangkan usaha sesuai trend masyarakat sehingga bisnis yang dijalani bisa tetap bertahan.

Karakter kreatif dan inovatif ini membantu sikap optimis tadi. Contohnya, terdapat brand pesantren dalam kemasan produk sabun cuci piring, atau menu warung di-upgrade berdasarkan minat masyarakat, dan seterusnya.

Dari sini cukup menarik, bahwa para santri sekarang ini telah dibekali berbagai ilmu pengetahuan. Para santri memiliki pondasi ilmu agama utamanya.

Disamping itu, mereka belajar berwirausaha untuk mempersiapkan kehidupan di masyarakat. Ini yang mungkin jarang diketahui masyarakat umum saat ini, sebab hampir semua pesantren pasti punya usaha.

Ahmad Sangidu

IDU AHM, santri di Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Pendowoharjo Sewon Bantul. Aktif di berbagai komunitas literasi, salah satunya Rumah Membaca Indonesia. Beberapa tulisannya bisa dibaca online di beberapa media. Kontak dengannya bisa melalui email : [email protected]

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one + two =