Potret Budaya Jawa dalam Tafsir Al-Huda Karya Kolonel Bakri Syahid

 Potret Budaya Jawa dalam Tafsir Al-Huda Karya Kolonel Bakri Syahid

Potret Budaya Jawa dalam Tafsir Al-Huda Karya Kolonel Bakri Syahid (Ilustrasi/Istimewa)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Tafsir Al-Huda merupakan salah satu karya tafsir bernuansa lokal karya Kolonel Bakri Syahid yang patut untuk kita apresiasi.

Islam kerap menyerap unsur-unsur lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam sendiri.

Begitu juga di Pulau Jawa di mana dalam aktivitas penafsiran yang terjadi juga turut mempertimbangkan nilai dan budaya lokal.

Beberapa pengertian budaya menurut beberapa ahli salah satu di antaranya adalah tokoh terkenal Indonesia yaitu Koentjaraningrat.

Menurut Koentjaraningrat kebudayaan dengan kata dasar budaya berasal dari bahasa sansekertam “buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal.”

Jadi Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu sendiri.

Dalam Tafsir Al-Huda dijelaskan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Suci, Yang Berhak Disembah, Dipuja, dan Diagungkan.

Namun sebagai suatu karya yang lahir di tengah-tengah lingkungan masyarakat Jawa yang kaya akan nilai-nilai Budaya Jawa, sudah tentu kearifan lokal yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan bepengaruh kuat di dalamnya.

Secara umum, keyakinan tentang Tuhan dalam Tafsir Al-Huda ini selaras dengan keyakinan orang Jawa pada umumnya, yaitu percaya bahwa Allah adalah Sang Pencipta, penyebab atas segala bentuk kehidupan yang ada di Muka Bumi ini.

Dalam kaitan ini, Tafsir Al-Huda mengungkapkannya demikian:

“….. Gusti Allah ingkang Angratoni Langit-Langit lan Bumi, sarta paring piwales dhateng sedaya tumindakipun para manungsa wonten ing Donya. Sedaya pangalembana hamung kunjuk ing Gusti Allah ingkang nitahaken ‘Alam Jagad Pramudita, sarta alam raya wau dados sumber karaharjan lan sumber energi ingkang vital tumrap ngrembakanipun kabudayaning manusiawi…”

 Dari penjelasan yang dikemukakan dalam kitab tersebut, dapat disimpulkan bahwa Allah  yang disebut dengan sapaan bernuansa Jawa “Gusti Allah” adalah asal sekaligus tujuan segala amal perbuatan manusia.

Simbolisasi penghormatan mengenai hubungan manusia dengan Allah Yang Menguasai Segalanya itu diungkapkan dalam bentuk sapaan, antara lain “gusti”, “pepundhen”, dan “ngarsa dalem.”

Penambahan kata “gusti” di depan kata Allah itu sendiri pada dasarnya tidak bertentangan dengan prinsip tauhid karena perkataan “gusti” bermakna yang dipuji dan dijunjung tinggi.

Pada mulanya, istilah “gusti” merupakan sebutan dan sapaan untuk seorang raja dan permaisurinya.

Oleh karena itu, ketika Allah disapa atau disebut dengan sebutan “Gusti Allah” maka ini berarti Dia telah diposisikan sebagai seorang “Raja” sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat Jawa.

Hal yang dipaparkan di atas merupakan contoh atau potret kecil yang menjadi bukti terjadinya kontak antara Budaya Jawa dengan Al-Qur’an dalam kegiatan penafsiran yang dilakukan oleh Bakri Syahid.

Contoh Penafsiran dalam Tafsir Al-Huda

Aspek Teologis

Dalam tafsir ini, misalnya, QS. al-Waqi’ah ayat 11:

 اولئك المقربون

Diterjemahkan menjadi:

Dheweke iku wong kang padha kacedhak marang ngarsa dalem Allah.”

Sebutan “ngarsa dalem” dalam masyarakat Jawa umum digunakan untuk menyebut raja atau sultan yang bermakna “haribaan raja.”

Dalam tafsir ini, ibadah kepada Allah Swt. disebut dengan pepundhen.

Dalam budaya Jawa, sebutan ini digunakan untuk tempat keramat yang dianggap suci, sehingga penggunaannya untuk menyebut Allah Swt.

Sebagai Dzat Yang Mahasuci menunjukkan terjadinya pergeseran pemaknaan.

Di samping itu, Allah Swt. juga disebut Pangeran yang semula digunakan untuk menyebut anak raja atau bangsawan tinggi kerajaan.

Ketika sebutan ini digunakan untuk menyebut Tuhan, sebutan itu bergeser sebagaimana dipahami oleh orang Jawa sebagai kirata basa, yaitu berasal dari kata “pangengeran” yang berarti “tempat bernaung atau berlindung.”

Aspek Pendidikan

Dalam menafsirkan Q.S al-Baqarah ayat 13, oleh Bakri Syahid dijterjemahkan menjadi sebagai berikut:

“Lan ing nalika wong mau didhawuhi “Sira padha imana kaya imane wong-wong kang padha Mu‟min”

Atur wangsulane wongwong mau, “Apa aku padha dikongkon iman kaya dene imane wong-wong kang padha bodho-bodho?” Mangertia, satemene dheweke iku kang bodho, ananging ora padha mangerti!”

Yang dalam bahasa Indonesia artinya artinya sebagai berikut:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang lain telah beriman.”

Mereka menjawab: “Akan berimankah Kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orangorang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.”

Penafsiran Bakri Syahid di atas menunjukkan bahwa terdapat kerja sama yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat terhadap pendidikan.

Terutama adalah pendidikan agama, yang mana fungsinya sebagai pembangunan bangsa dan watak bangsa.

Dari karya Bakri Syahid ini kita dapat melihat perpaduan antara ajaran Islam dengan budaya lokal, dalam hal ini Jawa, terjadi begitu indah. []

Lutfi Maulida

Saat ini aktif di Komunitas Puan Menulis dan Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta. Perempuan yang menyukai bacaan, film/series dan kuliner. Dapat disapa melalui Instagram @fivy_maulidah dan surel lutfimaulida012@gmail.com

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *