Pandemi, Momentum Bangkitnya Otoritas Keagamaan Tradisional Islam

 Pandemi, Momentum Bangkitnya Otoritas Keagamaan Tradisional Islam

Momentum Bangkitnya Otoritas Keagamaan (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Pengajaran keagamaan menjadi otoritas figur ulama atau kiai yang memang memiliki kedalaman ilmu serta pemahaman luas. Tentunya dengan sanad keilmuan yang jelas dalam majelis khusus. Mereka umumnya juga hafal dan menguasai secara mendalam Alquran dan Sunah, serta teks-teks klasik dalam Islam.

Dengan ukuran tersebut, mereka disebut ulama atau mufti yang merupakan sumber rujukan dalam menjawab persoalan-persoalan keagamaan yang dihadapi masyarakat Muslim. Sebagaimana dikatakan oleh Najib Kailani dan Sunarwoto (2019) dalam tulisannya “Televangelisme Islam Dalam Lanskap Otoritas Keagamaan Baru.”

Dua dekade terakhir otoritas keagamaan tradisional mengalami tantangan cukup serius seiring dengan berkembangnya teknologi yang begitu pesat. Arus informasi bergerak dengan sangat cepat membuat siapa saja dapat berbagi, mencari dan menyerap informasi hanya dengan gawai.

Perkembangan internet dan platform media sosial menjadikan tiap orang dapat menyampaikan gagasan dengan hanya mengetikkannya ataupun mengambil gambarnya lalu diupload. Informasi yang tersebar bukan hanya hal umum keseharian tetapi juga menyangkut banyak hal serius termasuk pengajaran keagamaan.

Muncul banyak ustaz dadakan tanpa sanad keilmuan yang jelas, bukan produk pesantren atau Lembaga Pendidikan Islam tetapi berani mengeluarkan fatwa serta berdakwah. Mereka tidak mengusai gramatikal bahasa arab tapi sudah berani menafsirkan Alquran. Padahal itu merupakan kemampuan mendasar teramat penting agar tidak keliru dalam memahami firman Allah.

Ustaz-ustaz yang demikian lebih banyak menguasai panggung media sosial dan menggeser otoritas keagamaan tradisional para ulama, kiai dan guru ngaji di surau. Mereka menghegemoni lini masa dengan fatwa halal haram, hitam putih dan benar salah dengan kecenderungan menghadap-hadapkan suatu perseoalan.

Akibatnya benturan antara sesama umat dan anak bangsa menjadi pemandanagn dalam kesharian, tidak hanya dimedia sosial tetapai juga merembet ke dunia nyata.

Pandemi Momentum Akselerasi

Pandemi merupakan fenomena dahsyat membawa dampak serius bagi dunia yang bahkan sampai sekarang belum berakhir. Bukan hanya berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan jiwa tetapi juga berdampak pada perekonomian, pendidikan dan interaksi sosial.

Orang juga tidak bisa leluasa saling berkunjung, silaturahim ataupun sekedar berjabat tangan. Semua harus menjaga dan waspada bahkan terkadang saling curiga demin menjaga diri.

Namun, di sisi lain pandemi mengharuskan tiap orang untuk berakselerasi dalam pemanfaatan teknologi khususnya internet. Pesantren sebagai tempat dimana salah satu sumber otoritas keagamaan tradisonal berasal merasakan dampaknya.

Kiai dituntut untuk berakselerasi dan melakukan pengajaran kitab serta berdakwah secara daring. Benar saja, para kiai otoritatif mulai akrab dengan media sosial dimana tiap kajian kitab dan pemaparan dakwahnya dapat diakses umat dari berbagai platform digital.

Ini cukup menggembirakan dalam rangka menjaga keseimbangan akses informasi keagamaan lebih dapat dipertanggung jawabkan. Sambil berharap bahwa hadirnya ulama dan kiai khos diplatform media sosial menjadi mata air penghilang dahaga dari pemahaman keislamanan yang damai sejuk dan penuh dengan snyuman.

Pesantren dan Dakwah Modern

Gus Mus atau KH Ahmad Mustofa Bisri pernah mengatakan kalau yang waras jangan ngalah. Hal itu disempaikan dalam kaitannya fenomena caci maki dan ujaran kebencian yang begitu massif. Kini saatnya ulama sebagi penuntun umat diberi ruang seluas-luasnya untuk mendamiakan dan mengajarkan kahlak Nabi.

Pandemi ini harus dijadikan momentum kebangkitan otoritas keagamaan tradisional. Setelah sekian lama, usaha untuk membangkitkan otoritas keagamaan tradisional pun dilakukan oleh beberapa pesantren.

Mereka pesantren yang mengelola website dan media sosial dalam menyebarkan dakwah kepada umat. Sebagaimana yang dilakukan Ponpes Lirboyo, Ponpes API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo dan juga beberapa pesantren lainnya.

Kita patut bersyukur panggung-panggung kajian online kini tidak hanya di isi oleh ustaz-ustaz dadakan tetapi juga para ulama kharisamtik yang sebelumnya ini jauh dari ekspos media. Selain itu muncul juga idola baru ulama-ulama yang berasal dari otoritas keagamaan tradisional dari pesantren seperti KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dan KH. Abdul Qoyyum Mansur (Gus Qoyyum).

Fenomena dan tanda-tanda kebangkitan otoritas keagamaan tradisional ini sangat menggembirakan. Wacana dan pandangan keagamaan moderat dan menentramkan sungguh sangat dinantikan umat. Semoga dengan kebangkitan otoritas keagamaan tradisional ini, Islam di Indonesia dapat menjadi wajah Islam dunia yang penuh dengan kesejukan.

Dawamun Niam Alfatawi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

9 + three =