Khwaja Ahrar: Sosok Penting dalam Tarekat Naqsybandi

 Khwaja Ahrar: Sosok Penting dalam Tarekat Naqsybandi

Kisah Inspiratif Imam Junaid Al-Baghdadi dengan Muridnya (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Syekh Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahrar atau lebih kenal Khwaja Ahrar (w.1490 M) adalah seorang anggota Hanafi Maturidi dari ordo spiritual Sufi Naqsybandi di Asia Tengah. Ia lahir di Samarkand pada tahun 1404.

Semasa hidupnya, Khwaja Ahrar dikenal menjadi salah satu orang terkaya di Asia Tengah, memiliki lebih dari 3500 hektar tanah dan mengirim karavan perdagangan ke Cina. Dalam silsilah tarekat Naqsyabandiyah, ia merupakan silsilah yang ke-18.

Nenek moyangnya telah bermigrasi dari Baghdad dan garis keturunannya terhubung dengan Abu Bakar Siddique dari pihak ayah dan Umar Farooq dari pihak ibu. Khwaja Ahrar sangat terlibat dalam kegiatan sosial, politik dan ekonomi Transaxonia.

Dilansir dari Islamic Scientific Heritage melalui akun Twitternya, Khwaja Ahrar dilahirkan dalam keluarga yang relatif miskin namun sangat spiritual dan pada usia dewasa dia mungkin adalah orang terkaya di kerajaan. Dia adalah rekan dekat semua darwis terkemuka saat itu. Maulana Abdur Rahman Jami adalah muridnya.

Pada tahun 1425, pamannya membawanya ke Samarqand untuk belajar. “Berulang kali jatuh sakit selama studi membuatnya berhenti sama sekali tetapi kondisi spiritualnya berkembang sampai suatu saat dia melihat nabi Yesus dalam mimpinya di mana dia berkata, “Aku akan mengajarimu.”,” tulis laporan Islamic Scientific Heritage, dikutip Selasa (14/9/2021).

Sukses di Bisnis dan Pertanian

Setelah kembali dari Herat pada usia 29 tahun, Khwaja Ahrar telah menyelesaikan pelatihannya. Dia membeli sebidang tanah yang bisa ditanami dan mulai bertani. Tanahnya menghasilkan banyak hasil dan dia bisa tumbuh dengan sangat cepat.

“Dia biasa menghabiskan sebagian besar uangnya untuk orang yang membutuhkan,” sambungnya.

Dalam kurun waktu satu dekade ia memiliki banyak lahan pertanian, bisnis, pemandian Turki, khanqah dan mengirim karavan perdagangan dengan baik ke Cina. Dia biasa menghabiskan sebagian besar uangnya untuk orang yang membutuhkan. Sebagian besar kekayaannya diinvestasikan dalam Wakaf (wakaf agama) untuk yang membutuhkan.

Khwaja Ahrar juga menyebut Kaisar Mughal Babur pada masa pertumbuhannya sebagai Zahiruddin Muhammad secara harfiah ‘Pembela Agama’. Puncak karir Khwaja Ahrar bertepatan dengan perkembangan budaya Herat pada masa pemerintahan Sultan Husain Bayqara.

Dirinya juga diketahui telah berkali-kali merundingkan perdamaian. Murid-murid spiritualnya tercatat telah menunjukkan etika dan moral yang sangat tinggi di hadapannya. Khwaja Ahrar meninggal dunia pada usia 89 tahun, Samarqand, pada tahun 896 Hijriah.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *