Keberagaman Ekspresi Perayaan Maulid Nabi Muhammad

 Keberagaman Ekspresi Perayaan Maulid Nabi Muhammad

Pengakuan Astrofisikawan Yahudi-AS Sebut Muhammad Satu-satunya Manusia Tersukses (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Maulid adalah istilah Arab yang secara harfiah berarti “kelahiran” dan dalam agama Islam, umumnya dikaitkan dengan perayaan maulid Nabi Muhammad (Al-Mawlid al-Nabam al-Sharif).

Biasanya dalam perayaan Maulid, umat Islam melantunkan bait-bait sholawat yang berisi puisi-puisi dan pujian untuk menghormati Nabi Muhammad.

Seperti dilansir Eickelman, perayaan pertama kelahiran Nabi Muhammad tersebut pertama kali tercatat terjadi pada akhir pemerintahan Fatimiyah Mesir (909-1171), namun baru pada tahun 1207 kita mengetahui terjadinya secara besar-besaran.

Perayaan Maulid umum diadakan di Irak utara. Dari abad ke-13 Masehi hingga selanjutnya, ritual perayaan ini menyebar luas di kalangan komunitas muslim.

Secara historis, permulaan perayaan Maulid dikaitkan dengan meninggikan keistimewaan supranatural Nabi.

Meskipun Al-Qur’an mewakili Muhammad sebagai manusia biasa, selain sebagai utusan Tuhan, tidak lama kemudian umat Islam mulai menegaskan yang lebih tinggi keteladanan dan sifat mulia pada pribadinya.

Oleh karena itu, perayaan Maulid selalu menjadi kontroversi karena banyak yang mengutuk

praktik ini sebagai bid’ah, atau sebuah inovasi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Di tengah banyaknya kontroversi, terutama didorong oleh posisi konservatif kelompok Wahhabi, tradisi perayaan Maulid tetap berkembang di Jazirah Arab serta penerimaan atas tradisi tersebut juga cukup populer terhadap Maulid sebagai sesuatu yang terpuji, sebuah inovasi yang baik atau bid’ah hasanah, menunjukkan sebuah prinsip Islam tentang konsensus yang sedang bekerja.

Penyebaran perayaan Maulid erat kaitannya dengan sejarah tarekat sufi, yang memainkan peran sentral dalam menyebarkan tradisi ritual dan literatur liturgi yang terhubung di seluruh umat Islam dunia.

Dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, dari Afrika Timur hingga Komunitas diaspora Barat, berbagai bentuk ritual Maulid telah ada diamati sepanjang sejarah.

Bentuk perayaan Maulid ini bisa sangat beragam, minimal dapat terdiri atas sebuah pertemuan keagamaan skala kecil tunggal untuk melakukan doa memperingati peristiwa kelahiran Nabi.

Sementara di beberapa tempat, seperti di Mesir, Maroko atau Turki, perayaannya mungkin merupakan acara keagamaan tahunan besar berlangsung lebih dari sepuluh hari, yang berpuncak pada malam hari ke-12 bulan Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Islam.

Inti dari perayaan Maulid seringkali berupa pembacaan kitab Maulid, didahului dan diakhiri diselingi dengan pembacaan Al-Qur’an dan lantunan doa keagamaan, puisi dan lagu sholawat.

Jika dilakukan di tempat suci, ritualnya terlihat dekat kemiripan dengan adat berziarah ke makam orang suci.

Di dalam faktanya, selain terutama terkait dengan pelantunan pujian dan doa untuk Nabi, Maulid sering kali melampaui makna aslinya dan mungkin dikaitkan dengan konteks ucapan syukur.

Tentu saja tradisi ini, jauh dari kata homogen, justru menghadirkan keberagaman bentuk-bentuk lokal.

Bahkan seringkali mencerminkan adaptasi terhadap identitas budaya masyarakat komunitas muslim yang terlibat dan menjadi penengah antara Ortodoks dan Islam populer.

Kualitas karakteristik Maulid adalah perpaduan antara mitos dan mistik, ritual dan kitab suci,

agama dan politik atau ekonomi, dan semua aspek ini berkaitan dengan kepentingan rakyat

praktik tradisional.

Selain itu, tradisi ritual yang beragam sering kali mencerminkan hal tersebut ciri-ciri budaya pra-Islam di wilayah tempat mereka berkembang.

Misalnya, ciri menarik dari ritual ini adalah kehadiran umat Kristen dan Yahudi, yang menurut Eickelman beberapa aspek Maulid awal tampaknya dipengaruhi oleh tradisi Kristen Timur Tengah pada periode tersebut, seperti hiburan dan prosesi malam hari

menghormati orang-orang suci.

Hal tersebut sebenarnya bisa dipahami sebagai sesuatu yang wajar terjadi mengingat interaksi antar budaya dan tradisi yang terjadi antar kelompok agama.

Di Indonesia pun perayaan Maulid juga diekspresikan dalam beragam ekspresi perayaan. Seperti di Yogyakarta terdapat perayaan bertajuk “Grebeg Maulud.”

Atau upacara Sekatenan yang juga dirayakan oleh masyarakat muslim Yogyakarta dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad.

Dalam konteks masyarakat muslim global pun juga demikian. Maulid dirayakan dalam beragam ekspresi dan tradisi.

Dan keberagaman bentuk perayaan itulah yang membuatnya menjadi semakin kaya.

Perbedaan dan ragam variasi perayaan Maulid Nabi Muhammad bukan untuk menjadi bahan perdebatan ataupun kontroversi, namun sebagai wujud saling memperindah dan lebih dikedepankan pada substansinya yakni memanjatkan puji syukur serta doa-doa baik atas kelahiran Nabi Muhammad. Wallahu a’lam. []

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *