Ia di panggil Abu Yahya nama lengkap Usaid bin Hudair bin Samak Al-Anshori Al-Asyhali kaum Anshor dari bani Aus. Rasulullah Saw memangginya Abu Isa. Di zaman jahilia, ia di gelari Al-Kamil ‘yang sempurna’ karena luas pengetahuannya dalam bidang baca tulis Bahasa arab dan keunggulannya berenang dan manag. Siapa yang memiliki pengetahuan luas dalam berbagai ilmu, ia digelari Al-Kamil.

Ayahnya bernama Hudhair Kata’ib, seorang pahlawan perang di zaman Jahiliah. Ia pemimpin Kabilah Al-Aus dan pembawa panjinya dalam perang Bi’ats, perang terakhir dan terbesar antara Kabilah Al-Aus dan Al-Khazraj.

Dialah kesatria berkuda andalan suku Aus. Dia pula komandan Aus di hari pertempuran Bi’ats, pertempuran yang mengakhiri rangkaian perang saudara antara mereka dengan suku tetangga mereka, yaitu Khazraj. Tapi sungguh naas, pertempuran yang terjadi enam tahun sebelum hijrahnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah ini menutup riwayat hidup Hudhair Al Kataib; ia tewas dalam perang sebelum berislam.

Ibunya turunan orang mulia dan agung, putri An-Nu’man bin Imru’ul Qais. Ia memiliki peran penting dalam pembinaan dan pendidikan Usaid menjadi orang besar, yang mengutamakan hal-hal besar pula dan menjauhkan dari soal kecil dan remeh.

Usaid dilahirkan di Yastrib dan dibesarkan di antara bukti dan lembah negeri itu. Semua penduduk negeri itu mengenal Usaid sebagai seorang pemuda pemberani, penunggang kuda yang ulung, penyanyi lagu kepahlawanan, dan mencintai budi pekerti yang luhur.

Ayahnya meninggal dunia ketika ia menjelang dewasa, lalu kaumnya mengangkatnya sebagai kepala Kabilah menggantikan kedudukan ayahnya, menanggung beban kehidupan dan perjuangan politik dalam usia muda.

Adapun teman sepermainanya sejak kecil hingga dewasa, yang tidak pernah terpisah dan berjauhan antara keduanya, ialah Sa’ad bin Mu’adz, seorang pemuda pemberani dan terkenal juga sejak zaman Jahilia. Keduanya suka duduk-duduk berduan dibawah pohon rindang yang ada disekitar Bi’ir Maraq di luar kota Madinah. Keduanya membicarakan dan merencanakan berbagai hal, antara lain mengadakan perang balas dendam terhadap Kabilah Al-Kharaz, membalas kematian Hadhir dalam perang Bi’ats.

Pada mula-mula kedatangan Islam, Usaid bin Hudhair menjadi salah satu orang yang tidak menerima ajaran Islam, hingga pada saat Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk meyebarluaskan Islam, dipilihlah Mush’ab bin Umair untuk berdakwah dengan mendatangi rumah-rumah.

Dengan dakwah yang dilakukan oleh Mus’ab bin Umair yang ditemani oleh As’ad bin Zurarah, seorang muslim yang kala itu telah masuk Islam membuat Sa’ad bin Mu’adz marah dan meminta bantuan Usaid bin Hudhair untuk menghalangi keduanya. Akan tetapi Mus’ab memiliki tutur kata yang lembut dan menenangkan sehingga Usaid bin Hudhair pun larut dalam dakwah yang disampaikannya.

Setelah mendengar bacaan Al-Qur’an dan segara menyucikan dirinya, Usaid bin Hudhair pun menjadi seorang muslim dan menambah kekuatan muslim di Madinah. Tak lupa, setelah menjadi muslim, ia pun mempertemukan Sa’ad bin Mu’adz dengan Mus’ab bin Umair dengan harapan saudaranya itu masuk Islam. Alhamdulillah, Sa’ad pun masuk islam bersama kaumnya, bani Abdul Asyhal. Peristiwa ini ditulis sejarah sebagai Bai’atul Aqabah pertama.

Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu turut serta dalam Baiat Aqabah kedua bersama tujuh puluh orang Al Ansar. Beliau adalah salah satu dari kedua belas Nuqaba’ yang saat itu diamanahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengawasi dan bertanggung jawab atas kaumnya yang telah masuk Islam, di samping juga mendakwahkan Islam kepada yang belum beriman. Beliau dipercaya sebagai penanggung jawab muslimin dari suku Aus.

Dengan bekal kecintaan yang maha dahsyat seorang Usaid bin Hudhair kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah, ia senantiasa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan teramat merdu dan dinikmati oleh seluruh penghuni bumi hingga para malaikat.

Usaid adalah salah seorang shahabat Nabi yang memiliki suara yang indah dalam tilawatil Quran. Seperti halnya pada suatu malam ia melafadzkan Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 1-4 yang artinya:

“Alif lam miim, Inilah Kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib yang menegakkan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yang yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 1-4)

Sungguh kekhusyukannya telah membuat kuda berputar-putar tatkala ia membacanya dan melihat ke langit, terlihat olehnya awan seperti payung yang mengagumkan. Sangat indah berkilat-kilat, tergantung seperti lampu-lampu memenuhi ufuk dengan sinarnya yang terang.

Awan itu bergerak naik sampai hilang dari pandangan sehingga langit sangat nampak indah dengan penuh sinar. Hingga esok harinya, Usaid menanyakan peristiwa tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah menjawab “Itu adalah malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Al-Qur’an. Seandainya engkau teruskan, pastilah akan banyak orang yang bisa melihatnya. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.” (HR. Bukhari-Muslim).

Pagi pun menjelang, Usaid bergegas menemui Rasulullah menceritakan yang telah dilihatnya tadi malam. Rasulullah bersabda kepadanya, Itu adalah para malaikat yang mendengar bacaanmu, wahai Usaid. Kalau kamu terus membaca, niscaya orang-orang akan melihatnya dan tidak tersembunyi lagi keadaan mereka (para malaikat) di mata orang banyak.

Rasulullah pun pernah berkata tentang Usaid yakni: “Dia sangat bersih dari yang bersih, sangat halus dari yang halus, penuh iman ketika membaca Al-Qur’an atau ketika mendengarkannya.”

Selain pandai dan merdu dalam membaca kalimah-kalimah Allah, Usaid bin Hudhair pun salah seorang sahabat yang teramat teliti terhadap hadits-hadits Rasulullah sehingga ia mewarnai kehidupan sehari-harinya sesuai dengan firman Allah dan hadits Rasulullah, serta berdakwah dengan bekal keduanya.

Sungguh, Usaid adalah sosok yang patut dirindukan pada masa saat ini dan kecintaannya kepada Al-Qur’an menjadikan muhasabah untuk senantiasa menemani Al-Qur’an.

Usaid meninggal dunia di bulan Sya’ban tahun dua puluh Hijriah. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ikut mengusung jenazahnya ke pemakaman Baqi’ dan menyalatinya di Baqi’. Usaid wafat dengan meninggalkan utang senilai empat ribu dirham. Lalu ahli warisnya berniat menjual kebun peninggalannya untuk menutupi utang tersebut. Mendengar hal itu, Sang Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menawarkan kepada para pemberi utang untuk menangguhkan pelunasan, dengan mereka menerima seribu dirham dari hasil kebun tersebut setiap tahunnya, hingga terlunasi dalam empat tahun. Mereka pun menerima tawarannya.

Sumber.

– Tokoh – tokoh yang diabadikan Al Quran, Dr. Abdurrahman Umairah

– Usaid bin hudhair, muslimahdaily.com