Ummah Wahidah dan Bekal Menghadapi Perselisihan Manusia

 Ummah Wahidah dan Bekal Menghadapi Perselisihan Manusia

Jadikanlah Stimulan untuk Membaca dan Mencari Tahu Lebih Jauh (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Menggaungkan kembali konsep ummah wahidah dalam Islam menjadi tantangan yang cukup berat bagi kaum muslim saat ini. Meski berat, konsep demikian bisa menjadi penawar dan solusi untuk menghadapi perselisihan manusia. Pun untuk menjaga hubungan baik antara Islam dengan kelompok-kelompok non-Islam, baik itu dalam lingkup nasional maupun lingkup global.

Sebab, umat Islam sendiri terdiri dari berbagai macam kelompok dan aliran yang tidak jarang  memunculkan dinamika dan pergesekan antar kelompok dalam kehidupan sosial dan politik. Hal itu kemudian sering berujung pada perselisihan dan bahkan sentimen negatif pada kelompok yang berseberangan.

Konsep ummah wahidah sendiri ada di dalam Alquran  dan menjadi bahan kajian dalam keilmuan Sosiologi Islam. Sosiologi Islam menurut Bambang Pranowo memiliki tiga arti, yakni sosiologi yang menjadikan masyarakat Islam sebagai sasaran kajian. Kedua, kajian sosiologis yang dilakukan oleh ilmuwan muslim, dan kajian yang menjadikan ajaran-ajaran Islam tentang kehidupan sosial sebagai sasaran.

Konsep ummah wahidah termasuk bagian dari kajian Sosiologi Islam dalam arti ketiga, dimana nash-nash dalam Alquran dan Hadis yang mengandungi ajaran mengenai sosiologi dianalisa, ditafsir dan disimpulkan. Tema sosiologi yang dimaksud dalam ummah wahidah adalah bagian dari kajian mengenai konsep masyarakat.

Pakar Sosiologi Islam, Ali Syari’ati, mendefinisikan ummah sebagai himpunan manusiawi yang seluruh anggotanya bersama-sama menuju satu arah, bahu membahu, dan bergerak secara dinamis di bawah kepemimpinan bersama.

Ummah Wahidah dalam Ayat Alquran

Kata ummah dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 52 kali dalam Alquran yang memiliki berbagai macam arti. Sembilan di antaranya disandingkan dengan lafadz wahidah yang merujuk pada “agama tauhid/kepercayaan pada Allah yang tunggal” dan “pengikut umat Nabi Muhammad SAW.”.

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 213 disebutkan, manusia tadinya merupakan umat yang satu (كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً) dalam keimanan pada Allah dan tujuan amal perbuatan untuk memperbaiki kehidupan dan berbuat baik, sebelum akhirnya saling berselisih (QS. Yunus ayat 19).

Dimuat dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib, sebagian ulama (salah satunya Ibnu Abbas RA. dan Mujahid) berpendapat, ummah wahidah dalam ayat ini merujuk pada Nabi Adam AS dan putra-putrinya. Semula ini merupakan satu kesatuan atas kebenaran, sebelum terjadi perselisihan antara mereka dalam peristiwa Habil-Qabil yang disebabkan oleh kedengkian, sebagaimana diceritakan Alquran dalam QS. Al-Maidah ayat 27.

Sebagian ulama’ juga menafsirkan, ummah wahidah di sini merujuk pada Islam sebagai agama fitrah, kemudian manusia saling berselisih paham dalam berbagai agama-agama. Pendapat ini berdasar pada hadis Nabi, “Setiap anak dilahirkan atas fitrah, lalu kedua orangtua-nya mengingkarinya, untuk menjadikanya orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari).

Keadaan dunia sekarang yang terdapat banyak sekali agama dan kepercayaan  merupakan kehendak dari Allah SWT, karena seandainya Dia berkehendak menjadikan manusia kembali sebagai umat yang satu, tentu mudah bagi-Nya. Dalam QS. Hud ayat 118, Allah SWT. berfirman,

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

Artinya :

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat).” (QS. Hud ayat 118)

Allah SWT. tetap menghendaki para manusia saling berselisih dalam beragama. Dalam ayat lain, QS. An-Nahl ayat 93 yang membicarakan hal yang sama, Allah SWT. menghendaki untuk menyesatkan dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

Namun walau perselisihan antar manusia merupakan kehendak-Nya, manusia diberi isyarat untuk terus memperjuangkan manusia sebagai umat yang satu dalam menyembah Allah SWT. dan  tidak berselisih, sebagai bentuk pertanggungjawaban manusia yang merupakan makhluk yang berikhtiar dan berakal (QS. An-Nahl ayat 93).

Alquran tidak hanya membicarakan tentang fakta historis ummah wahidah manusia di masa lalu dan dikehendakinya perselisihan manusia. Akan tetapi juga berbicara tentang bekal dan upaya manusia untuk menghadapi konsekuensi dari berselisihnya manusia :

  1. Tauhid sebagai pemersatu

Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 92 : “Sungguh (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” QS. Al-Mu’minun ayat 52 juga memfirmankan hal senada. Dalam hadits, Rasulullah SAW. bersabda, “Kami para Nabi seperti ibarat saudara-saudara seayah, agama kami satu (HR. Bukhari & Muslim).

Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an menulis, ayat ini mengisyaratkan umat dapat menampung perbedaan kelompok-kelompok. Betapapun kecil jumlah mereka, selama masih pada arah yang sama, yaitu menyembah Allah SWT. Maka, seharusnya perselisihan sebesar apa pun antar individu maupun kelompok akan terasa ringan untuk diselesaikan, jika kita memandang bahwa kita disatukan oleh kepercayaan pada Tuhan yang sama.

  1. Diutusnya para Nabi dengan membawa kebenaran kitab suci

Di tengah-tengah perselisihan berbagai umat, Allah SWT. mengutus para Nabi untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan lewat kitab suci yang berisi kebenaran. Fungsi kitab dan ajaran yang dibawa oleh para Nabi adalah memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang diperselisihkan. Kebenaran dalam kitab suci merupakan kebenaran yang nyata sehingga tidak perlu diperselisihkan, kecuali oleh orang yang bersifat dengki dan suka melakukan pelanggaran.

  1. Karunia Allah SWT. berupa hidayah dan rahmah

Di antara berbagai perselisihan manusia, Allah SWT. memberi petunjuk bagi orang-orang beriman kepada jalan yang benar (QS. Al-Baqarah ayat 213) serta mengecualikan orang-orang yang dikasihi-Nya terjerumus dalam perselisihan (QS. Hud ayat 119 dan QS. Asy-Syura ayat 8). Sebagai hamba, kita harus terus berusaha untuk menuju terwujudnya ummah wahidah, sambil berharap mendapat hidayah dan rahmah dari Allah SWT.

  1. Pandangan mementingkan akhirat untuk memutus potensi manusia menjadi ummah wahidah dalam kekafiran

Allah SWT. berfirman dalam QS. Az-Zukhruf ayat 33 : “Dan sekiranya bukan karena menghindarkan manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran). Pastilah sudah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada (Allah) Yang Maha Pengasih, loteng-loteng rumah mereka dari perak, demikian pula tangga-tangga yang mereka naiki,…”

Allah lantas memberitahu manusia tentang kerdilnya kesenangan dunia dan disiapkanya kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal (QS. Al-A’la ayat 16-17). Hal tersebut ditujukan bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Az-Zukhruf ayat 35).

Peringatan Allah tersebut tak lain ialah untuk menghindarkan manusia menjadi umat yang satu dalam kekafiran akibat melihat orang kafir bergelimang harta. Sebab, banyak manusia yang mengira harta yang banyak adalah bukti cinta Allah SWT.

  1. Berlomba-lomba dalam kebaikan

Salah satu faidah kenapa Allah SWT. tidak menghendaki adanya ummah wahidah disebutkan dalam QS. Al-Maidah ayat 48, yaitu Allah hendak menguji manusia terhadap karunia yang telah diberikan-Nya. Kemudian Allah memerintahkan manusia dalam mengelola karunia yang diberikan, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dengan kelompok-kelompok atau umat yang berbeda.

Pada intinya, keberagaman yang ada pada manusia merupakan ketetapan dan kehendak Allah SWT. Konsep ummah wahidah dalam Islam hadir bukan untuk menentang hal itu, melainkan justru menyadari ketetapan tersebut dan segala konsekuensinya. Untuk kemudian Islam merumuskan hal-hal untuk merespon adanya keberagaman tersebut.

Oleh karena itu, perbedaan dalam Islam bukanlah alasan untuk berpecah belah. Islam memperkenalkan diri sebagai agama yang menampung beragam perbedaan kelompok-kelompok di dalamnya. Sehingga yang seharusnya nampak dari Islam adalah persatuannya, bukan perselisihanya.

Allahu a’lam bi showab.

Nuzula Nailul Faiz

Alumni Perguruan Islam Matholi'ul Falah dan PMH Pusat Kajen Pati, santri di PP Nurul Ummah Yogyakarta dan mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *