Rezim Komunis Runtuh, Ini Lika-Liku Perjalanan Islam Azerbaijan

 Rezim Komunis Runtuh, Ini Lika-Liku Perjalanan Islam Azerbaijan

Rezim Komunis

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Sejarah mencatat perjalanan umat Islam di negeri Azerbaijan saat rezim komunis runtuh. Inilah lika-liku panjang perjalananan umat muslim yang tidak mudah dilalui.

Sebelum rezim komunis yang runtuh mengusai Azerbaijan, mayoritas penduduk di negeri ini adalah pemeluk Islam. Namun setelah rezim komunis mengusai negara tersebut, Islam benar benar nyaris tak terdengar.

Lika-liku perjalanan Islam diAzerbaijan beralih menjadi ateis. Setelah rezim komunis runtuh yang ditandai dengan hancurnya Uni Soviet berlahan Islam mulai eksis kembali dan menemukan bentuknya kembali hingga saat ini.

Penting untuk diketahui, jatuhnya Uni Soviet dan runtuhnya ideologi komunis memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap nasib Islam dan agama agama lain di negera Azerbaijan.

Selama bertahun-tahun sejak kemerdekaannya, penduduk telah mencoba untuk pulih dari tujuh dekade totaliterisme serta perlahan mulai menjauh dari paham ateisme yang dikampanyekan rezim komunis.

Fargana Gasimova seorang penyanyi Azerbaijan memiliki kenangan tentang Islam selama periode Soviet adalah sebuah keyakinan yang harus disembunyikan. 

Kakek neneknya akan sholat dan berpuasa secara diam-diam, berhati-hati untuk menyamarkan agama mereka dari aparat pengintai pemerintah Soviet.  

“Kami tidak diizinkan untuk berdoa atau mengenakan jilbab (jilbab) di Azerbaijan selama Uni Soviet,” kata Fargana kepada Al Jazeera dikutip Selasa (29/9/2020).

Ia menambahkan, saat itu hanya Ateisme yang disebarkan ke seluruh Uni Soviet, termasuk Azerbaijan. Meskipun Islam di negara itu berasal dari abad ketujuh, praktik Islam selama pemerintahan Soviet ditekan dan diatur dengan ketat.  

“Setelah kemerdekaan pada 1991, kami mendapat banyak kesempatan (untuk mempraktikkan agama), dan kami memperoleh kebebasan beragama kami,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah berakhirnya rezim otoriter komunis, dirinya dan perempuan muslim lainnya mulai bisa bebas mengenakan hijab. “Saya bisa dengan mudah memakai hijab di saluran TV kami dan di aula konser,” sambungnya.

Sebagai informasi, negara yang terletak di kaki barat Laut Kaspia, sempat menikmati kemerdekaan dari Rusia pada tahun 1918, mendirikan republik sekuler yang menjamin kebebasan menjalankan agama.

Namun, Tentara Merah menginvasi pada 1920, memaksa negara itu masuk ke dalam Uni Soviet selama tujuh dekade. Muslim Azerbaijan, seperti warga Soviet lainnya yang beragama Islam, Yahudi, atau Kristen, menghadapi pembatasan berat dalam praktik keagamaan mereka. 

“Orang tidak diizinkan untuk mendapatkan pendidikan agama,” kenang Haji Salman Musayev, Wakil Ketua Kantor Muslim Kaukasus (CMO). 

Pembatasan tersebut adalah bagian dari paket tindakan yang lebih luas yang bertujuan untuk melumpuhkan praktik keagamaan di negara tersebut.  

Meski praktik keagamaan Soviet bertahan selama beberapa dekade, itu tidak cukup untuk sepenuhnya meniadakan peran agama dalam kehidupan Azerbaijan.

“Kami hampir tidak bisa mengirim satu atau dua orang untuk naik haji. Sekarang kami bisa mengirim sebanyak yang kami mau,” ujarnya.

Setelah rezim Uni Soviet bersama paham Komunisme runtuh, kini tempat tempat ibadah mulai menjamur kembali. Baik tempat ibadah untuk Muslim maupun umat Nasrani. (Hidayatuna/MK)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *