Pesantren Yanbu’ul Ulum Gelar ToT Dai Digital

 Pesantren Yanbu’ul Ulum Gelar ToT Dai Digital

Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum Lumpur, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah menggelar acara ToT Untuk Dai Digital

HIDAYATUNA.COM, Brebes — Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum Lumpur, Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah menggelar acara Training of Trainer (ToT) Dai Digital. Kegiatan berlangsung, sejak Jumat 21 Februari 2020 sampai Ahad 23 Februari 2020.

Mewakili Pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum, M. Najih Arromadloni mengatakan kiprah kaum santri dalam bela negara layak ditulis dengan tinta emas, baik pada era pra-kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan.

Ia juga mengatakan bahwa program ini diinisasi atas dasar keprihatinan terhadap ancaman negara saat ini yang bersifat non-konvensional, seperti propaganda dan intoleransi.

Najih menyatakan bahwa negeri ini didirikan atas dasar persatuan dalam kebhinekaan. “Sikap eksklusif dan intoleran saat ini sedang meruntuhkan sendi-sendi kehidupan bernegara kita,” jelasnya dikutip Ahad (23/2/2020).

Dalam ToT Dai Digital ini, menghadirkan dua narasumber yaitu Habib Husein Ja’far selaku Youtuber dan Kreator Konten Digital, dan Ahmad Muntaha selaku penulis konten keislaman dan kebangsaan.

Ahmad Muntaha yang juga penulis serial buku Fiqih Kebangsaan ini menyampaikan bahwa bela negara sudah menjadi DNA kaum santri. Bagi kaum santri, agama dan negara bukan sesuatu yang harus dibenturkan. Termasuk dasar negara Pancasila, baginya merupakan ijtihad yang sah dari ulama masa lalu yang harus dijaga dan dilestarikan oleh generasi masa kini, dan sama sekali bukan musuh agama.

“Saat ini agama seakan berbenturan dengan kehidupan sosial-politik bernegara karena di satu sisi, agama berada di tangan orang yang tidak tepat. Di sisi lain, politik tidak dipegang oleh para negarawan,” ujar Muntaha.

Karena itu ia menyatakan bahwa otoritas keagamaan harus dikembalikan kepada orang-orang pesantren yang memang kompeten karena menekuni keilmuan keagamaan secara serius dan komprehensif. Program ini digagas dalam rangka menggali khazanah keilmuan pesantren dalam rangka menjawab tantangan-tantangan bernegara.

Melalui program ini diharapkan para santri dapat mengkaji ulang turats (kitab-kitab klasik) kemudian mengontekstualisasikannya dengan kondisi sosial masyarakat pada saat ini.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

11 + 1 =