Tempat Bersejarah

PESANTREN CIPASUNG

Pondok Pesantren Cipasung di Singaparna, Tasikmalaya ini berdiri pada 1931. Pondok ini didirikan oleh KH Ruhiat diatas lahan sawah ayahnya, H. Abdul Ghofur. Pesantren Cipasung merupakan pondok yang berciri khas “salafi”. Tak hanya mempelajari kitab kuning, pesantren ini juga telah berkembang sehingga mereka juga mengadakan pendidikan formal mulai jenjang PAUD, TK, MI, MTs, SMP Islam, SMA Islam, SMK Islam, MAN, hingga perguruan tinggi seperti IAIC, STTC, STIEC dan Pascasarjana IAIC. 

Pada saat itu disekitar Pesantren Cipasung masyarakatnya masih tidak begitu mengerti tentang agama. Tapi Alhamdulillah masyarakat menerima dengan baik pembangunan pesantren tesebut, ini ditandai dengan keikutsertaan masyarakat dalam membangun fisik pesantren. Secara umum, Pesantren Cipasung memiliki memiliki tujuan membina warga Indonesia yang memiliki kepribadian muslim dan menanamkan rasa keagamaan dalam semua aspek kehidupan. Sementara secara khusus, pondok ini memiliki tujuan mendidik santri menjadi seorang muslim yang berakhlakul karimah, memiliki kecerdasan, serta sehat secara lahir dan batin. 

Pada awalnya santri Pesantren Cipasung hanya 40 orang, ada juga santri kalong, yaitu mereka yang hanya datang untuk belajar pada malam hari dan tidak menginap di pondok. Mereka umumnya berasal dari kampung-kampung disekitar Pesantren Cipasung. 

Perjuangan KH Ruhiat dalam membangun Pesantren Cipasung tidaklah mudah, pada mas itu, Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Ketahanan aqidah dan jiwa patriotisme KH Ruhiat dari pesantren mengundang kecurigaan Belanda sehingga menganggap Pesantren dapat mengancam kedudukan Belanda. Ketakutan Belanda membuat mereka menangkap dan memenjarakan para Ulama, tak terkecuali KH Ruhiat, beliau dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari. 6 Maret 1942, Selang berapa bulan setelah ia dibebaskan, ia ditangkap dan dipenjara kembali di Ciamis dan bebas kembali 3 hari kemudian, setelah jepang memukul mundur Belanda. 

Baca Juga :  Masjid Berusia 7 Abad Yang Berpindah Sendiri

Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat sekitar, pada tahun 1935 didirikanlah Sekolah Agama (Madrasah Diniyah) untuk membina anak-anak usia muda. Pada tahun 1937didirikanlah KKM (Kader Muballigh wal Musyawirin) sebagai wadah pelatihan dakwah dan musyawarah bagi santri-santri yang sudah dewasa. 

Pada tahun 1950 didirikanlah Sekolah Pendidikan Islam Pertama yang kemudia berubah nama menjadi Sekolah Menengah Pertama Islam pada 1953. Pada tahun 1954 didirikan Sekolah Rendah Islam yang kemudian menjadi Madrasah Wajib Belajar dan seiring perkembangannya Madrasah ini berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah. 

28 November 1977, pendiri Pesantren Cipasung meninggal dunia. KH Ruhiat meninggalkan dua orang istri dan 19 anak. Untuk meneruskan perjuangan beliau, anaknya KH Muhammad Ilyas Ruhiat dikukuhkan sebagai pimpinan Pondok Pesantren Cipasung. Pada tahun 1982 didirikan Biro Pengembangan Dan Pengabdian Masyarakat (BP2M). Selain itu didirikan juga koperasi Pendidikan Pondok Pesantren Cipasung juga ditambahnya Fakultas Syariah untuk melengkapi Fakultas Tarbiyah yang sudah ada sebelumnya dalam program Sarjana di Institut Agama Islam Cipasung. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close