Pesantren AL-Falah Mojo-Ploso, Kediri

 Pesantren AL-Falah Mojo-Ploso, Kediri
Digiqole ad

Sejarah Berdirinya. Berawal dari keinginan KH. Ahmad Djazuliuntuk mengamalkan ilmu yang didapatnya dari kota Makkah al-Mukaaromah, ia kemudian merintis berdirinya sebuah pondok pesantren. Bersama dengan Muhammad Qomar yang merupakan muridnya, ia merintis pesantren dengan cara yang sangat sederhana. Ia memulainya dengan mengadakan sebuah pengajian, yang ia rintis sejak masih ada di desa karangkates.

Pengajian dimulai pada pertengahan tahun 1924, dimana pada awalnya santri KH. Ahmad Djazuli hanya 12 santri, namun sering berjalannya waktu semakin banyak santri yang ingin mengaji  kepada beliau. Sehingga setengah tahun kemudian, tepatnya pada 1 Januari 1925, beliau mendirikan sebuah pesantren dengan memanfaatkan serambi masjid sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Tanpa terasa, santri KH Ahmad Djazuli sudah berjumlah 100 orang, ia kemudian menggunakan kantor kenaiban (sekarang KUA) sebagai tempat belajar mengajar, namun lama kelamaan tempat itu tak lagi bisa digunakan karena mengganggu aktivitas pegawai dari kantor kenaiban itu sendiri.

Untuk itu, akhirnya pada tahun 1939, KH. A. Djazuli membangun asrama santri yang dilengkapi musholla yang sekarang bernama komplek A. Seirama dengan pergantian pemerintahan dari Belanda ke Jepang, juga membawa suasana kelabu bagi pondok pesantren, Jepang banyak mencurigai kegiatan-kegiatan di pesantren. Gerak-gerik Kyai diawasi,dan pengajian berlangsung dalam suasana yang tidak bebas. Kondisi semakin memburuk dengan masuknya Agresi Militer Belanda I pada 18 September 11948, dimana para santri yang memiliki semangat jihad turut membantu TNI mengusir Belanda.

Oprasional pondok kembali normal setelah agresi militer Belanda berlalu, dan setelah dua tahun berlalu, kehadiran pesantren ini bagai gayung bersambut. Pondok pesantren Al-Falah mengisi kekosongan pendidikan yang telah hancur berkeping-keping karena pertempuran. Simpati warga Kediri mereka tunjukkan dengan cara mengirim anak-anak mereka untuk “nyantri” di tempat KH. A. Djazuli.

Masyarakat sekitar pondok pesantren Al-Falah Ploso pada awalnya tergolong masyarakat yang abangan, atau jauh dari agama. Apalagi para pejabat dan bandar judi yang merasa terancam dengan kehadiran pondok ini, sehingga mereka membuat isu-isu sesat terhadap pondok pesantren tersebut. Fenomena tersebut menjadi tantangan berat bagi pesantren yang menjadi pusat kegiatan simakan Al-Qur’an Mantab ini. Namun para pengurusnya tidak merasa gentar, justru hal ini membulatkan tekad mereka untuk mengubah masyarakat abangan tersebut menjadi masyaralat yang islami. Hasilnya pun bisa dilihat saat ini dengan perkembangan pondok pesantren dan kehidupan islami yang tercipta di sekitar pesantren.

Pondok pesantren tersebut memiliki letak geografis yang sangat menguntungkan. Pesantren ini terletak di tepi sungai Brantas yang mana airnya mengalir deras di semua musim. Hal ini memberikan banyak keuntungan terhadap pesantren dan masyarakat sekitar. Dan dipinggir sungai inilah terletas desa Ploso, 15 km arah selatan dari Kediri.

Organisasi Kelembagaan

Pondok Pesantren Ploso menganut sistem manajemen traditional, dalam arti, kepemimpinan tunggal yang tersentral pada sosok Kyai yang memegang otoritas tertinggi dalam pengelolaan pesantren. Manajemen tersebut terus berlangsung hingga saat ini, dan hingga saat ini pesantren ini diasuh oleh KH. Zainuddin Djazuli putra Kyai Djazuli.

Dalam mengasuh pesantren, KH Zainuddin sering dibantu oleh adik-adiknya dan saudara-saudaranya, seperti KH Nurul Huda (Gus Dah) yang mengasuh pondok pesantren putri, KH. Fuad Mun’im, KH. Munif, Bu Nyai Hj. Badriyah dan Gus Sabut putra almarhum Gus Mik (yang mengomandani jama’ah sima’an Al-Qur’an Mantab). Pondok pesantren Al-Flaah Ploso Kediri sebagaimana kebanyakan pesantren di Kota Kediri merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran dengan model Salafiyah. 

Program Pendidikan

Adapun program pendidikan dan pengajaran di Ponpes Al-Falah terdiri dari :

  • Madrasah Ibtidaiyah (3 tahun)
  • Madrasah Tsanawiyah (4 Tahun)
  • Majelis Musyawarah Riyadhotut Thalabah (5 tahun )

Pada tingkat Ibtidaiyah materi yang banyak ditekankan adalah masalah akidah dan akhlak, sedangkan untuk tingkat tsanawiyah ditekankan pada ilmu Nahwu, Sarf, ditambah Fiqh dan faraidh serta Balaghah. Adapun majelis musyawarah merupakan kegiatan kajian kitab Fiqh, yaitu Fathul Qorib selama satu tahun, kajian kitab Fathul Mu’in selama satu tahun dan fathul Wahab tiga tahun.

Kegiatan madrasah dilakukan pada pukul 07.30-10.30, mulai hari sabtu hingga hari kamis. Dan setiap ba’da Isya’ dilaksanakan musyawarah sampai pukul 22.30. adapula Madrasah Nahariyah dan Madrasah Lailiyah. Adapun Madrasah Nahariyah adalah kegiatan sekolah bagi siswa diluar pondok yang tidak dapat mengikuti sekolah pagi dengan biaya yang lebih ringan. Kegiatan sekolah ini dimulai pada pukul 13.30-15.00. Sedangkan Madrasah lailiyah, atau sekolah malam dimulai pada pukul 19.00-20.30 untuk siswa pondok yang juga mengikuti sekolah umum.

Sistem yang diterapkan pada Majelis Musyawarah Riyadhotut Thalabah  adalah kemandirian berfikir santri, keberanian mengambil keputusan yang mengambil keputusan dengan benar, terutama masalah-masalah fiqhiyah sesuai dengan perkembangan sosial masyrakat. Selain mengikuti kajian diatas, para santri juga diterjunkan untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakatguna memberi pencerahan sekaligus sebagai sarana praktikum para santri. Dengan demikian setelah menamatkan jenjang ini, santri benar-benar menjadi generasi tangguh yang sanggup menghadapi tantangan zaman.

Selain program diatas, masih ada kegaitan ekstra yang harus diikti oleh para santri. Yaitu latihan berorganisasi, baya tahlil, uhafadhoh, dibaiyah, kaligrafi dll. Program yang terakhir adalah sebagai wahana untuk melatih dan mencetak kader-kader syuriah dan ahli bahtsul masail. Dari majelis telah lahir majelis-majelis syuriah NU di bidang bahtsul masail yang handal, diantaranya KH. Ardani Ahmad, KH. Arsyad, dan KH. Fanani. Mereka direkrut menjadi anggota bahtsul masail di PWNU Jatim.

Untuk menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar di pondok pesantren yang memiliki santri kurang lebih 2000 santri ini, mereka hanya mengandalkan iuran santri atau SPP yang jumlahnya hanya sedikit.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 + eight =