HIDAYATUNA.COM, Bali — Dalam dialog ‘Mewaspadai Pola dan Gerakan Terorisme di Bali’ yang digelar di hotel Taman Wisata, Denpasar, Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bali, H. Yunus, menyatakan bahwa Pulau Dewata yang merupakan miniatur Indonesia dan sebagai pusat wisata, harus dijaga oleh semua pihak.

Selain itu, ia dan rekan-rekannya nyatakan siap jaga NKRI dari radikalisme. Bahkan, pihaknya mendeklarasikan diri akan selalu siap sebagai garda terdepan dalam memerangi terorisme dan menjaga keamanan Pulau Dewata dan sekitarnya.

“Menjaga pulau Bali dengan bersinergi bersama pihak terkait itu wajib hukummnya bagi kami,” ungkapnya, di Bali, Senin (02/12/2019).

Pada kesempatan yang sama, Ni Luh Wiratni menyampaikan dalam sambutannya, Pemprov Bali dengan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali Pemerintah Provinsi Bali memprioritaskan keamanan Bali.

“Dalam Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kami menjadikan keamanan sebagai prioritas. Oleh sebab itu, jangan ada yang mau diiming-imingi bidadari untuk melakukan aksi teror,” ujar Wiratni.

Di sisi lain, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menyampaikan, pelaku teror tidak berkaitan dengan agama manapun. “Indonesia terdiri dari beragam agama dan 700 lebih suku. Semua agama mengajarkan ajaran yang adliuhung. Tidak ada yang mengajarkan aksi teror,” ungkap Sukahet.

Di samping itu, H.Taufiq As’ady, meminta sesama warga bangsa tetap waspada terhadap orang yang tidak jelas identitasnya. “Kita welcome kepada para tamu, tapi harus tetap waspada terhadap orang yang tidak jelas identitasnya, siapa tahu ada yang misterius dan membawa barang-barang berbahaya,” tutur H.Taufiq.

Sedangkan, Prof. IK Rai Setiabudhi menyampaikan, tanda-tanda orang sudah terpapar radikalisme bisa terlihat dari perilakunya yang berubah menjadi antisosial, menjauhi lingkungam sekitar dan hanya nyaman dengan komunitasnya yang tersembunyi.

Baca Juga :  Bupati Bondowoso: Lahir Pendakwah NU Handal Ketika Gedung NU Center Usai

“Seorang yang terpapar itu anti sosial, tiba-tiba mengalami perubahan sosial terhadap pandangan politik dan agama, bahkan memutuskan hubungan dengan keluarganya, orangtuanya sendiri,” ungkap Prof. IK Rai.

Dalam dialog tersebut, dihadirkan tiga pembicara, antara lain Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali H. Taufiq As’ady, Ketua FKUB Indonesia Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, dari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bali, Prof. Ika Rai Setiabudhi. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Tanfidziah Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Bali H. Abdul Aziz dan dibuka oleh Asisten II Bidang Kesra Pemerintah Provinsi Bali Ni Luh Wiratni mewakili Gubernur Bali.
GP Ansor Bali Akan Bekerjasama dengan Pemprov Bali Jaga Keamanan.