Film ‘Jejak Langkah 2 Ulama’: Beda Jalan tapi Satu Muara

 Film ‘Jejak Langkah 2 Ulama’: Beda Jalan tapi Satu Muara

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Meski ada beberapa perbedaan dalam aktivitas organisasi atau manhaj dakwahnya, Muhammadiyah dan NU sejatinya memiliki banyak persamaan serta selalu berdampingan selama hampir satu abad.

Salah satunya adalah KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) sama-sama pernah menjadi santri tokoh ulama besar dari Semarang, Kiai Shaleh Darat.

Hal itu yang menjadi alasan film ‘Jejak Langkah 2 Ulama’ ini tengah diproduksi. Selain itu, film garapan Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Ponpes Tebuireng, Jombang itu berupaya mengembalikan kisah historis pada tempatnya semula.

Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz itu mengatakan bahwa film ini menegasikan upaya sekelompok kecil dan individu yang selama ini berusaha membelokkan dengan menempatkan kedua tokoh (Kiai Dahlan dan Kiai Hasyim) seolah-olah berseberangan.

“Perbedaan amaliyah pengikut Muhammadiyah dan NU yang terus dibesar-besarkan itu sebenarnya bersifat furu’iyah. Ini untuk syiar kita, barangkali selama ini syiar-syiar datang dari mereka,” paparnya, Sabtu (02/11/2019).

“Kita coba untuk menghadirkan kembali bagaimana kehidupan ulama zaman dahulu itu banyak yang dibelokkan kita coba luruskan,” tambahnya.

Selain itu, film ‘Jejak Langkah 2 Ulama’ tersebut mengambil lokasi syuting di empat tempat, Yogjakarta, Jombang, Kediri, dan Bangkalan. Sedangkan film ini tidak melibatkan aktor dan aktris terkenal.

“Para pemain sepenuhnya berasal dari kader Muhammadiyah dan NU, termasuk santri, yang sebelumnya melalui proses casting,” ungkapnya.

Di sisi lain, sekarang penggarapan film tersebut sudah memasuki proses editing. Rencananya, pemutaran film Jejak Langkah2 Ulama tidak dilakukan di gedung bioskop.

“Tim manajemen telah sepakat memutar film secara marathon dari satu pesantren ke pesantren, madrasah, dan organisasi dibawah naungan NU dan Muhammadiyah,” tukasnya.

Menurut sejarah, Kiai Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah (1912), ormas Islam yang berdiri 14 tahun lebih tua sebelum Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926.

“Saat nyantri kepada Kiai Sholeh, Ahmad Dahlan masih berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari 14 tahun. Dari mata air pengetahuan yang sama dua pemuda yang terkenal cerdas itu menyerap pelajaran ilmu fiqih, tasawuf dan berbagai macam ilmu agama lainnya,” terangnya.

Adapun soal basis umat keduanya yang berada di kawasan kota dan pedesaan, itu hanya masalah pembagian peran.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *