HIDAYATUNA.COM, Jombang – Radikalisme merupakan sistem yang akan digunakan untuk menghancurkan Bangsa Indonesia. Santri adalah benteng utama untuk menangkal gerakan dan penyebaran radikalisme. Jika ada santri radikal, dipastikan bukanlah seorang santri.

Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Komjen Pol Dharma Pongrekun seusai menjadi narasumber diskusi dalam rangka Festival Qur’ani se-Jawa Timur di Pesantren Tahfidhul Qur’an Cinta Rasulullah, Jombang, seperti dilansir SINDOnews, Senin (13/1/2020).

“Santri ini yang menjadi benteng utama penangkal radikalisme. Kalau dia radikal, pasti bukan santri. Karena mereka tidak mengetahui konsep-konsep yang tadi ada. Seperti cinta Tanah Air dan konsep-konsep lainnya yang ditelurkan KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nadhlatul Ulama),” kata Komjen Pol Dharma.

Dharma Pongrekun mengungkapkan, radikalisme merupakan sebuah industri yang sengaja diciptakan dan selalu berupaya menyasar negara yang memiliki populasi serta kekayaan alam besar. Ada dua mekanisme yang sering digunakan. Yakni menggunakan dalih agama dan ekonomi.

“Indonesia populasi yang paling banyak apa? Muslim, dia akan mainkan itu. Negara yang mayoritas bukan Muslim, dia akan guncang ekonominya. Ada Brexit, ada apa dan segala macam itu. Kalau yang Muslim dia selalu main jumlah. Perhatikan dia selalu main angka,” kata Dharma.

Komjen Pol Dharma mencontohkan, aksi demonstrasi besar-besaran yang sering terjadi di Tanah Air. Dia menyebut, ada pihak-pihak yang berada di belakang aksi masa tersebut. Dengan cara itu, mereka membuat situasi sebuah negara menjadi tidak kondusif. Namun, dengan adanya persatuan yang kuat, cara-cara itu tidak akan pernah berhasil.

“Adanya demo pasti ada bohirnya (pemilik modal atau bandar yang membiayai). Jadi misalnya ada demo atau macam-macam, saya minta aparat jangan dihantam demonstrannya. Karena apa, dia cuma cari makan. Tangkap bohirnya kelar sudah perkara,” papar dia.

Untuk itu, lanjut Komjen Pol Dharma, ke depan BSSN akan menggandeng pesantren guna menanggulangi radikalisme. Saat ini, BSSN masih berusaha membangun konsep dalam menanggulangi penyebaran radikalisme. Dengan cara mengamati gerak langkah para pelaku penyebar paham radikal.

“(Untuk pensantren) Konsolidasi dulu, samakan konsep berpikir supaya pesantren di Indonesia semua sama. Kalau bergerak sendiri-sendiri itu akan kalah. Itu yang dimaui globalisasi. Supaya apa, kita terpecah-pecah. (Kerja sama dengan pesantren) itu otomatis ke depan akan kita lakukan,” kata Dharma. (AS/HIDAYATUNA.COM)