Zaman Imam Syafi’i, Peradaban Maju Telah Berkembang di Jawa

 Zaman Imam Syafi’i, Peradaban Maju Telah Berkembang di Jawa

Imam Abu Hanifah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Cendekiawan muslim Indonesia Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) melihat bahwa pada zaman keemasan ulama fikih Imam Syafi’i sekitar abad ke-9 M, ternyata situasi di Jawa sendiri telah berkembang peradaban maju. Membandingkan situasi sejarah pada masa lampau ini sudah menjadi kebiasaan unik Gus Ulil.

Hal itu ditandai pada zaman yang sama, di Jawa telah ditemukan aksara bahasa Kawi yang memiliki struktur yang rumit. Menurut Gus Ulil tingkat kerumitan struktur aksara bahasa Kawi ini menandakan bahwa kemajuan sebuah bangsa.

Dari aksara bahasa Kawi ini kemudian lahir karya-karya sastra Jawa yang monumental yang telah banyak dikaji para ilmuwan. Misalnya karya klasik “Kalangwan,” dan “Arjunawiwāha.”

“Saya selalu gemar membaca sejarah Jawa (tempat saya lahir) dan membandingkannya dengan peristiwa penting dalam sejarah pengetahuan Islam (yang saya pelajari di pesantren),” ungkap Gus Ulil melalui akun Twitter pribadinya @ulil, dikutip Rabu (8/9/2021).

Ia menambahkan misalnya begini, menurut buku-buku sejarah, bukti tertulis paling awal tentang adanya tulisan. Dalam bahasa Jawa Kuno atau Kawi adalah prasasti Sukabumi yang ada di daerah Kediri. Prasasti ini bertitimangsa (berangka tahun) 726 Saka, atau 804 Masehi.

“Angka ini bagi saya, punya makna penting. Tahun 804 adalah masa yang sezaman dengan tiga nama besar yang menjadi pendiri tiga mazhab fikih dalam Islam, yaitu Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i yang wafat pada 820 M,” jelasnya.

Masyarakat Jawa Wajib Tahu Fakta Sejarah Ini

Gus Ulil kemudian mengajukan pertanyaan lantas menandakan apa kese-zamanan ini? Menurutnya tergantung pada cara pandang yang dipakai masing-masing orang”.

“Adanya tulisan, apalagi dengan struktur yang rumit, menandakan adanya peradaban yang maju. Prasasti Sukabumi di Kediri itu bermakna: bahwa pada zaman Imam Syafi’i (yang mazhabnya belakangan banyak diikuti oleh Muslim nusantara itu), di Jawa telah berkembang peradaban yang maju,” jelasnya.

Gus Ulil menjelaskan Bahasa Kawi telah menjadi “blumbang” tempat menampung karya-karya sastra besar, seperti dikaji dan ditelaah oleh Zoetmulder dalam karya klasiknya, “Kalangwan,” atau I. Kuntara Wiryamartana dalam bukunya, “Arjunawiwāha.”

“Keduanya adalah romo Katolik,” sambungnya.

Untuk itu lanjut Gus Ulil, masyarakat santri Jawa sudah selayaknya mengetahui fakta-fakta sejarah seperti ini. Jika masyarakat pesantren Jawa mewarisi karya besar Imam Syafi’i, “al-Risalah” (pernah diajarkan Gus Dur pada saat bulan puasa puluhan tahun yang lalu), mereka juga punya tradisi sastra luhur juga.

“Tradisi sastra yang adiluhung itu direkam dalam bahasa Kawi yang jejak-jejak bahasa ini masih diwarisi masyarakat pesantren hingga sekarang. Sekian,” tandasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *