Wonokromo, Desa Santri di Masa Silam 

 Wonokromo, Desa Santri di Masa Silam 

Mama Ciwedus, Common Link Keulamaan dan Pesantren di Jawa Barat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di banyak daerah, kita mengenal sekian tempat bernama Wonokromo. Kita boleh menduga pemilihan nama Wonokromo itu dibanding dengan nama-nama lain memiliki tujuan dan atau sejarah tertentu.

Hanya saja warga yang mukim di kemudian hari luput tidak mencatatnya. Akhirnya Wonokromo tinggal nama dan sejarah yang runyam dengan berbagai tambahan bumbu di sana-sini. 

Di Yogyakarta ada juga nama Desa Wonokromo. Desa ini dulu menjadi desa yang digunakan untuk belajar agama saat Kerajaan Mataram Islam mulai bertahta. Desa ini juga menjadi desa beridentitas muslim taat setelah Kotagede dan Mlangi. 

Kotagede sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Di samping itu, Mlangi merupakan lokasi yang dipilih oleh Kiai Nur Iman untuk berzuhud dan mendalami ilmu-ilmu keagamaannya.

Keduanya, di samping Desa Wonokromo memiliki peran penting bagi maju-mundurnya Kerajaan Mataram Islam tempo dulu. Sebab bagaimana pun, raja di masa itu perlu nasihat, pertimbangan, saran masukan, dan restu dari para ulama.

Sejarah Wonokromo: Ada Peran Sultan dan Kiai

Pembabad Desa Wonokromo dikenal dengan nama Kiai Haji Muhammad Bafaqih. Masyarakat setempat sampai sekarang mengenalnya dengan nama Kiai Welit.

Sebelum dihuni rumah warga seperti sekarang ini, Desa Wonokromo merupakan hutan (alas) Awar-Awar. Hutan yang terletak di sebelah selatan Ketonggo yang sekarang menjadi bagian padukuhan Desa Wonokromo. 

Kiai Welit sendiri dulu pernah menjadi pengajar agama Islam Sultan Hamengkubuwono I. Maka dari itu, sultan memberinya hadiah tanah (sekarang Desa Wonokromo) sebagai tanda baktinya sebagai murid.

Pemberian ini bisa ditafsirkan bahwa, kontribusi Kiai Welit dalam pembentukan identitas keberislaman Sultan Hamengkubuwono I cukup besar. 

Ada juga cerita dari versi lain mengenai adanya Desa Wonokromo ini sendiri. Konon dulu ada tiga kiai: Kiai Pet dari Kotagede, Kiai Sakapura dari Blawong, dan Kiai Welit sendiri. Menjelang tengah malam, ketiga kiai ini rutin menunaikan mujahadah di pertemuan antara Sungai Gajah Wong dan Sungai Opak.

Sekali waktu usai menunaikan mujahadah, ketiganya berjalan menyusuri Sungai Opak dengan sampan yang terbuat dari batang pohon pisang. Penyusuran ini sampai ke muara Sowangan (Pantai Parangtritis).

Setelah sampai dan turun dari sampan, ketiga kiai tersebut menemukan peti yang berisi Alquran, emas berlian, dan linggis.

Keterlibatan Kiai dalam Sejarah Wonokromo

Menurut Muhammad Fuad Riyadi di bukunya berjudul Kampung Santri: Tatanan dari Tepi Sejarah (2001). Ketiga benda yang ditemukan dalam peti itu di kemudian hari menjadi penentu ruang dan ranah perjuangan ketiganya sebagai ulama.

Kiai Pet memilih emas berlian sehingga, anak keturunan dan ruang juangnya di Kotagede yang lebih condong pada perekonomian dengan basisnya sebagai pengrajin emas dan perak. Kemudian Kiai Sakapura memilih linggis. Maka ranah dakwahnya pada masyarakat yang bekerja keras, khususnya pekerja yang membuat sumur. 

Terakhir Kiai Welit memilih Alquran. Pemilihannya itu berimplikasi pada anak cucu keturunannya yang menjadi ulama, guru agama, dan semacamnya dengan basisnya di Desa Wonokromo. 

Setelah membangun perkampungan, Kiai Welit mendirikan masjid yang dilapor dan mintakan restu kepada sultan. Sultan lantas memberi sengkalan di bangunan masjid tersebut yang disebut nyata luhur panditaning Ratu.

Kiai Welit mungkin juga beranggapan bahwa dengan berdirinya masjid, umat Islam dapat berkumpul secara kolektif sehingga memudahkan untuk menuturkan ajaran-ajaran Islam. Strategi ini mirip dengan yang dilakukan Kanjeng Nabi Muhammad di masa awal kemunculan Islam. 

Di masa itu juga, status Desa Wonokromo menjadi desa perdikan. Desa yang tidak diwajibkan untuk membayar upeti kepada sultan.

Wonokromo Berasal dari Bahasa Arab

Di sisi lain, di buku Sejarah Islam Lokal (2008) garapan Imam Muhsin dkk., nama Wonokromo ini diambil dari bahasa Arab, wa ana karoma yang didefinisikan sebagai “upaya sungguh-sungguh saya menjadi orang mulia”. 

Salah satu ritual penting yang diselenggarakan di Desa Wonokromo ini adalah gelaran semacam pengajian yang ditunaikan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar atau disebut dengan rebu pungkasan. Ciri khas tradisi ini dengan membuat kue lemper oleh warga setempat. 

Bagi mereka, lemper ini menjadi simbol ajaran dari kalimat tauhid, meng-Esakan Allah karena kenikmatan ketika memakan kue lemper ada di dalam isinya. Maka kenikmatan dari kalimat tauhid itu terasa setelah memakan seluruhnya, bukan hanya sekadar mencicipi di lapis luarnya saja. 

Saya rasa beberapa puluh tahun mendatang, narasi Desa Wonokromo di Yogyakarta sebagai desa santri mungkin tinggal sayup-sayupnya saja. Mengingat pembangunan di Yogyakarta sendiri yang semakin masif disertai dengan masuknya berbagai budaya dan paham baru.

Mungkin juga narasi itu tetap terawat tidak hanya dengan ingat, tapi juga bertransformasi menjadi model kekinian dengan membawa ciri-ciri kesantriannya. Demikian. 

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa. Alumni Magister Studi Agama-agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *