Cancel Preloader

Warga Muslim Prancis Prihatin Atas Penutupan Masjid

 Warga Muslim Prancis Prihatin Atas Penutupan Masjid

Warga Prancis

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Seluruh warga muslim Prancis sedang berada dalam situasi prihatin. Ini menyusul penutupan Masjid Agung Pantin yang berada di luar Paris.

Penutupan masjid ini dilakukan oleh pemerintah Prancis menyusul pasca kasus pemenggalan kepala seorang guru. Di hadapan para muridnya, sang guru tersebut menunjukkan karikatur Nabi Muhammad.

Atas hal itulah penutupan Masjid Agung Pantin dilakukan. Pihak Prancis menjelaskan, penutupan dilakukan sebagai bagian dari tindakan keras terhadap Muslim, setelah insiden naas beberapa waktu lalu.

“Polisi menempelkan pemberitahuan tentang perintah penutupan di luar masjid. Pihak berwenang menyatakan tanggapan keras terhadap penyebar pesan kebencian, penceramah khotbah, dan orang asing yang diyakini menimbulkan ancaman keamanan bagi Prancis,” tulis laporan Huffpost, dikutip Rabu (21/10/2020).

Rencana penutupan akan dilakukan selama enam bulan ke depan. Aksi penutupan masjid ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah tindakan terorisme.

“Pemberitahuan itu dikeluarkan oleh kepala Departemen Seine-Saint-Denis,” sambungnya.

Otoritas Prancis menilai kasus pemenggalan kepala seorang guru diduga sebagai upaya untuk menolak kebebasan berekspresi. Dimana kebebasan tersebut disebut sebagai prinsip demokrasi yang dijunjung tinggi di Prancis.

Sementara itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron angkat suara soal kasus tersebut. Ia mengaku prihatin dengan apa yang dia sebut sebagai separatisme Islam.

“Ini upaya elemen-elemen musuh dalam komunitas Muslim besar Prancis untuk memaksakan keyakinan Islam konservatif atas nilai-nilai tradisional Republik Prancis,” ujar Macron.

Sebelumnya Masjid Agung Pantin telah membagikan video di halaman Facebook-nya. Video itu diunggah sebelum terjadi serangan yang menimpa guru sejarah Samuel Paty.

Kepala Masjid Pantin, M’hammed Henniche, menyatakan penyesalannya dengan membagikan video tersebut di media sosial, setelah diketahui Paty menjadi korban kampanye intimidasi secara daring bahkan sebelum dia dibunuh.

Dalam video tersebut, ayah seorang Muslim dari salah satu siswa Paty mengatakan, bahwa guru sejarah telah memilih siswa Muslim dan meminta mereka meninggalkan kelas sebelum menayangkan kartun tersebut. Dia menyebut Paty seorang preman dan mengatakan dia ingin gurunya disingkirkan.

Romandhon MK

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

nine + 20 =