Wali-wali yang Ketat Penghambaannya, Tak Pernah Tinggalkan Salat

 Wali-wali yang Ketat Penghambaannya, Tak Pernah Tinggalkan Salat

Doa dan zikir setelah salat fardhu (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Maulana Rumi itu orang yang tidak ‘ujug-ujug’ bicara cinta. Ia lahir dari keketatan penghambaan (baca, tidak malas salat).

Di berbagai kitab-kitab dan buku yang mengulas sang quthb cinta itu, sering diceritakan bagaimana ia tidak pernah turun dari sajadahnya. Tidak putus berpuasa setiap hari. Menjadi lucu bila hari ini orang-orang menjadikannya kambing yang sudah dikebiri.

Setelah itu, kambing itu ditunggangi untuk mengumandangkan ajaran cinta dalam pemaknaannya yang seksis, kolonialis, dan entertaining. Begitu pula Syekh al-Akbar Ibnu Arabi yang selalu saja dilekatkan dengan ajaran “agama cinta”. Namun, dalam pengertian agama yang lepas dari keketatan penghambaan.

Padahal yang dimaksud “agama cinta (din al-hubb)” oleh sang quthb ma’rifat itu adalah syariat Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Tentu dengan pelandasan pada ayat: qul in kuntum tuhibbunallaha fattabi’uni yuhbibkumullah. Dengan demikian, “agama cinta” itu sendiri adalah ittiba’ Kanjeng Nabi Saw. 

Orang-orang juga sering menyeret-nyeret Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar dalam kisah-kisah berbalut ajaran luhur asli pribumi. Namun, kedua wali besar itu dilepaskan dari bagaimana mereka terus-menerus mengetatkan diri dengan disiplin penghambaan dalam ketaatan pada syariat Kanjeng Nabi saw.

Wali yang Salat ke Mekkah

Dalam berbagai cerita tutur, kerap diceritakan ada banyak wali yang salat di atas daun pisang, di atas ranting pohon, atau pun di atas air. Lalu orang-orang melihatnya sebagai keajaiban saja. Tidak lain.

Padahal, peristiwa itu menunjukkan bahwa perbuatan ajaib semacam salat dalam keadaan yang tidak biasa itu semata-mata merupakan bukti betapa ketatnya mereka menjaga salat. Hingga dalam keadaan sedang terbang pun, mereka tetap menggelar sajadah. Meskipun cuma di atas daun pisang atau di atas ranting pohon atau di atas air. 

Dalam cerita tutur orang Jogja, Kiai Kategan diceritakan sebagai seorang wali yang menunaikan salat lima waktu ke Mekah. Kisah ajaib ini tentu menunjukkan betapa mati-matiannya Kiai Kategan untuk mengikat diri pada penghambaan.

Kasarnya, “Itu wali besar itu, kok rela mati-matian berjuang untuk bisa ikut berdiri salat di tempat yang dulu pernah setidaknya dilewati oleh Kanjeng Nabi Saw.” Padahal ia di Jogja, negeri yang jauh sekali dari Mekah.

Di zaman ini, kalau ada umat Kanjeng Nabi Saw masih sempat dan mau mengqadha salat, itu sudah syukur sekali. Udah untung. Wallahu a’lam.

Yaser Muhammad Arafat

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 + 9 =