Ekonomi dan SosialFikih
Trending

Viral! Kasus Perpeloncoan Unesa, Pelaku Zalim

HIDAYATUNA.COM – Setelah viral, ospek online mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menuai protes.

Dalam video yang tersebar di twitter, diduga terjadi perpeloncoan online oleh mahasiswa senior. Kasus ini merupakan praktik zalim.

Kasus perpeloncoan yang dialami mahasiswa baru Unesa mengingatkan warganet pada praktik zalim sebelumnya.

Sebelumnya, pada tahun 2010 MUI Jawa Timur pernah mengeluarkan fatwa haram. Hal itu karena perpeloncoan merupakan bentuk zalim.

“Kami beranggapan, lebih banyak mudharat-nya ketimbang manfaatnya,” kata Sekretaris MUI Jombang KH Junaidi Hidayat , dilansir Hidayatuna dari VOAIslam.

Rupanya mahasiswa senior Unesa tidak belajar dari kasus-kasus peloncoan sebelumnya. Pihak kampus pun tidak membenarkan tindakan tersebut.

Seperti dilansir dari SuaraJatim.id, Ketua Satuan Kehumasan Unesa, Vinda Maya Setianingrum mengatakan kampus sedang mengusut kasus tersebut.

Sejak viral di Twitter pada Senin malam, pihaknya kemudian berkoordinasi dengan pimpinan dan satuan pendidikan.

Hal itu dilakukan untuk mengidentifikasi kronologinya.

Ia juga membenarkan bahwa video yang tengah viral itu benar dari PKKMB pada Rabu (09/09/2020).

Vinda menjelaskan, pengawasan PKKBM secara detail diakui lebih sulit karena dilakukan secara daring.

Pihaknya juga menyayangkan kasus perpeloncoan ini.

Tradisi Perpeloncoan, Tradisi Zalim

Sejak kecil kita dididik untuk tidak menyakiti sesame, baik secara fisik, lisan maupun perasaan. Hal ini dikarenakan tindakan zalim.

Sayangnya tradisi di masyarakat kita, seperti perpeloncoan ini masih banyak terjadi.

Apalagi bagi mahasiswa yang merasa dirinya senior. Meski tidak semua mahasiswa demikian.

Tapi sebagian mahasiswa senior masih ada yang beranggapan bahwa membully atau pelonco itu adalah prestasi.

Alih-alih melatih mental, malah hal itu bisa memunculkan ketakutan. Mungkin orang yang dibentak, dizalimi secara fisik, tidak membalas.

Tapi dia juga manusia, sama seperti kita. Bagaimana jika dia sakit hati?

Baca Juga :  Pamer Harta Kekayaan di Media Sosial

Dibalik diamnya dia menangis. Sementara pelaku perpeloncoan atau bully justru menganggapnya lucu.

Bisa jadi rasa tidak terimanya itu dituntut ketika di akhirat. Allah berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.

Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak karena melihat siksa”. (QS. Ibrahim: 42).

Kasus perpeloncoan yang dilakukan saat ospek seharusnya menjadi refleksi.

Mendidik tidak harus membentak, tidak perlu membully, apalagi sampai menggunakan cara-cara kekerasan.

Orang yang terzalimi tidak ada batasan untuk doanya. Jika sewaktu-waktu ia marah dan mendoakan keburukan, maka doanya bisa menjadi mustajab.

Rasullah Saw. bersabda,

اتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Takutlah kalian terhadap doanya orang yang dizalimi karena tidak ada tabir antara dia dengan Allah. (HR. Bukhari 2448)

Viral karena kasus perpeloncoan bukanlah prestasi, melainkan bentuk kezaliman.

Kasus perpeloncoan ospek Unesa hendaknya menjadi pelajaran. Agar lahir generasi yang mengedepankan akhlak meski berwawasan luas.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close