Cancel Preloader

Ustaz Sukina Meninggal dan Nasib Doa yang Kita Kirimkan

 Ustaz Sukina Meninggal dan Nasib Doa yang Kita Kirimkan

Ustaz Sukina Meninggal dan Nasib Doa yang Kita Kirimkan

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Bertita wafatnya pimpinan pusat Majelis Tafsir Alquran (MTA), Ustaz Ahmad Sukina (25/02/21) tidak sedikit yang mengabarkannya. Ucapan-ucapan belasungkawa bertebaran di berbagai media sosial, misalnya FB, Twitter, IG, Whatsapp dan jejaring media sosial lainya. Tidak hanya dari kalangan MTA saja, melainkan dari berbagai kalangan lainnya.

Ya memang, eksistensi beliau begitu luar biasa. MTA di bawah kepemimpinananya sejak tahun 1992, berkembang begitu cepat.

MTA yang pada awalnya berdiri hanya berskala kecil atau lokal, kini di bawah kepemimpinannya MTA menjelma menjadi ormas yang sudah tersebar di berbagai tempat. Termasuk telah mendirikan beberapa lembaga sekolah juga.

Saya pun, salah satu orang dari kalangan NU juga memberikan ucapan belasungkawa sembari sedikit kirim doa melalui story Whatsapp. Tapi ternyata respon beberapa orang sungguh menggelitik, “gausah dikirim doa, gak teko” respon teman saya.

Ada lagi, saya melihat di FB misalnya, ada yang menuliskan status di FB yang isinya berbelasungkawa dan juga mendoakan beliau. Ternyata ada balasan yang serupa, begini balasanya “saya malah bingung mau kirim fatihah nopo mboten, takut yen gak nyampe, tapi mpun kajenge mugi pak ustad sukino husnul khotimah.”

Nah, berangkat dari itulah yang kini membuat saya ingin sedikit menjelaskan sekaligus mengajak pada kebaikan. Sebelum ke sana, ada baiknya kita kenali terlebih dahulu siapa Ustaz Sukina itu.

Siapa Ahmad Sukino?

Melansir dari laman Ibtimes.id (25/02/21) Ahmad Sukono lahir di Gawok, Sukoharjo pada 27 Oktober 1948. Ia belajar mengaji kepada kakeknya yang bernama Abdullah Manan, seorang aktivis Masyumi di Surakarta.

Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan di Surakarta. Di Perguruan Tinggi, ia menempuh pendidikan Tarbiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Setelah menamatkan pendidikan di UMS, ia menjadi guru di SD Muhammadiyah Kartasura selama tujuh tahun. Ia juga sempat mengajar di beberapa sekolah seperti SMPN 3 Kartasura, Sukoharjo, Pondok Pesantren AL Mukmin Ngruki Sukoharjo, MAN Sukoharjo, hingga SMA MTA Solo.

Ia mejadi ketua MTA setelah menggantikan ketua pertama sekaligus pendiri MTA, Ustaz Abdullah Thufail Saputra yang meninggal pada tahun 1992. Beliau adalah ustad yang sangat diidolakan oleh ustaz Ahmad Sukina, terbukti ia tidak pernah absen dalam menghadiri pengajian Ustaz Abdullah Thufail sejak tahun 1974.

Sampaikah Doa Kita?

Siapa sih yang tidak kenal dengan MTA, salah satu ormas yang dalam mengembangkan dakwahnya kental dengan gerakan purifikasi. MTA menekankan pada jargon kembali pada Quran dan Sunah serta meninggalkan segala bentuk sinkretisme dan ritual tradisi lokal dalam ibadah.

Banyak propaganda dari MTA atau ketidak percayaannya pada ritual-ritual doa yang menurut kacamata mereka tidak ada di dalam Alquran dan Sunah, seperti kirim doa kepada mayit misalnya.

Bisa dilihat di akun youtube MTA Garis Lucu (04/08/19), beliau mengatakan tidak ada manfaatnya, bacaan Alquran untuk mayit. Kata beliau, mayit tidak nggagas, tidak krungu, jadi gausah dibacakan, begitulah kira-kira.

Ini berarti, bahwa kepercayaan dalam kelompoknya, sebuah doa yang dikirimkan kepada mayit tidak akan sampai. Lalu, jika doa memang tidak sampai ataupun tidak manfaat pada mayit, mengapa mereka malah mensalatinya. Itulah menurut saya sebuah pemandangan yang amat unik, tampak tidak tuntas mengetahui sebuah ilmu.

Bukankah tujuan mensalati mayit adalah sebuah proses mendoakannya? Terbukti bahwa di dalam bacaan salat mayit ada sebuah doa untuk mayit sendiri.

Bisa kita lihat di dalam sebuah riwayat, diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan Abu Dawud dengan sanad Shahih.

Kira-kira artinya begini,”Tatkala Rasulullah Saw mensalati mayit, beliau berdoa: “Wahai Allah, berilah ampunan kepada orang yang hidup dari kami, yang mati dari kami, yang hadir dari kami, yang ghaib dari kami, yang mati dari kami, yang masih kecil dari kami, yang sudah dewasa dari kami, laki-laki dari kami dan perempuan dari kami.”

Rasulullah Saw Mendoakan Orang yang Meninggal Dunia

Begitu jelas, bukan, redaksi yang diberikan oleh Rasulullah Saw jelas-jelas mendoakan mayit. Kita pun bisa melihat di dalam Alquran dalam Surat al-Hasyr ayat 10, yang artinya begini.

“Dan orang yang datang sesudah mereka (muhajirin dan Anshar). Mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami.”

Nah, melihat dasar di atas, terlepas sampai atau tidak doa kita, sebagai orang yang beriman dan percaya atas doa-doa. Terlebih kita se-agama dengan beliau, tidak menjadi salah kalau pun kita mendoakannya.

Ya meski pun kelompok mereka tidak meyakini akan doa kita. Mari kira serahkan pada yang kuasa, sebab, semua di tangan Allah Swt. Wallahu A’lam bissowab. Semoga Almarhum husnul khotimah, Amiiin.

Rojif Mualim

Rojif Mualim

https://hidayatuna.com

Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengajar dan Peneliti, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eight + 5 =