Ustadz Rohidi Paparkan Bahayanya Ujaran Kebencian dan Hoax

 Ustadz Rohidi Paparkan Bahayanya Ujaran Kebencian dan Hoax

HIDAYATUNA.COM, Bekasi – Di Pendopo Kantor Kecamatan Mustikajaya, Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul (MWCNU), Kota Bekasi, Jawa Barat, Ustadz Rohidi mengungkapkan bahwa dulu termasuk orang yang tidak begitu suka dengan NU.

Meskipun demikian, dirinya tidak menjelaskan detail alasan tidak menyukai organisasi terbesar di Indonesia ini. Ia lantas bercerita awal mula perlahan kagum dengan NU. Isyarat untuk aktif dan menjaga NU muncul berawal dari pertemuannya dengan salah seorang ulama asal Banten, Abuya Muhtadi.

“Awalnya saya bertemu dengan Abuya Muhtadi Banten. Kemudian saya minta foto. Saat itu, beliau mengenakan jaket Banser. Menurut saya, itulah isyarat bagi saya, ke depan, harus ngurusin NU,” ungkapnya saat memperingati Hari Santri sekaligus tasyakur atas terselenggaranya Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI, Jumat (25/10/2019) malam.

Selain itu, ia juga menceritakan kalau kebencian dirinya terhadap NU cukup panjang. Tetapi, sering dengan perjalanan waktu, ia menyadari bahwa sumbernya adalah provokasi. Tak sedikit orang di sekelilingnya yang menggiringnya untuk benci kepada organisasi bentukan para ulama itu.

“Setelah saya belajar, ternyata saya salah. Saya akhirnya mulai belajar ke PBNU. Saya belajar banyak di sana, salah satunya adalah bahwa jangan mudah menerima berita di media. Saya sering termakan hoaks,” kenangnya.

Lebih lanjut, ia mengakui dengan perkembangan media informasi dan komunikasi memang sangat berdampak kepada pikiran dan sikap seseorang. Maka, ia meminta kepada masyarakat agar tidak mudah menerima dan menelan mentah-mentah informasi yang beredar.

“Harus dilakukan cek dan ricek kebenarannya dengan malakukan tabayyun terhadap orang yang dinilai memiliki kapasitas. Informasi yang kadang sengaja disebar oleh masyarakat beragam,” ungkapnya.

Dari ujaran kebencian dan hoaks, lanjutnya, sudah menyudutkan personal pengurus NU. Sementara yang cukup memprihatinkan adalah ujaran kebencian banyak dilakukan dengan bahasa-bahasa kasar.

“Tapi saya juga melawannya dengan lembut, tidak dibalas dengan kasar juga. Karena itulah yang diajarkan oleh para kiai NU. Saya sangat ngurus NU bukan karena nyari jabatan atau popularitas, tapi supaya saya diakui menjadi santri Mbah Hasyim. Itu bayaran terbesar bagi saya dalam mengurus NU,” tukasnya.

Hadir pada kesempatan ini masyarakat sekitar, pengurus MWCNU, lurah se-Kecamatan Mustikajaya, Kapolsek, Danramil, hingga Camat Mustikajaya, Gutus Hermawan. Tampak hadir, Mustasyar MWCNU Mustikajaya, KH Ahmad Iftah Sidik dan Habib Hasan Abdul Hadi Ba’abud. Di akhir sesi, Rais Syuriyah MWCNU Mustikajaya, Ustadz Rohidi membaiat Camat Mustikajaya, Gutus Hermawan menjadi Mustasyar MWCNU Mustikajaya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

six − one =