Upah Untuk Pekerja dan Tukang Jagal Hewan Kurban

 Upah Untuk Pekerja dan Tukang Jagal Hewan Kurban

Kemenag Kucurkan Dana (Ilustrasi/Hidaytauna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Upah untuk pekerja dan tukang jagal tidak boleh diambilkan dari daging kurban. Hal ini berdasarkan hadis berikut :

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: «أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا، وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا» قَالَ: «نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا» (رواه مسلم رقم 1317)

Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: “Saya diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk menyembelih unta kurbannya. Lalu menyedekahkan daging, kulit dan pelananya, dan aku tidak boleh memberi tukang jagal dari daging kurban itu sedikitpun. Nabi Saw berpesan: “Kita akan beri upah mereka secara terpisah.”

Larangan memberi daging kurban untuk tukang jagal atau pekerja itu maksudnya adalah kalau daging tersebut diberikan sebagai upah. Adapun kalau upah untuk pekerja atau tukang jagal sudah diberikan secara penuh. Maka mereka boleh diberikan daging kurban sebagai sedekah atau hadiah.

Imam Ibnu Hajar berkata:

الْمُرَادُ مَنْعُ عَطِيَّةِ الْجَزَّارِ مِنَ الْهَدْيِ عِوَضًا عَنْ أُجْرَتِهِ

“Yang dilarang adalah memberi tukang jagal dari daging kurban sebagai upah.”

Ia juga menukil pendapat Imam al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah :

وَأَمَّا إِذَا أَعْطَي أُجْرَتَهُ كَامِلَةً ثُمَّ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ إِذَا كَانَ فَقِيْرًا كَمَا يَتَصَدَّقُ عَلَى الْفُقَرَاءِ فَلاَ بَأْسَ بِذَلِكَ

“Kalau orang yang berkurban sudah memberi upah pekerja secara sempurna. Kemudian ia bersedekah pada tukang jagal (pekerja) kalau ia seorang yang fakir. Sebagaimana ia bersedekah kepada orang-orang fakir lainnya maka tidak apa-apa.” (Fathul Bari 3/556).

Imam Ibnu Daqiq al-‘Ied juga berkata :

أَمَّا إذَا أَعْطَى الْأُجْرَةَ خَارِجًا عَنْ اللَّحْمِ الْمُعْطَى وَكَانَ اللَّحْمُ زَائِدًا عَلَى الْأُجْرَةِ فَالْقِيَاسُ أَنْ يَجُوزَ

“Kalau pekerja sudah diberikan upah diluar dari daging yang diberikan, artinya daging tersebut merupakan bonus di luar dari upah. Maka secara qiyas hal itu boleh.” (Ihkam al-Ahkam 2/82)

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two × 4 =