Unik! Masjid Sarang Lebah Terinspirasi Surat An-Nahl

 Unik! Masjid Sarang Lebah Terinspirasi Surat An-Nahl

HIDAYATUNA.COM – Masjid yang unik karena menyerupai sarang lebah terinspirasi Surat An-Nahl berdiri di Sidoarjo. Masjid ini terletak di komplek perumahan Puri Surya Jaya memiliki nama resmi Masjid Al Ikhlas.

Sarang lebah menginspirasi sebagian besar elemen arsitektur yang digunakan pada bangunan ini. Mengapa menggunakan sarang lebah sebagai ide utama? Masjid ini memang mengambil dasar dari Al-Qur’an surat ke-16, ayat ke-68 dari An-Nahl, yang berbunyi: “Dan Tuhanmu diturunkan kepada lebah.”

Lebah adalah makhluk yang memberikan banyak perumpamaan, pro, dan manfaat bagi umat manusia. Masjid ini bertujuan untuk menjadi “madu” bagi lingkungan, tidak hanya “manis” secara fisik tetapi juga memberikan “manis” dalam konteks yang lebih luas kepada dunia.

Masjid masih berbasis kecerdasan Nusantara, dengan membuat lubang pada dinding yang memungkinkan aliran udara dari dalam ke luar, sehingga ruangan di dalam masjid menjadi lebih sejuk. Dinding berlubang ini terbuat dari blok ventilasi, yang mendominasi tampilan masjid secara keseluruhan. Di saat masjid-masjid lain berlomba-lomba menggunakan AC, Masjid Honeycomb ini tetap menganut paham bahwa masjid non-AC pun bisa nyaman bagi jemaah di dalamnya dengan mengaplikasikan dinding ala Nusantara.

Terakota dan sarang lebah (segi enam) adalah dua jenis blok ventilasi yang digunakan di masjid ini, yang dibuat khusus oleh pengrajin lokal di Buduran, Sidoarjo. Hal ini sebagai bentuk dukungan kepada perajin lokal untuk tetap bertahan dan bersaing di era global saat ini. Konsep bangunan panggung dan konsep payung keduanya diadaptasi dari Nusantara.

Konsep stilt building dilakukan dengan cara menarik dinding ground-level ke belakang, untuk memberikan efek ‘stilt’ pada lantai 2 dengan kolom-kolom yang menonjol di depan. Untuk memperkuat kesan, dinding blok ventilasi dibuat kontras: bagian bawah berwarna terakota, sedangkan bagian atas berwarna semen. Konsep payung dibuat dengan membuat tiang yang menerus ke atas, menopang atap berbentuk “payung besar” yang menaungi keberadaan bangunan masjid ini.

Selain itu, masjid ini secara konsisten mengedepankan konsep esensial jamaah, dunia sebagai entitas publik dan sosial, seperti halnya lebah, yang merupakan makhluk sosial dan pekerja keras, di mana tidak ada lebah yang hidup sendiri. Maka dari masjid ini, kami ingin membangun empati yang lebih luas kepada sesama manusia dan tetap fokus pada kegiatan keagamaan.

Tampilan paling dominan dari masjid ini adalah dinding berlubang berupa blok ventilasi berbentuk segi enam, mirip dengan sarang lebah. Masjid mendapatkan popularitasnya dari bentuk ini. Bentuk sarang lebah segi enam juga terulang di beberapa bagian masjid, misalnya di dinding utama sebagai orientasi ibadah jamaah, semakin memperkuat citra sarang lebah.

Masjid ini harus menghadap kiblat, sehingga tata letaknya seperti persegi yang posisinya agak miring dari situs, yang justru memanjang Barat-Timur. Terbentuknya kompromi serta komposisi antara garis sejajar dengan kiblat dan tapak, sehingga menghasilkan rencana dan tata ruang yang lebih dinamis. Sebagai empati terhadap penyandang disabilitas, masjid ini hadir dengan desain yang “ramah penyandang disabilitas”, dengan menyediakan ramp dan toilet bagi penyandang disabilitas laki-laki dan perempuan sehingga mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk mengakses masjid ini dan fasilitasnya.

 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × three =